Subscribe RSS
Showing posts with label Aqidah Kita. Show all posts
Showing posts with label Aqidah Kita. Show all posts

Sesungguhnya ilmu adalah agama, maka lihatlah

dari siapa kalian mengambil agama kalian.

(Ibnu Sirin)

Masih segar dalam ingatan kita, kisah-kisah indah pada saat mendapat nasihat agama. Tentunya memberikan dampak yang luar biasa. Hati yang keruh menjadi bersih, hati yang rusak berubah menjadi hati bening. Semuanya itu tersalurkan akibat seorang yang kita anggap “bergizi” dalam agama. Adalah penceramah, dia menyumbangkan hasil kaji agamanya telah merubah paradigma keberagamaan masyarakat. Sehingga pencermah betul-betul konsisten dalam berdakwah. Dan masyarakat harus menimba ilmu lebih banyak lagi.

Akan tetapi, fenomena belakangan ini, terjadi silang pendapat. Dari mana sebaiknya menimba ilmu? Sebab sudah banyak yang berpendapat! Katakanlah, fenomena ustas dan ustadz juga patut ditelusuri keberadaannya. Satu pihak memberikan pencerahan. Di pihak lain mengeruhkan keberagamaan seseorang. Karena itulah, apa sih defenisi 2 insan itu? Dan apa tujuan mereka?

“Ustas” sebuah kata yang mencakup makna luas dan mendasar, akhiran “s.” Anak-anak kecil sering memanggil orang dewasa yang ke masjid dengan sapaan ringan ini, “Pak Ustas.. Pak Ustas!” Sebagai orang berpenampilan agamis. Dia hanya menampilakan fisik agamis, tapi hakikatnya ada tendensi tertentu melakukan hal demikian.

Lain pula dengan Ustadz.

“Ustadz” secara etimologi dan leksikal bersal dari bahasa Parsi yang, sebagaimana sejumlah kata lainnya, mengalamai arabisasi dengan pengubahan “s” menjadi “dz” bagian akhir hurufnya. Secara etimologi adalah atribut yang disandang oleh seseorang yang memiliki kualifikasi maksimum dalam mengajarkan sbidang ilmu agama.

Secara populer “ustadz” “merupakan simbol kompetensi intelektual (akademis). Mereka adalah orang-orang berilmu agama sesuai fakta di lapangan.

Dalam bahasa Arab orang tersebut dinamakan Ulama.

Ibnu Juraij –rahimahullah- berkata, “Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia adalah orang alim.” (Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih, hal. 2/49)

Dilihat dari defenisi di atas, tentu harus ada pembeda antara para Ustadz dan Ustas. Secara umum ada 5:

  1. Ustadz adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.

Al-Hasan (ulama Timur) mengatakan: “Orang faqih (paham agama) adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.”

Hal demikian kontroversi dengan ustas, mereka justru berkebalikan. Lihat saja di lingkungan sekitar. Pasti terdapat banyak ustas, dia berlomba-lomba mencari kedudukan, ingin dipuji, dan sombong terhadap orang-orang disekitarnya. Semuanya terlaksana dengan “kostum” agamis untuk menipu masyarakat.

  1. Ustadz yaitu orang tidak berharap kepada dunia, tetapi cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya. Berbeda lagi ustas, mereka justru sangat kontroversi, dia cinta dunia dan tidak berharap akhirat. Bayangkan saja, ibadahnya dilaksanakan tatkala “pejabat-pejabat” memantaunya. Tapi, ketika bersendirian, laksana bunglon. Berubah warnalah dia, tidak beribadah lagi.
  2. Ustadz yakni orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah. Sungguh luar biasa ustadz ini, bagaimana dengan ustas? Mereka riya dengan ilmu (pamer) ilmu agamanya.
  3. Ustadz adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath (mengambil hukum) dan memahaminya.

Sebagaimana firman Allah, artinya, “Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkan kepada rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil hukum (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidak dengan karunia dan rahmat dari Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaithan kecuali sedikit saja.” (QS. An-Nisa: 83)

Sementara ustas, secara spontanitas “seenaknya” mengambil hukum sendiri. Mereka tidak bercermin kepada dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ditambahkan lagi, dia sendiri tidak paham tentang keputusannya itu.

  1. Ustadz adalah orang-orang yang tunduk dan khusyu’ dalam merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bagaimanakah dengan ustas? Dengan kepala di atas, malah dia melanggar perintah Allah, melaksanakan larangan Allah.


