Subscribe RSS
Showing posts with label Pendidikan Kita. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Kita. Show all posts


Sekolah merupakan lahan pendidikan yang sudah banyak diketahui oleh manusia. Manusi tidak henti-hentinya menyekolahkan ke lembaga pendidikan ini. Banyak orang tua menganggap bahwa disinilah “lahan” keberhasilan bagi anak-anaknya. Apakah betul demikian? Anak-anak akan sukses di persekolahan? Apakah lembaga pendidikan sebagai tempat menggali potensi anak-anak?

Seorang penulis handal dan motivator, Gede Prama mengatakan, “Manusia hidupnya tidak diselamatkan oleh pendidikan, tapi diselamatkan oleh keterampilan. ”

Wow, cukup kontroversial bagi kita dari kutipan di atas. Tapi mari kita lihap sejauh apa interpretasi hal di atas. Pendidikan sekarang ini sebenarnya sudah jauh dari tujuan awalnya, yakni pendidikan adalah menjadikan yang tidak tahu menjadi tahu. Yang semestinya adalahmenjadikan yang tidak mau menjadi mau. Ada beberapa perbedaan dari hal itu. Yang pertama, adalah sasarannya adalah ilmu. Sementara yang kedua adalah ”moral dan karakter”. Karena itulah sebenarnya maksud dari Gede Prama dari kutipan diatas adalah, pendidikan sebenarnya tidak menciptakan hanya pada jalur ilmu, akan tetapi yang dibentuk semestinya adalah “karakter.”

Sebagaimana jauh-jauh hari ditekankan oleh “Bapak” Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya karakter. Juga ditegaskan dalam Undang-undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa...”.Namun, apa yang terjadi selama ini? Pendidikan hanya sebatas hapalan belaka, ketika anak-anak ditanya “mengapa demikian”? Mereka hanya menjawab, “Begitu pula dikatakan buku!” Hal ini disebabkan oleh “mind set” kita tidak pernah berubah. Kita hanya larut dalam gelombang “pendidikan klasik” yang tidak sesuai dengan kaidah sebenarnya. Sehingga dampak tragis dari hal ini adalah siswa tidak lagi diajar untuk berkarakter, jadinya adalah siswa tidak memiliki sopan santun kepada gurunya! Memberontak kepada guru! Ilmu “padi” tidak berlaku lagi, yang katanya semkin berilmu semakin merunduk! Sungguh sangat tragis.

Mari kita simak bagaimana sebenarnya pendidika di luar negeri. Salah satu contoh adalah Negara Australia. Guru-guru Australia jauh lebih khawatir jika anak-anak murid mereka tidak menyebrang jalan dengan benar, mengelola sampah dengan tidak baik, berbicara dengan tidak santun, tidak berempati, tidak peduli terhadap teman dan lingkungan serta tidak berpikir kritis terhadap hal-hal yang merusak/menggangu, ketimbang jika murid mereka tidak menguasai matematika dan pelajaran Akademis lainnya.

Karena mereka mengatakan bahwa kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Dan ternyata waktu mendidik Karakter itu tidak bisa dilakukan kapan saja, melainkan memiliki rentang waktu yang sangat terbatas sekali yakni sejak mereka Balita hingga Remaja. Sementara kita bisa mengajarkan materi akademis kapan saja diperlukan tanpa ada batas waktunya.

Jadi, wajarlah jika mereka lebih menaruh perhatian pada pembentukan karakter anak ketimbang kemampuan akademis.

Karena itulah, perlu kiranya adanya semacam evaluasi bagi dunia pendidikan kita, yaitu “pencinptaan karakter.” Kalau kita bisa mendorong ke arah karakter ini, maka kesuksesan akan segera datang.

Jelas sekali perkataan seorang nomor 1 di dunia, Bill Gates mengatakan bahwa, “Sebenarnya yang dibutuhkan untuk sukses diperlukan integrity (akhlak/karakter).”

Kita semua yakin, bahwa ketika dunia pendidikan saat ini sudah “diamandemenkan”, maka tidak ada lagi pencitraan negatif terhadap generasi kita. Mari kita bersama-sama membentuk itu, kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi!

Dikisahkan ada sepasang suami istri setiap hari kemana-mana selalu dengan mobil mewah. Mereka adalah pasangan yang begitu sibuk dengan berbagai aktivitas. Maklum sang suami adalah seorang pengusaha sukses dan istri adalah wanita karir. Dan anak merekapun disekolahkan di tempat yang terbaik dengan segala fasilitas yang serba mewah. Tentunya si anak juga disediakan sopir yang mengantarnya kemana ia pergi. Mereka terkenal di sekitar tempat tinggal mereka dan hampir semua orang mengenalnya termasuk mengenal semua kendaraan yang mereka pakai. Mereka memang tidak tinggal dilingkungan khusus orang kaya. Para tetangga masih banyak hidup sederhana. Tidak masalah mereka tetap dapat hidup rukun berdampingan. Dan masing-masing mempunyai kehidupan sendiri.