Karena itulah, ustadz bukan lagi simbol intelektualisme yang berbasis pada penguasaan agama. Melainkan ustadzlah yang memilikinya. Masyarakat Indonesia harus pandai dan cermat dalam mengambil ilmu agama sebagaimana perkataan Ibnu Sirin di atas.Ustas ini pandai memainkan perasaan, mengeksploitasi emosionalitas hadirin, terutama kaum ibu metropolitan mudah digoncangkan.

Mari kita renungkan kembali, kepada siapa mesti menimba ilmu yang kemudian akan diamalkan. Apalah artinya paham agama, tapi hakikatnya ilmu “ustas” yang semberono menyiasati hukum-hukum Islam. Ustas tidak takut lagi kepada Allah Sang Pencipta dan Pengatur Semesta Alam ini.

Padahal jika mereka mau, maka dengarkan firman Allah, artinya:

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama (ustadz).” (QS. Fathir: 28)

Category: | 0 Comments

“Semua mengaku telah meraih tangan Laila

tapi Laila tidak mengakui yang demikian itu.”

Tragis memang, di masa kontemporer ini semakirn merebak fenomena perpecahan ummat Islam. Entah siapa yang mesti kita benarkan dan salahkan? Semuanya memiliki jawaban “manis” untuk mempertahankan argumentasinya. Tapi apakah jawaban manis itu diakui keabsahannya?

Katakanlah banyaknya kasus terorisme, bom bali pada 12 Oktober 2002 di Legian Bali, bom pada tanggal 5 Agustus 2003 di Hotel JW Marriott, dll yang -gosipnya- tertuju pada masyarakat Islam. Benarkah demikian? Bahwa Islam yang dinyatakan sebagai agama rahamatallil ‘alamin sebagai pemicu kericuhan di tengah manusia? Salahkah jika sekiranya kita melakukan penelulusan apa sebenarnya faktor “perangsang” terjadinya fenomena ini?

Mari kita “flash back” apa itu Islam tidak sempurnya?

Jawaban pasti, Islam adalah agama yang sempurnya, Allah berfirman, artinya:

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah kusempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian." (Al Maidah : 3)

Nah, berbicara tentang Islam, maka tentu kita akan kembali kepada sejarah munculnya agama sempurna ini.

Toh, kita akan bersatu bahwa Islam “ditenteng” oleh sang pelopor yaitu Rasulullah Shallallu ‘alaihi wa sallam. Setelah Nabi mulia ini diberi amanah oleh Allah Subhana Wa Ta’ala tentu mendapatkan mandat agar disampaikan kepada umat manusia.

Umat manusia di zaman Rasulullah disebut sebagai sahabat Rasul, seperti para Khalifah Rasyidin: Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dan masih banyak dari sahabat-sahabat Nabi yang mendapatkan ajaran Islam. Nah, setelah para sahabat Nabi meninggal, maka datanglah generasi yang baru disebut sebagai tabi’in (murid-murid para sahabat). Kemudian, ketika tabi’in meninggal, maka datang lagi generasi pelanjut disebut tabi'ut tabi'in (murid-murid para Tabi’in).

Mereka inilah penegak adanya Islam hingga sampai ke kita. Tiga generasi yang memperjuangkan Islam ke seluruh pelosok dunia. Dan penyebutan bahasa arab bagi pendahulu-pendahulu itu disebut sebagai “salaf.”

Semua generasi tersebut telah mendapat pengakuan dari Rasulullah.

Rasulullah Shallallahu 'alahi wa alihi wa sallam menyatakan:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat) kemudian generasi setelahnya (tabi’in) kemudian generasi setelahnya (tabi’ut tabi’in)”. (Al-Hadits)

Dan perlu diketahui, ketika Rasulullah telah mengakui peran dan “pedoman” para salaf, maka sewajib-wajibnya kita melakukan aktivitas berdasarkan contoh panutan tersebut. Yakin dan percaya –insya Alloh- kita akan selamat.

Allah telah menjamin dalam firmannya, arinya:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Jelas sekali bahwa orang-orang yang pertama masuk Islam tentunya para sahabat. Mereka adalah salaf. Oleh karena itu, kembali merujuk kepada sumber Islam, kembali berkaca pada tindak-tanduk panutan, maka itu sumber kemenangan.

Dan sangat mudah kita melacak fenomena-fenomena rancu yang terjadi pada masyarakat. Kegelisahan dalam mengambil keputusan syari’at pun demikian sangat mudah. Tinggal bagaimana kita “mencocokkan” apakah fenomena dan keputusan itu selaras dengan pemikiran para salaf kita.