Seperti biasanya mereka berangkat pagi dan baru pulang menjelang malam dan itu berlangsung entah sudah berapa lama. ”Pak, lihat betapa bahagianya mereka. Jam segini mereka sudah ada dirumah, bercengkrama dengan keluarga sedangkan kita masih sibuk dengan segudang pekerjaan” Ucap sang istri ketika melintasi sebuah keluarga sederhana yang sedang berbincang-bincang diteras rumah. ”Iya...ya...ma. kapan yach kita bisa seperti mereka yang setiap saat bisa menikmati waktu santai dengan keluarga” Dan suaminya pun mengiyakan sambil menarik nafas dalam-dalam. Begitu terasa ada beban yang begitu berat menghimpit dada mereka berdua. ”Kadang-kadang mama rasanya ingin meninggalkan semua ini dan hidup bahagia seperti mereka”

Sementara disisi lain, dari teras rumah keluarga yang dianggap berbahagia tadi juga merasakan hal yang sama, Begitu sang istri melihat mobil tetangganya melitas di depan rumahnya tiba2 dia berkata. ”Pak, kapan yach kita bisa seperti mereka? Kemana-mana selalu naik mobil mewah. Ibu yakin hidup mereka pasti sangat bahagia” Ucap istri Sang peimilik rumah sederhana sambil menunjuk mobil yang baru melintasi depan rumahnya. ”Bapak bisa merasakan hal yang sama bu, kapan yah kita menjadi orang kaya seperti mereka, bapak selalu ingin berkerja keras hingga larut malam dan mendapat penghasilan lebih besar tapi tidak ada yang harus dikerjakan” Pandangannya menerawang jauh kedalam.

Dilain waktu anak orang kaya itu tidak kalah gelisahnya ketika menyaksikan anak-anak sebayanya diantar jemput sama orang tua mereka kesekolah sambil berboncengan motor dengan bahagianya, tidak seperti dirinya yang selalu diantar jemput sama sopir. ”Alangkah bahagianya jadi seperti mereka, kemana-mana selalu diantar orang tua mereka, sedangkan kedua orang tuaku tidak pernah melakukannya. Mereka terlalu sibuk dengan bisnis mereka. Aku iri dengan mereka” Anak itu mengeluh dan menitikkan air mata.

Sementara sambil berlalu anak yg sedang di bonceng orang tuanya di motor tadi berpikir dalam hatinya, ”Aku ingin seperti anak yang ada di mobil bagus itu. Kemana-mana ada yang antar kalau hujan tidak kehujanan dan kalau panas tidak kepanasan. Begitu pula anak-anak yg sedang berjalan kaki dan di antar orang tuanya, mereka dalam hati juga berpikir seandainya aku bisa jadi seperti anak orang kaya itu, selalu diantar mobil kemana-mana dan tidak perlu capek berjalan kaki berkilo-kilo meter dan berbecek-becek ria”


Ayah Bunda yang tercinta.......,
Cerita diatas menggambarkan bahwa manusia pada umumnya selalu melihat orang lain lebih baik dan bahagia daripada darinya. Dan kita juga sering mendengar bahwa ”Manusia memang tidak pernah ada puasnya” Omongan ini benar bagi orang-orang yang memang dikendalikan oleh pikiran yg tidak bersyukur, karena kalau kita mau mengikuti pikiran kita maka tidak akan merasa cukup. Sebelum kaya ingin menjadi kaya setelah kaya ingin menjadi lebih kaya lagi. Dan saat merasa dirinya benar-benar kewalahan mempertahankan segala efek yang ditimbulkan oleh kekayaannya dirinya merasa lelah, merasa tidak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan keluarga. Contoh lainnya misalnya sebelum menjadi orang terkenal ingin menjadi orang yang terkenal begitu terkenal, dirinya mengeluh lagi, merasakan ruang geraknya menjadi terbatas dan tidak memiliki privacy lagi. Karena kemanapun mereka pergi selalu ada orang yg memandangi, meminta tanda tangan atau ingin berfoto dengannya.

Saat menjadi pengangguran seseorang hidup begitu stress, ketika mendapatkan pekerjaan, mengeluh lagi karena kerjaannya tidak cocok, gajinya terlalu kecil, jam kerjanya dan kantornya terlalu jauh, merasakan tidak ada waktu bersantai dan seterusnya.

Pengangguran ingin menjadi karyawan, karyawan ingin menjadi bos sedangkan bos selalu stress merasakan beban yang dipikul terlalu berat dan merasakan dirinya selalu bekerja keras sementara dia memandang anak buahnya tidak, ia marah pada semua orang.

Apasih yg kira..kira bisa mengatasi kondisi semacam ini...?

Salah satunya adalah Memili Rasa Syukur terhadap apa yang sudah kita miliki dan tidak membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, setiap manusia pasti mempunyai masalah dan beban masing-masing yang tidak diketahui oleh orang lain. Orang hanya bisa melihat sisi luarnya saja dalam hati siapa yang tahu.?

Kita melihat orang lain hidupnya lebih enak sementara orang lain melihat hidup kita enak. Kita ingin menjadi seperti mereka demikian juga sebaliknya, ketahuilah kita tidak bisa menjadi orang lain. Nikmatilah apa yg ada, apa yg kita miliki, karena yg kita miliki adalah apa yg terbaik bagi kita menurut Alloh.