Ambil contoh kasus pengeboman. Imam Samudra dan orang-orang yang melakukan tindakan yang sama sepertinya, mereka menghancurkan dan melukai diri mereka dengan memasang bom di tubuh, dengan bom mobil, atau cara lainnya. Apakah itu berasal dari Islam? Ataukan hanya Islam berlogo “salah”?

Pertama, melihat gerak-gerik mereka ternyata sumbernya adalah mereka menjastifikasi yang dibom yakni orang kafir, maka berhak dibom, musuh-musuh Islam.

Baik, pendapat yang -logis- bagi akal yang kaku. Tapi ketahuilah bahwa kafir di Indonesia itu jenisnya adalah kafir musta’man. Artinya yaitu orang di luar Islam yang mendapat jaminan keamanan dari kaum muslimin atau sebagian kaum muslimin. Kafir jenis ini juga tidak boleh dibunuh.

Dalam hadits ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu (salaf), Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menegaskan:

“Dzimmah (janji, jaminan keamanan dan tanggung jawab) kaum muslimin itu satu, diusahakan oleh orang yang paling bawah (sekalipun)”. (HR. Bukhari-Muslim).

Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah: “Yang diinginkan dengan dzimmah di sini adalah aman (jaminam keamanan). Maknanya bahwa aman kaum muslimin kepada orang kafir itu adalah sah (diakui), maka siapa yang diberikan kepadanya aman dari seorang muslim maka haram atas (muslim) yang lainnya mengganggunya sepanjang ia masih berada dalam amannya".

Oleh karena itu, tidak benar bahkan yang tepatnya salah bagi mereka pelaku bom-bom tanpa mengikuti jejak pemahaman para salaf. Andaikata mereka Islam “benar”, maka tidak mungkin bahkan mustahil akan melakukan aktivitas bodoh ini.

Sungguh, solusi terbaik dari kerancuan-kerancuan pemikiran adalah dengan berbaliknya kita kepada sumber pembawa Islam, yaitu para salaf. Kebenaran akan diterangkan oleh para pendahulu kita dan kesalahan pun akan diterangkan olehnya sepanjang kita masih mau melirik pemahaman mereka. Sehingga dengan maraknya perpecahan akan bisa tersolusikan, insya Allah kita akan kembali ke masa kejayaan, dan tidak menjadi Islam yang salah!

Category: | 0 Comments



D’ Love



 



Judul di atas terdiri dari 5 kata. Kata
yang terdiri dari 2 vokal (o & e) dan 3 konsonan (d, l, & v). Totalnya
5 kata, plus 1 tanda koma ‘di atas’. Kata ini lumrah dipakai pada media-media
sebagai bahan ketertarikan publik. Tetapi jarang orang memahami makna dari
karakter kata itu. Apakah sebenarnya makna dari 5 kata yang misterius itu?
Sepakat kita bahwa sebagai warga Indonesia yang memiliki tipikal lingua yaitu
bahasa Indonesia bertentangan dengan lingua Inggris.



Lingua Inggris yang
berasal dari mantan penjajah Indonesia tentu diskriminasi dengn bahasa kita.



Lalu bagaimana cara menginterpretasikan
kata di atas? Apa lagi, ada tanda koma di atas setelah huruf D besar itu!



Cara yang paling identik untuk
menerjemahkan kata ini adalah dengan 2 cara.



 



1.     

Tentu
dengan kamus bahasa Inggris,



2.     
Ini
cara yang paling mudah jika Anda di depan komputer membaca artikel ini. Yaitu
dengan menggunakan program Transtool.



Program kontemporer menandung sejuta mafhsadah/manfaat.



 



Wahlasil, setelah kita mengetik 1 per 1
kata di atas. Maka akan nampak arti Cintai. Berarti metafora dengan mencintai. Asal
kata mencintai sebelum mendapat imbuhan prefiks me- dan afiks –i adalah cinta.



 



Cinta inilah merupakan kata yang paling banyak dibicarakan
manusia. Setiap
insan yang normal
memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta,
anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran
utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah
cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.





Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf
tersusun secara hierarki horizontal: <<CINTA>>. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk
mendefinisikannya. Terlebih untuk
menggubris
hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar
dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan
gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama
suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang
dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup
bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.