Namun manusia bersyukur bukan berarti orang yg mudah menyerah kepada keadaan. Manusia yang bersyukur adalah manusia yang selalu lapang dada menerima hasil dari usahanya yang optimal. Sedangkan manusia yang menerima nasibnya tanpa ada usaha adalah manusia yang putus asa. Apapun dan berapapun yang didapatkan dari hasil usahanya bagi manusia yang bersyukur selalu berkecukupan. Karena Manusia yang selalu bersyukur tahu berapapun yang di dapatkan dalam dunia ini tidak akan perna cukup. Kalau sudah seperti itu kenapa kita harus memaksakan diri untuk mengejar sesuatu yang memang tidak pernah cukup ?

Mari kita ingat selalu sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa “Kekayaan bisa mendatangkan kesenangan tapi tidak kebahagian. Kebahagiaan hanya datang dari Rasa Bersyukur dan Berkecukupan atas apa yg kita miliki.

Mari kita sambut dengan ceria hidup ini dan ucapkanlah syukur dan terimakasih pada Alloh setiap hari atas semua yg telah kita miliki dan kita bisa lakukan.... tersenyumlah selalu maka hidup ini akan menjadi jauh lebih indah dan penuh arti.

Seorang ibu, kenalan baik saya minta agar saya menolongnya menangani kasus anak gadis kecilnya yang berusia 10 tahun. ”Tolonglah, anakku ini sudah kubawa ke psikolog, tapi belum juga ada tanda2 mau berubah, dia anak yang pandai, IQ-nya 140. Tapi tingkah lakunya benar-benar memprihatinkan. Tempo hari, anakku itu berada di kamar terus, kerjanya hanya baca komik saja... Setelah aku marahi, eh! Dia sudah tidak baca komik lagi, tapi nonton TV melulu berjam-jam kayak tidak ada kerjaan lain.. Nanti kalau sudah dimarahi, baru dia belajar di meja makan. Aku nggak tahu apa saja yang dikerjakannya di meja makan tersebut, kerjanya hanya mencorat-coret meja, benar-benar bikin kepalaku pusing.. Belakangan setelah aku marahi lagi, sekarang dia jadi suka berteriak-teriak histeris, suka berbohong dan suka memukul adiknya. Aku lihat, anak ini memang aneh dan selalu bikin aku stress....!!!”

”Nah sekarang coba jawab pertanyaan saya!” Potong saya. Tampaknya, jika saya tidak memotong pembicaraanya, ibu ini tidak akan berhenti berbicara. “Sebenarnya, apa yang harus dilakukan anakmu itu supaya bisa membuatmu senang?” Tanya saya. Pertanyaan saya membuat suasana menjadi sunyi, ibu itu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan saya. Jika tadi tampaknya ia mau bersahabat mencurahkan isi hatinya pada saya, kini tampak raut wajahnya cemberut karena saya bertanya demikian.

“Kamu sendiri saja tidak tahu apa yang kamu inginkan, itulah yang membuat anakmu juga menjadi bingung. Kebingunganmu sudah sedemikian parahnya, sehingga anakmu menjadi frustrasi, itulah mengapa ia mulai melakukan hal yang tidak baik. Tidakkah engkau mampu melihat anakmu menuruti setiap perkataanmu, tapi akhirnya selalu kaumarahi juga? Semua yang ia lakukan, selalu salah di matamu!” Jelas saya.

“Aku benci kehamilanku yang pertama...” Sahut ibu itu sambil tertunduk dan terisak. Oh...! Aku benci karena suamiku tidak ada di sampingku pada saat ia dilahirkan, aku benci suamiku tidak pernah membantuku saat ia sering menangis di tengah malam, sakit2an, saat masih bayi aku sering begadang sendirian kebingungan, aku benci...suamiku yg tak pernah peduli pada keluarganya...oh.. aku stress ia sering pulang larut dan gila kerja..!!!

Ternyata, ada masa lalu dan masalah lain yang harus didamaikan, sesungguhnya anaknya sama sekali tidak bermasalah kata hati kecil saya.

Kisah ibu ini hanya salah satu dari sebegitu banyak kisah menyedihkan dimana anak-anak yang tidak mengerti apa-apa telah menjadi korban masalah pribadi orangtuanya.

Banyak anak-anak pandai tidak dapat mencapai hasil yang maksimal justru karena ketidakmampuan diri orangtuanya berdamai dengan masalah pribadinya, anak-anak itu dipaksa untuk merasakan kesedihan dan kemarahan orangtuanya dan menjalani rutinitas hidup yang ’sakit’ di dalam raga yang seharusnya sehat.

Menurut saya kedua orang tuanyalah yg sesungguhnya bermasalah dan lebih membutuhkan terapi.

Para orang tua yg berbahagia...
Jika ada masalah dengan anak kita mari kita sadari segera apa sesungguhnya yg sedang terjadi, Anak kita yang bermasalah atau malah justru kitalah yang sedang bermasalah..?


Sumber: Ayah Edy

Tanya:
ayah edi yang baik... nama saya Bu Is, umur 26 thn. saya senang mendengarkan siaran ayah di radio smart fm. saya yakin karena ini akan berguna bagi saya nantinya, saya ingin bertanya tentang pendapat ayah mengenai sex. dan bagaimana cara menjelaskannya kepada anak-anak ataupun remaja tanpa ada unsur pornografi. Karena saya terkadang bingung untuk menjawabnya jika ada seorang anak kecil yang bertanya mengenai sex. sekian pertanyaan dari saya dan terimakasih untuk siaran ayah yang begitu bermanfaat.;



Jawab:
Bu Is yang baik, Sex itu sebenarnya Netral (tidak positif juga tidak negatif). Pada saat kita bicara sex maka kita akan meresponse dengan otak kita. Otak kita memiliki dua belahan yakni belahan kiri dan belahan kanan, pada saat belahan kiri kita yang lebih aktif merespon maka Sex akan diterjemahkan sebagai sebuah aktivitas Reproduksi Alamiah dari Mahluk Hidup dan pemikiran kita akan lebih mengarah pada bentuk proses sains biologis. Sementara pada saat otak belahan kanan yang lebih aktif merespon maka sex akan menjadi sebuah proses imaginasi proses reproduksi. Nah pada saat imaginasi ini melanglang buana dan tidak terkontrol maka ini akan mengarah pada PORNOGRAFI.


Sebenarnya ada maksud Alloh terhadap proses respon otak kiri dan otak kanan manusia terhadap Sex, Aktivitas otak kiri bertujuan untuk Sains Biologis sementara aktivitas otak kanak untuk proses biologis itu sendiri. Proses otak kiri dibutuhkan untuk pengembangan sains biologi, sementara aktivitas otak kanan dibutuhkan bagi pasangan yang sudah menikah untuk proses harmonisasi hubungan suami istri.


Hanya saja ini menjadi sebuah proses penyimpangan atau Pornografi manakala penggunaan imaginasi otak kanak terjadi pada saat yang kurang tepat (belum menikah), terhadap orang yang tidak tepat (bukan istri sah) dan dengan cara yang kurang tepat (di videokan dan tersebar di masyarakat).

Jadi tugas kita bagi pendidikan sex anak adalah membawa pertanyaan dan obrolan sex untuk lebih mengaktifkan response otak kiri mereka, caranya dengan mengajaknya mempelajari proses reproduksi mahluk hidup dan meniliti apa yang terjadi pada proses reproduksi tersebut, mulai yang terjadi pada manusia, pada hewan, serangga hingga tumbuhan. Ajukan pertanyaan yang menantang misalnya bagaimana dengan proses reproduksi semut, lalu bagaimana pula dengan cacing ikan , dan sebagainya. Mari kita cari tahu dari buku2 sains biologi. Selain itu kita juga bisa membahas dampak negatif dari aktivitas sex yang menyimpang dengan menggunakan buku2 kedokteran tentang penyakit seputar mulut dan kelamin.


Tanggapilah pertanyaan sex anak ini bukan sebagai hal yang tabu untuk di bicarakan melainkan sesuatu yang menarik untuk di bahas, di kaji dan di temukan dasar-dasar ilmiahnya. Sering-seringlah melatih otak kiri anak dalam merespon masalah sex ini, agar responnya kelak juga demikian saat ia dewasa.


Response seorang “Play Boy” dan serorang Dokter Ahli kelamin pastilah berbeda meskipun mereka membayangkan obyek yang sama, perbedaan ini ditentukan oleh otak mana yang lebih dominan dalam meresponsnya.


Coba anda tebak respon otak mana yang dimiliki seorang Play Boy dan response otak manakah yang biasa dimiliki oleh Dokter Ahli Kelamin..?


Jika anda bisa menjawabnya dengan tepat, itu artinya anda sudah memahami apa yang perlu kita lakukan pada anak dan remaja kita terhadap pertanyaan dan masalah seputar sex agar response mereka menjadi jauh lebih sehat.

Sumber: Ayah Edy

Seorang Professor dari Harvard University Dr. Howard Gardner 1992, melalui bukunya The Frame of Mind yang menyatakan setiap anak adalah cerdas pada bidangnya masing2, tugas kita bukan mengajarinya melainkan mengamati, menggali dan mengembangkannya untuk mencapai tingkatan yang terbaik.


Letak kekacauan pendidikan zaman sekarang adalah bahwa kita menganggap setiap anak yang terlahir adalah tidak cerdas dan sibuk untuk mengukur dan men-tes tingkat kecerdasannya serta berlomba2 merancangkan kurikulum yang terus di rombak untuk mencerdaskannya, sementara sekoah lupa mengajarkan kebijaksanaan di sepanjang hidup anak bersekolah (lebih kurang 18 tahun)

Padahal inti dari sebuah kecerdasan itu lahir dari sebuah kebijaksanaan hidup. Namun sayangnya ajaran yang luar biasa ini telah di lupakan oleh sistem pendidikan zaman sekarang, sehingga kita bisa melihat akibat yang ditimbulkannya. Anak-anak kita yang pada awalnya sangat cerdas, kreatif, exploratif dan penuh rasa ingin tahu saat mereka masih usia balita, namun semua itu sirna pada saat mereka mulai bersekolah, semakin lama bersekolah mereka semakin menjadi anak yang pasif dan tak peduli.