 



Demikianlah
bila kebodohan telah melanda kehidupan dan kebenaran tidak lagi menjadi tolok
ukur. Dalam keadaan seperti ini, setan tampil mengibarkan benderanya dan
menabuh genderang penyesatan dengan mengangkat cinta sebagai landasan bagi
pembolehan terhadap segala yang dilarang Alloh dan Rosul-Nya Muhammad . Alloh
berfirman yang artinya:



 



“Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak,
harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang
ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alloh-lah
tempat kembali yang baik.”



(Ali ‘Imran: 14)



 



 



Rosululloh 
dalam haditsnya dari shahabat Tsauban  mengatakan
yang artinya
:



‘Hampir-hampir orang-orang kafir
mengerumuni kalian sebagaimana berkerumunnya di atas sebuah tempayan.’
Seseorang berkata: ‘Wahai Rosululloh, apakah jumlah kita saat itu sangat
sedikit?’ Rosululloh  berkata: ‘Bahkan kalian saat itu banyak akan tetapi
kalian bagaikan buih di atas air. Dan Alloh benar-benar akan mencabut rasa
ketakutan dari hati musuh kalian dan benar-benar Alloh akan campakkan ke dalam
hati kalian (penyakit) al-wahn.’ Seseorang bertanya: ‘Apakah yang dimaksud
dengan al-wahn wahai Rosululloh?’ Rosululloh  menjawab: ‘Cinta dunia dan
takut mati.’



(HR. Abu Dawud no. 4297, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3610)



 



Asy-Syaikh
‘Abdurrahman As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan
, artinya
:



“Alloh
memberitakan dalam dua ayat ini (Ali ‘Imran: 13-14) tentang keadaan manusia
kaitannya dengan masalah lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat, dan Alloh
menjelaskan perbedaan yang besar antara dua negeri tersebut. Alloh 
memberitakan bahwa hal-hal tersebut (syahwat, wanita, anak-anak, dsb) dihiaskan
kepada manusia sehingga membelalakkan pandangan mereka dan menancapkannya di
dalam hati-hati mereka, semuanya berakhir kepada segala bentuk kelezatan jiwa.
Sebagian besar condong kepada perhiasan dunia tersebut dan menjadikannya
sebagai tujuan terbesar dari cita-cita, cinta dan ilmu mereka. Padahal semua
itu adalah perhiasan yang sedikit dan akan hilang dalam waktu yang sangat
cepat.”






Definisi Cinta



 



Untuk
mendefinisikan cinta sangatlah sulit, karena tidak bisa dijangkau dengan
kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata. Ibnul Qayyim
ber-statemen
:



 



“Cinta tidak bisa
didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan
(sesuatu) melainkan menambah kabur dan tidak jelas, (berarti) definisinya
adalah adanya cinta itu sendiri.”



(Madarijus
Salikin, 3/9)



 



Hakikat Cinta



 



Cinta
adalah sebuah amalan hati yang akan terwujud dalam (amalan) lahiriah. Apabila
cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Alloh, maka ia akan menjadi
ibadah. Dan sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi
perbuatan maksiat. Berarti jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila
keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Alloh
yaitu kesyirikan.






Cinta kepada Alloh



 



Cinta
yang dibangun karena Alloh akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan
berharga. Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (3/22) berkata: ”Sebagian salaf
mengatakan bahwa suatu kaum telah mengaku cinta kepada Alloh lalu Alloh
menurunkan ayat ujian kepada mereka:





“Katakanlah: jika kalian cinta
kepada Alloh maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian.” (Ali
‘Imran: 31)



 



Mereka
(sebagian salaf) berkata: “(firman Alloh) ‘Niscaya Alloh akan mencintai
kalian’, ini adalah isyarat tentang bukti kecintaan tersebut dan buah serta
faidahnya. Bukti dan tanda (cinta kepada Alloh) adalah mengikuti Rosululloh ,
faidah dan buahnya adalah kecintaan Alloh kepada kalian. Jika kalian tidak
mengikuti Rosululloh  maka kecintaan Alloh kepada kalian tidak akan
terwujud dan akan hilang.”


Bila demikian keadaannya, maka mendasarkan cinta kepada orang
lain karena-Nya tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi Alloh. Rosululloh 
bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik
yang artinya:



 



“Tiga hal yang barangsiapa
ketiganya ada pada dirinya, niscaya dia akan mendapatkan manisnya iman.
Hendaklah Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan
hendaklah dia mencintai seseorang dan tidaklah dia mencintainya melainkan
karena Alloh, dan hendaklah dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Alloh
selamatkan dia dari kekufuran itu sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke
dalam neraka.”



(HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim
no. 43)



 



Ibnul
Qayyim mengatakan bahwa di antara sebab-sebab adanya cinta (kepada Alloh) ada
sepuluh perkara:




  • Membaca Al Qur’an, menggali, dan memahami
    makna-maknanya serta apa yang dimaukannya.


  • Mendekatkan diri kepada Alloh dengan amalan-amalan
    sunnah setelah amalan wajib.

  • Terus-menerus berdzikir dalam setiap keadaan.

  • Mengutamakan kecintaan Alloh di atas kecintaanmu
    ketika bergejolaknya nafsu.

  • Hati yang selalu menggali nama-nama dan
    sifat-sifat Alloh, menyaksikan dan mengetahuinya.

  • Menyaksikan kebaikan-kebaikan Alloh dan segala
    nikmat-Nya.


  • Tunduknya hati di hadapan Alloh .

  • Berkhalwat (menyendiri dalam bermunajat)
    bersama-Nya ketika Alloh turun (ke langit dunia).

  • Duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat
    cinta dan jujur.

  • Menjauhkan segala sebab-sebab yang akan
    menghalangi hati dari Alloh .



(Madarijus Salikin, 3/18, dengan ringkas)





Cinta adalah Ibadah



 



Sebagaimana
telah lewat, cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki
kedudukan tinggi dalam agama sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Alloh
berfirman yang artinya:





“Tetapi Alloh menjadikan kamu
cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat:
7)





“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Alloh.”
(Al-Baqarah: 165)





“Maka Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai
mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)



 



Adapun
dalil dari hadits Rosululloh  adalah hadits Anas yang telah disebut di
atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim
yang
artinya
:



 



“Hendaklah Alloh dan Rosul-Nya
lebih dia cintai daripada selain keduanya.”



 



Macam-macam cinta



 



Di
antara para ulama ada yang membagi cinta menjadi dua bagian dan ada yang
membaginya menjadi empat. Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani dalam
kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid (hal. 114) menyatakan bahwa cinta ada
empat macam:



 



Pertama, cinta ibadah.



Yaitu
mencintai Alloh dan apa-apa yang dicintai-Nya, dengan dalil ayat dan hadits di
atas.



 



Kedua, cinta syirik.



Yaitu
mencintai Alloh dan juga selain-Nya. Alloh berfirman
yang
artinya
:





“Dan di antara manusia ada yang
menjadikan selain Alloh sebagai tandingan-tandingan (bagi Alloh), mereka
mencintai tandingan-tandingan tersebut seperti cinta mereka kepada Alloh.”
(Al-Baqarah: 165
)






Ketiga, cinta maksiat.



Yaitu
cinta yang akan menyebabkan seseorang melaksanakan apa yang diharamkan Alloh
dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya. Alloh berfirman

yang artinya
:





“Dan kalian
mencintai harta benda dengan kecintaan yang sangat.” (Al-Fajr: 20)



 



Keempat, cinta tabiat.



Seperti
cinta kepada anak, keluarga, diri, harta dan perkara lain yang dibolehkan.
Namun tetap cinta ini sebatas cinta tabiat. Alloh berfirman yang artinya:



 



“Ketika mereka (saudara-saudara Yusuf
‘alaihis salam) berkata: ‘Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh bapak kita
daripada kita.”



(Yusuf: 8)



 



Jika
cinta tabiat ini menyebabkan kita tersibukkan dan lalai dari ketaatan kepada Alloh
sehingga meninggalkan kewajiban-kewajiban, maka berubahlah menjadi cinta maksiat.
Bila cinta tabiat ini menyebabkan kita lebih cinta kepada benda-benda tersebut
sehingga sama seperti cinta kita kepada Alloh atau bahkan lebih, maka cinta
tabiat ini berubah menjadi cinta syirik.





Buah cinta



 



Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah  mengatakan
, artinya
:



 



“Ketahuilah
bahwa yang menggerakkan hati menuju Alloh ada tiga perkara: cinta, takut, dan
harapan. Dan yang paling kuat adalah cinta, dan cinta itu sendiri merupakan
tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.”



(Majmu’
Fatawa, 1/95)



 



Asy-Syaikh
‘Abdurrahman As-Sa’di  menyatakan
, artinya
:



 



“Dasar tauhid dan
ruhnya adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Alloh. Cinta merupakan
landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya, bahkan cinta itu merupakan
hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba
kepada Rabbnya juga sempurna.” (Al-Qaulus Sadid, hal. 110)



 



Bila
kita ditanya bagaimana hukumnya cinta kepada selain Alloh? Maka kita tidak
boleh mengatakan haram dengan spontan atau mengatakan boleh secara global, akan
tetapi jawabannya perlu dirinci.