Satu-satunya bentuk transformasi prilaku kecilnya yang kreatif dulu adalah maraknya kekerasan di kalangan anak & ramaja, penyimpangan prilaku sexual, munculnya generasi punk anak usia dini, ini semua terjadi karena mereka tidak memiliki kebijaksanaan hidup dan tidak pernah di ajari kebijaksanaan hidup melalui kurikulum sekolahnya. Sementara di kalangan dewasa kita jelas2 menyaksikan betapa banyak orang-orang yang tidak lagi memiliki rasa kebijaksanaan, berpelesiran keluar negeri dengan uang rakyat sementara saudara-saudara mereka sedang menderita di terjang berbagaimacam bencana, dan saling berdusta untuk menyangkalnya. Lengkap sudah....


Saya teringat dulu mengapa saya berada di tempat dan profesi saya yang sekarang sebagai pendidik, yakni karena seorang profesor mangatakan bahwa akar dari semua masalah yang di hadapi oleh bangsa mu adalah PENDIDIKAN. Ya... Mereka yang ada sekarang adalah cermin bagaimana mereka dulu di didik oleh orang tua mereka dan terutama oleh sistem kurikulum di sekolah-sekolah mereka. Begitu katanya...



Jika kita ingin bangsa ini berubah, marilah kita mulai dari pendidikan dan mulai dari keluarga kita sendiri, Jika setiap keluarga Indonesia mau melakukannya maka Indonesia akan menjadi negara yang kuat dan mulia dengan sendirinya tanpa perlu “orang PINTAR yang menggonta-ganti buku dan kurikulum setiap tahun, tanpa perlu anggaran yang membebani negara serta tanpa perlu konsep yang rumit dan berbelit-belit.



Alloh tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu tidak berusaha untuk mengubahnya sendiri.



Lets make Indonesian Strong from Home !!

Sumber: Ayah Edy

Para orang tua yang berbahagia suatu hari saya menghadiri sebuah acara simposium pendidikan yang diselenggarakan di Jakarta, oleh Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog bagi Ibu Pertiwi.

Acara itu sungguh luar biasa dan dihadiri oleh lebih dari 1500 orang peserta yang sebagian besar adalah pendidik dan guru. Pembicara yang hadir juga merupakan orang-orang yang luar biasa peduli di bidang pendidikan, mulai dari wakil guru yang ada di hutan rimba alias Butet Manurung, hingga wakil tokoh besar pendidikan Yayasan Perguruan Taman Siswa, Ki Hajardewantara,. Di forum ini juga tidak ketinggalah hadir Tokoh Lintas agama Bapak Anand Krishna, seniman, budayawan artis dan lain sebagainya.


Menurut saya sebenarnya simposium ini nyaris sempurna, seandainya saja waktu itu Mentri Pendidikan dan Menteri Kesehatan sebagai tokoh sentral yang di undang sempat menyaksikan langsung acara simposium ini. Tapi apa mau dikata The Show Must Go On! begitu kira-kira kata salah seorang pembicara.


Namun ada satu hal yang paling menarik bagi saya dari seluruh acara, yakni sebuah puisi yang di bacakan oleh seorang seniman, namanya Mas Agus Sarjono, yang isinya betul-betul membuat hati saya tergelitik, puisi ini merupakan sebuah kritik sosial yang dibuat sangat cantik dan mengena bagi kita semua, terutama para tokoh pendidikan yang ada di negeri ini....

Dan dengan kerendahan hati serta ijin dari Mas Agus Sarjono yang saya dapatkan melalui Pengurus Forum tersebut, saya ingin anda juga bisa mendengar dan sekaligus merenungkannya. Mari kita simak bersama isinya;

===========================================================

…………………………


Di akhir sekolah mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru untuk menyerahkan amplop, berisi perhatian dan rasa hormat palsu.


Sambil tersipu palsu dan membuat tolakan tolakan palsu, akhirnya pak guru dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan nilai-nilai palsu yang baru.


Masa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman yang juga palsu.


Dengan gairah tinggi mereka menghambur ke tengah pembangunan palsu dengan ekonomi palsu sebagai panglima palsu. Mereka saksikan ramainya perniagaan palsu dengan ekspor dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan berbagai barang kelontong kualitas palsu.


Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus palsu dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri yang dijaga pejabat-pejabat palsu.


Masyarakat pun berniaga dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan gagasan-gagasan palsu di tengah seminar dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring dan palsu.
========================================================

Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada...., Demikianlah puisi yang dibuat dan dibacakan langsung oleh Mas Agus Sarjono, Pada acara simposium besar Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 Oktober 2007.


Meskipun ini hanyalah sebuah puisi, tapi paling tidak puisi ini bisa menjelaskan mengapa begitu banyak kita menemukan kepalsuan yang terjadi di negeri ini.

Mari kita renungkan bersama.......

Sumber: Ayah Edy

Ibu,
Bukannya aku malas dan suka melamun, tapi aku lagi menyiapkan diriku menerima seluruh keindahan alam semesta. Beri aku kesempatan berdiam sejenak karena gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku bisa memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali aku menciptakan melodi yang indah agar Ibu bisa menikmatinya sambil membuatkan aku masakan yang enak.


Ibu,
Bukannya aku tak bisa menjumlah 2 + 0 + 4, tapi aku lagi melihat seekor bebek berenang di kolam yang indah dengan deretan kursi cantik di sekelilingnya. Beri aku kesempatan merekamnya di alam kesadaranku karena ingin sekali aku membuatkan Ibu sebuah kolam renang yang indah dan kita duduk bersama di kursi yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya bebek berenang.


Ibu,
Bukannya aku tak mau mendengar dan menatap mata Ibu ketika dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi aku lagi merasakan indahnya suara Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini. Beri aku kesempatan menikmatinya karena suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan agar Ibu bisa menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita bisa bernyanyi bersama dan selalu bisa kunikmati suara Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.


Ibu,
Bukannya aku tak bisa membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi aku lagi merekam taburan kata-kata agar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan. Beri aku kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, karena aku ingin menulis sebuah puisi yang indah yang spesial untuk aku persembahkan di hari ulang tahun Ibu.


Ibuku Sayang,

Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah karena aku benci atau marah. Aku hanya sedih jika cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan kolam renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah. Dan hatiku akan sangat menyesal jika tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi indah di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.



Suara Hati dari Seorang Anak yang dominan otak kanan.

Ditulis dan Dikirim oleh: Pak Muliadi Saleh


Sumber: Ayah Edy

Ibu,
Bukannya aku malas dan suka melamun, tapi aku lagi menyiapkan diriku menerima seluruh keindahan alam semesta. Beri aku kesempatan berdiam sejenak karena gambar-gambar kehidupan yang sedang kurekam akan membuatku bisa memahami simfoni dan harmoni. Ingin sekali aku menciptakan melodi yang indah agar Ibu bisa menikmatinya sambil membuatkan aku masakan yang enak.


Ibu,
Bukannya aku tak bisa menjumlah 2 + 0 + 4, tapi aku lagi melihat seekor bebek berenang di kolam yang indah dengan deretan kursi cantik di sekelilingnya. Beri aku kesempatan merekamnya di alam kesadaranku karena ingin sekali aku membuatkan Ibu sebuah kolam renang yang indah dan kita duduk bersama di kursi yang empuk dan cantik sambil menikmati bahagianya bebek berenang.


Ibu,
Bukannya aku tak mau mendengar dan menatap mata Ibu ketika dongeng-dongeng itu dibacakan dan lagu nina bobo dinyanyikan, tapi aku lagi merasakan indahnya suara Ibu berpadu dengan suara-suara lain di kamar ini. Beri aku kesempatan menikmatinya karena suatu hari nanti akan kubuatkan sebuah ruangan agar Ibu bisa menyanyi dan mengaji. Di Ruangan itu kita bisa bernyanyi bersama dan selalu bisa kunikmati suara Ibu yang merdu melantunkan ayat-ayatNya.


Ibu,
Bukannya aku tak bisa membaca kata demi kata yang ibu ajarkan, tapi aku lagi merekam taburan kata-kata agar terangkai sebuah kalimat yang indah, layak dan sopan. Beri aku kesempatan melihat kata-kata itu saling merangkai, karena aku ingin menulis sebuah puisi yang indah yang spesial untuk aku persembahkan di hari ulang tahun Ibu.


Ibuku Sayang,

Kalau Ibu marah dan mencubit, tangis dan air mataku itu bukanlah karena aku benci atau marah. Aku hanya sedih jika cubitan dan amarah Ibu mengikis rasa sayang, cinta, dan potensiku untuk menghadiahi Ibu sebuah rumah mungil dengan kolam renang, ruang bernyanyi dan dapur yang indah. Dan hatiku akan sangat menyesal jika tak tak sanggup merangkai dan membacakan puisi indah di hari spesial Ibu. Karena bagiku : IBU ADALAH SEGALANYA.



Suara Hati dari Seorang Anak yang dominan otak kanan.

Ditulis dan Dikirim oleh: Pak Muliadi Saleh


Sumber: Ayah Edy

Sebelumya maaf kepada pihak-pihak yang tersinggung atas adanya esai ini. Esai ini hanya sebagai media untuk berbagi pengalaman dan menambah wawasan kepada anda-anda semua. Terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu saya untuk berfikir seperti ini, seperti kedua orang tua saya, Ayah Edi, Kak Munas, Kak Abi, Kak Boy dan Kak Dimas. dan Nendra (walaupun kita belum bertemu, saya sudah sangat terinspirasi dengan anda dengan membaca notes dan cerita dari Kak Abi).Note: nama-nama tersebut adalah para tutor Home Schooling Red.


Di suatu lembaga formal yang bernama sekolah, kita sering dikekang oleh sistem pendidikan dan teks buku pelajaran yang mengkotak-kotakkan suatu disiplin ilmu pengetahuan dari pihak yang mengatur pendidikan negeri ini. Mereka lalu menekan kepala sekolah, kepala sekolah menekan guru, dan akhirnya guru melimpahkannya kepada peserta didik dalam hal ini siswa. Para guru kebanyakan mewajibkan kita untuk harus bisa dalam semua hal. Padahal setiap siswa memiliki kesukaan dan keinginan masing-masing. Mereka sebenarnya bisa saja dipaksa untuk bisa mendapatkan nilai-nilai yang tinggi. Tapi dengan demikian mereka akan merasa jenuh dan sangat tertekan. Pada akhirnya para siswa tidak dididik dengan konsep berpendapat secara analitis kritis dan kooperatif, melainkan terpaku dan kaku pada sistem dan buku pelajaran. Padahal sistem pendidikan di negeri kita tercinta ini mengacu pada sistem pendidikan pada tahun 1900an. Sungguh tidak relevan dan tidak pantas untuk zaman milenium seperti sekarang ini.