Pertama,
bila dia mencintai selain Alloh lebih besar atau sama dengan cintanya kepada Alloh
maka ini adalah cinta syirik, hukumnya jelas haram.



Kedua,
bila dengan cinta kepada selain Alloh menyebabkan kita terjatuh dalam maksiat
maka cinta ini adalah cinta maksiat, hukumnya haram.



Ketiga,
bila merupakan cinta tabiat maka yang seperti ini diperbolehkan.



 



Now,
apakah makna tersirat dari D’ Love setelah menelaah secara mendalam
sampai kening begitu ‘kerut’ memahami CINTA>>>???



 



D’ Love

adalah D’ + CINTA. Berinterpretasi jika kata mendapatkan tambahan huruf, maka
semakin dalam kata yang baru dilahirkan itu. Itulah tambahan D’ berarti: Mencintai. Mungkin!!!



 



WAllohu a’lam.






Photobucket

Category: | 0 Comments

Malam itu, saya tidur agak lebih cepat. Dalam rangka dapat menonton final Piala Dunia 2010. Tiba-tiba terdengar suara dering telepon pada saat tertidur nyenyak, dering itu tidak bisa mengalahkan rasa kantuk saya. Kemudian terdengar kembali suara dering telepon. Suara inilah yang terakhir, lalu dapat membuat saya terbangun. Ternyata saya teringat bahwa kemarin itu, paman sudah berjanji akan membangunkan dari lelap tidur untuk nonton bareng piala dunia di rumahnya. Rumahnya tepat berada di belakang rumah saya.
Televisi yang berukuran 35 x 30 cm menjadi mediator untuk menonton final Piala Dunia waktu itu. Televisi ini milik Paman yang sudah cukup lama bertahan alias kassa’ (bahasa makassar yang artinya kuat). Saya kemudian menyaksikan pertandingan menegangkan itu hingga selesai, yang berujung pada kekalahan Belanda 1-0 terhadap Spanyol. Walhasil, Belanda –mantan penjajah Indonesia ini- menelan pil pahit, pulang ke negeri asal dengan merangkaul juara 2 pada Piala Dunia 2010.


Keberhasilan Spanyol dan Kekalahan Belanda memberikan dampak yang cukup signifikan bagi banyak orang. Piala Dunia telah memberikan kontribusi luar biasa bagi semua bangsa/negara.
Terlihat gemerlap semangat dan ambisi bermain bola mulai dari kalangan bocah sampai kalangan tua. Juga perabotan rumah pun dihiasi dengan aksesoris “Bola”, ada yang berupa bantal, hiasan rumah, dll. Ini menunjukkan bahwa damapak dari pestapora “World Cup 2010” begitu membekas.
Tapi, ada satu pertandingan lagi yang bagi kita belum mencapai finish dan pertandingan itu merupakan pertandingan spektakuler, kenapa bisa? Karena meskipun kita tidak mendaftar, ternyata nama-nama kita sudah menjadi bagian dari pemain. Bukan hanya negara yang terseleksi dari benua masing-masing yang bisa ikut, akan tetapi juga semua yang gagal maupun lulus bisa ikut dalam pertandingan ini. Pertandingan yang tidak ditentukan waktu dan tempatnya. Personil dari pertandingan ini bukan berbentuk grup, melainkah perorangan. Setiap orang berlaga memperebutkan juara, baik pemainnya pria maupun wanita juga bisa. Tetapi juara apa yang akan diperoleh bagi sang pemenang? Apakah berbentuk piala berbahan emas, perak, atau perunggu? Oh,… ternyata bukan. Piala Akhirat adalah berbentuk tempat tinggal dan tempat tinggal itu dinamai “Surga” dan bagi orang yang kalah dari pertandingan ini juga mendapatkan fasilitas tempat yang dinamai “Neraka”.
Pemain yang menang berhak membuka pintu “Surga” itu. Tapi ingat, semua pintu harus memiliki kunci dulu untuk membukanya. Apa kunci itu?
Bagi yang merindukan kemenangan untuk mendapatkan “surga”, tentu kita akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.
Tetapi kita tak perlu gelisah, Nabi Muhammad -Shollallohu 'Alaihi Wasallam-telah membeikan petunjuk bagi para pemain apa kunci surga itu. Sebagaimana hal ini diterangkan dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda (yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “ (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih). Ini adalah kunci bagi pemenang Piala Akhirat.
Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illalloh, kalimat Tauhid yang begitu kerapkali kita ucapkan dan yakini. Namun, semudah itukah pintu surga kita buka? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Alloh, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga? Tidak mungkin !
Ketahuilah yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illalloh itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh pemain yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109) bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H) : “Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga ? “Wahab menjawab : “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.
Lalu apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illalloh itu? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illalloh itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illalloh!
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illalloh itu ada delapan, yaitu :
Pertama :
Al-‘Ilmu (mengetahui), maksudnya adalah kita harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illalloh secara benar. Adapun artinya adalah : “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh”. Rosululloh -Shollallohu ‘Alaihi Wasallam-bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh, niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Seandainya kita mengucapkan kalimat tersebut, tetapi kita tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.
Kedua :
Al-Yaqiinu (meyakini), maksudnya adalah kita harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rosululloh -Shollallohu ‘Alaihi Wasallam-bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Alloh dan aku adalah utusan Alloh. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Alloh sembari membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.
(HR. Muslim).
Ketiga :
Al-Qobulu (manerima), maksudnya kita harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Kita tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an (yang artinya):
“Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “(QS. As-Shoffat : 35-36).
Keempat :
Al-Inqiyaadu (tunduk atau patuh), maksudnya kita harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illalloh dalam amal-amal nyata. Alloh subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Kembalilah ke jalan Tuhanmua, dan tunduklah kepada-Nya. “(QS. Az-Zumar : 54).
Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya):
“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh). “(QS. Luqman : 22). Makna “menyerahkan dirinya kepada Alloh” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya.
Kelima :
Ash-Shidqu (jujur atau benar), maksudnya kita harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai kebohongan sedikitpun. Nabi SholAllohu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Alloh dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Alloh mengharamkan neraka atasnya. “(HR. Imam Bukhori dan Muslim).
Keenam :
Al-Ikhlas (ikhlas atau murni), maksudnya kita harus membersihkan amalan kita dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi -Shollallohu ‘Alaihi Wasallam-bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Alloh Azza wa Jalla. “(HR. Imam Bukhori dan Muslim).
Ketujuh :
Al-Mahabbah (mencintai), maksudnya kita harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Alloh yang di cintai layaknya mencintai Alloh. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Alloh diatas segala-galanya). “(QS. Al-Baqarah : 165).
Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Alloh dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Alloh dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illalloh.
Kedelapan :
Al-Kufru bimaa siwaahu (mengingkari sesembahan yang lainnya), maksudnya kita harus mengingkari segala sesembahan selain Alloh, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga kita harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Alloh itu batil dan tidak pantas disembah-sembah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Alloh) dan hanya beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh), yang tidak akan putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).
Saudaraku para pemain “Piala Akhirat”, dari sini dapatlah kita ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah wahai pemain!
Akhir kalimat, demikianlah kriteria Piala Akhirat yang akan kita perebutkan. Dengan sebuah harapan dapat mendorong kita untuk selalu berpacu dalam beramal shalih. Tuk meraih tamasya “Surga” yang hakiki yang penuh dengan kenikmatan yang abadi.
Nyata bagi kita, semoga kita tidak menjadi peserta yang kalah dalam liga “Piala Akhirat”. Sebab bagi mereka yang kalah tempatnya di Neraka. Naudzubillah. Berikut kami kutip do'a memohon dimasukkan ke Surga dan dijauhkan dari Neraka:
Diriwayatkan dari Ummul Mukminin 'Aisyah, bahwasanya Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- berdo'a (yang artinya): "Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kepada-Mu al jannah (surga) beserta segala sesuatu yang bisa mendekatkan kepadanya dari perkataan dan perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari an nar (neraka) beserta segala sesuatu yang bisa mendekatkan kepadanya dari perkataan dan perbuatan". (HR. Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.1542)
Amien, Ya Robbal 'alamin.
Photobucket

Category: | 0 Comments

Hewan ini, merupakan simbolitas dari beberapa buku diantaranya buku yang menghujat pemerintahan Indonesia, “Gurita Cikeas”. Buku yang sangat menyedihkan dan isinya hanya sekedar sampah, kenapa? Disebabkan banyaknya hujatan kepada Pemerintahan kita, yaitu Bapak SBY.