Umpamakan ada sebuah kotak. Siswa yang bisa untuk menerima suatu ilmu dengan sistem sekarang ini masuk kedalam kelompok dan berada di dalam kotak tersebut. Tetapi untuk lainnya yang tidak bisa dengan sistem sekarang akan merasa stress dan tidak dapat menerima suatu ilmu dengan baik. Akan terasa menyakitkan bagi mereka apabila harus dipaksakan masuk ke dalam kelompok yang berada di dalam kotak tersebut.


Mengacu dengan buku pelajaran pun sebenarnya bukanlah hal yang tepat. Karena untuk mempelajari dan memahami buku pelajaran tidak harus sampai 3 atau 6 tahun, melainkan hanya 3 bulan sampai 1 tahun pada setiap jenjang. Ini tergantung dari kecepatan pemahaman dan pemikiran siswa masing-masing. Pemahaman yang berbeda-beda bukanlah menjadi suatu masalah, karena setiap masing-masing manusia perseorangan memiliki cara belajar dan pemahaman sendiri-sendiri. Yang lebih penting dari buku pelajaran adalah pembangunan karakter seseorang. Pembangunan karakter ini bisa lebih lama daripada hanya mempelajari buku pelajaran. Inilah yang harus ditekankan dan ditanamkan oleh guru-guru kepada siswa. Pernah suatu saat Ayah Edi berbicara mengenai hal ini di suatu radio ternama. Di Australia para guru tidak menekankan anak didiknya untuk belajar mengitung, tetapi mereka lebih ditekankan untuk pembangunan karakter, contohnya mengantri, menyebrang jalan, menolong orang lain. Mereka berkata bahwa sangat sulit untuk menanamkan dan membangun karakter-karakter yang baik kepada anak didiknya dibandingkan dengan mengajari mereka berhitung.


Di sekolah formal, banyak sekali terjadi yang namanya bullying baik fisik maupun mental. MOS atau Masa Orientasi Siswa seharusnya menjadi suatu ajang pengenalan siswa baru oleh para guru serta kakak kelas. Tetapi dalam konteks sekarang ini, MOS menjadi suatu ajang pembalasan dendam kakak kelas terhadap adik kelasnya karena sang senior pernah juga disakiti fisik dan mentalnya. Sang senior berdalih bahwa hal ini adalah agar adik kelas siap untuk menghadapi kerasnya perjuangan belajar di sekolah dan mendidik agar menjadi orang yang tegas. Padahal sesungguhnya adik kelas pasti akan merasa down apabila diberikan shock teraphy dengan "kekerasan" seperti itu. Dan guru-guru sepertinya tidak menanggapi hal itu dengan serius. Mereka juga berdalih dengan alasan yang sama dengan sang senior. Juga dengan LDKS atau Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa. Seharusnya ini menjadi tempat siswa untuk menempa ilmu untuk menjadi pemimpin yang baik, sekalipun nantinya hanya akan menjadi pemimpin keluarga. Tetapi sama saja dengan MOS, "kekerasan" tetap terjadi. Misalnya, disuruh membuat tanda nama yang menurut para siswa sangat sulit untuk dilakukan dalam waktu 3 hari. Dan apabila terjadi kesalahan, hukuman-hukuman yang sebenarnya tidak mendidik justru malah diberikan oleh para senior, seperti menceburkan diri ke dalam lumpur. Apakah ada hubungannya tanda nama yang salah dengan menceburkan diri ke dalam lumpur? Apakah cara mendidik harus dengan "kekerasan" agar siswa menjadi orang yang mandiri dan bertanggungjawab terhadap dirinya? Tentu tidak bukan. Pasti pihak-pihak yang merasa dirugikan, terutama orang tua siswa akan tidak terima dengan hal ini. Tetapi malah ada orang tua "bodoh" yang terima saja anaknya diperlakukan sangat "kejam" oleh para senior dengan dalih yang sama dengan senior maupun para guru. Sungguh hal yang sangat mengerikan sekali.