Sementara barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak (baik dari kritikan buku, Koran, dll) kepada penguasanya (SBY) maka matinya mati jahiliyyah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Alloh seperti keadaan orang-orang jahiliyyah.(Lihat ucapan Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim)
Tapi, dalam pembahasan kita kali ini kita tidak membahas buku tersebut. Melainkan hanya berkisar “SI Gurita Jerman.” Siapakah dia?
Gurita, sebuah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.
Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa.
Dia memiliki banyak kekurangan, diantaranya dalam keadaan stress akan memakan lengan-lengannya sendiri.
Paul “Si Gurita” telah menjadi artis hot yang paling populer di Oberhausen, kota, yang menurut Wikipedia, berpenduduk 214.000 jiwa dan luasnya 77 kilometer persegi.
Konon kabarnya, dia memberikan kontribusi yang besar dalam memprediksi pertandingan-pertandingan di piala dunia 2010. Hasil prediksinya sangat akurat, bahkan 100%. Betulkan demikian?
Ternyata tidak, ternyata ketika prediksi PIALA EROPA, dia memiliki kesalahan, ketika memprediksi pertandingan antara Jerman vs Spanyol. Ini membuktikan bahwa hewan itu bukan TUHAN. Tidak dapat mengetahui perkara goib. Tidak ada yang mengetahui melainkan Alloh subhanahu wa ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu” (QS. Al Jin : 26)
Kali ini Paul memprediksi final World Cup 2010 atas kemenangan Spanyol. Perlu diketahui tulisan ini bukan berarti kami mendukung Belanda, tapi disebabkan banyaknya kerusakan yang ditimbulkan akibat prediksinya, yaitu merusak aqidah.
Kami hanya menyukai Aljazair, tapi Aljazair juga membawa dampak buruk, yaitu mereka memperlihatkan AURATnya.
Berita Paul Si Gurita tentu berita dari Syaiton, maka tidak boleh dipercaya. Karena dampaknya besar.
Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan meminta untuk mengabarkan sesuatu, kemudian ia membenarkan perkataannya maka tidak diterima shalatnya 40 hari”[ HR. Muslim [2230] tanpa lafadz “..kemudian ia membenarkan perkataannya..” Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala menjelaskan makna “tidak diterima shalatnya” dengan “tidak diberi pahala shalatnya”. Sehingga shalat tetap wajib bagi orang tersebut. Wallohu a’lam. (lihat Al Mulakhash fi Syarh Kitab At Tauhid hal. 213 cet. Darul Ashimah)]
Hukum Mendatangi Si Paul
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala berkata barangsiapa yang bertanya kepada tukang ramal (Si Paul), maka shalatnya tidak akan diterima 40 hari.
Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Alloh” (QS. An Naml : 65).
[Al Qoulul Mufid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, I/332, cet. Darul Aqidah]
Bukan Paul Si Gurita yang Mengetahui, Tapi Hanya Alloh yang Mengetahui Perkara Ghaib
Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu” (QS. Al Jin : 26)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu ta’ala menjelaskan, “Sesungguhnya hanya Alloh Ta’ala saja yang mengetahui perkara ghaib, maka barangsiapa yang mengaku mengetahui perkara ghaib maka ia telah menjadi sekutu bagi Alloh, baik berupa perdukunan, ramalan, dan sejenisnya. Atau barangsiapa yang membenarkan perkataan tersebut maka ia telah menjadikan sekutu bagi Alloh dalam kekhususan-Nya, dan ia telah mendustakan Alloh dan Rasul-Nya.[ Al Qoulus Sadiid fi Maqashid At Tauhid hal. 80, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy, cet. Darul Aqidah]
Nasehat Bagi Penggemar Paul “Si Gurita”
Ketahuilah wahai saudaraku bahwa mempercayai hal ini merupakan wasilah kekafiran. Dan kekafiran adalah dosa yang Alloh tidak ampuni karena itu adalah sinonim dari SYIRIK dan Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia berkenan mengampuni dosa lain di bawah tingkatan syirik bagi orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’ : 116).
Tentu saja hal ini menunjukkan kepada kita bahwa praktik syrik atas prediksi hewan atau dukun merupakan penyakit masyarakat yang sangat ganas dan mematikan. Gara-gara ulah mereka aqidah masyarakat menjadi rusak, tatanan agama menjadi tidak lagi dihiraukan, muncul permusuhan, pengambilan harta tanpa hak, dan pertumpahan darah di atas muka bumi. Lebih parah lagi jika orang-orang itu -dukun/paranormal- telah dilabeli dengan gelar kyai atau pakar pengobatan alternatif. Pada hakikatnya ini adalah penyesatan yang dipoles dengan kata-kata yang indah.
Photobucket

Category: | 0 Comments