Sekolah Non Formal dalam hal ini homeschooling adalah suatu pilihan untuk orang-orang yang tidak berada di dalam kotak tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas. Dan homechooling dapat dijadikan alternatif untuk mereka yang merasa jenuh dengan cara belajar di sekolah formal dan bukan berarti hanya dijadikan pelarian. Cara belajar di homeschooling juga tidak seperti sekolah formal yang lebih menonjolkan dan mengacu pada nilai. Yang lebih dipentingkan adalah hasil karya siswa seperti esai, pendapat atau argumen, diskusi, portofolio bahkan bisa berupa lagu ataupun hasil kerajian tangan dan lain sebagainya. Ini yang membuat siswa lebih kreatif untuk membuat suatu karya cipta daripada harus mengejar nilai untuk sebuah kata-kata yang sangat berharga buat mereka yaitu "KELULUSAN". Seharusnya pula nilai dalam hal ini Ujian Nasional tidak menjadi acuan untuk kelulusan seseorang. Ujian Nasional bisa menjadi evaluasi bagi para siswa dan guru agar dapat menjadi lebih baik untuk kedepannya. Karena sudah banyak sekali korban dari Ujian Nasional. Misalnya, siswa yang biasa-biasa saja bisa mendapatkan nilai yang tinggi sedangkan siswa yang memiliki prestasi bagus dalam kesehariannya mendapatkan nilai yang anjlok. Sangat miris sekali, tapi inilah realita. Seahrusnya yang bisa menentukan lulus atau tidaknya tergantung dari keseharian para siswa. Jadi setiap sekolah formal atau homeschooling mempunyai independensi untuk bisa menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa. Tetapi sistem yang seperti ini juga harus mempunyai suatu badan yang memayungi dan mengawasi pergerakan setiap lembaga belajar. Ini untuk meminimalisir kecurangan-kecurangan yang dapat mungkin terjadi, misalnya lulus dengan jalur uang. Belajar di homeschooling juga lebih mengedepankan pembangunan karakter, minat, bakat dan konsistensi seorang siswa. Sebelum masuk kepada pembelajaran, para homeschoolers akan diberikan pengenalan tentang homeschooling selama satu bulan. Di satu bulan pertama itu lebih banyak pembangunan karakter dan treatment atau brain storming bagi para homeschoolers yang pernah merasakan menjadi pelajar di sekolah formal atau pernah memiliki masalah sebelumnya, misalnya bullying. Apakah treatment atau brain storming itu? Kedua istilah ini mempunyai maksud bahwa homeschoolers akan dipacu kerja otak yang kreatif dan diasah kembali cara berfikirnya agar mereka bisa mengikuti homeschooling yang sesungguhnya sehingga ketika mereka membahas sesuatu dengan komperhensif dan mendalam. Di homeschooling juga ditekankan untuk mengenal, memahami, dan mempraktekkan suatu disiplin ilmu yang diminati dan dibutuhkan. Masing-masing pun memiliki minat, bakat dan tingkat konsistensi yang berbeda-beda. Jadi setiap homeschoolers pun berbeda-beda penanganannya, tergantung dari beberapa hal di atas. Pendidik di homeschooling dalam hal ini tutor adalah orang yang dipilih secara selektif, ahli dalam bidangnya, memiliki cara fikir yang visioner, mampu mehamami dan mengerti cara untuk menangani setiap homeschoolers. Jadi homeschoolers lebih mudah menerima suatu disiplin ilmu tanpa harus merasakan stress atau jenuh yang berlebihan. Bukannya memojokkan dan menyalahkan sekolah formal hanya saja kelebihan yang disediakan sekolah formal sangat sedikit. Misalnya kita lebih banyak mengenal dan dapat bersosialisasi dengan teman-teman, belajar disiplin karena diwajibkan untuk masuk pada jam 06.30, dapat menampung banyak peserta didik dan lain-lain. Tetapi para siswa kebanyakan selalu tertekan dan tidak merasakan kenikmatan belajar. Di homeschooling pun juga tidak sempurna. Terkadang para homeschoolers kesulitan untuk bersosialisasi karena jarang bertemu dengan teman-temannya. Tetapi ini tidak menjadi persoalan yang serius apabila homeschoolers memiliki teman, relasi atau apaupun itu di luar sekolah. Jadi untuk saat ini pilihan untuk homeschooling adalah pilihan yang lebih baik karena para siswa lebih fokus terhadap apa yang diiniginkan dan di butuhkan serta tidak tertekan dengan penilaian dengan angka-angka "sesat".


Semoga pembicaraan presiden kepada menteri pendidikan yang baru akan direalisasikan dan menjadi suatu sistem pendidikan di negeri yang sekali lagi sangat kita cintai ini. Beliau dalam hal ini presiden berkata dan berpesan bahwa penanaman karakter harus dikedepankan dalam sistem pendidikan negeri ini. Tentunya sangat diharapkan sekali agar sistem pendidikan harus segera diubah sehingga seluruh siswa yang ada di Indonesia tidak menjadi generalis melainkan spesialis di bidangnya masing-masing. Lebih cepat lebih baik, karena pada tahun 2010 akan dimulai percobaan pasar bebas di seluruh dunia. Para pemuda dan pemudi Indonesia harus berjuang menghadapi orang-orang asing. Akankah mereka menjadi tuan di negerinya sendiri? Anda bisa menjawabnya.?

Cukup sekian untuk esai yang mungkin terlampau panjang ini. Mohon maaf apabila ada kekurangan terutama bahasa yang saya gunakan terlalu berputar-putar. Terimakasih banyak kepada yang ingin meluangkan waktunya untuk membaca esai ini.

============================================
Di tulis oleh Nurrahman Andrianto, seorang pelajar SMA yang kini memilih untuk home schooling untuk bisa memetakan ulang potensi unggul yang dimilikinya yang sebelumnya telah tenggelam bersama tugas-tugas sekolah yang tiada habisnya dan tak jelas apa manfaatnya baginya di kehidupan kelak.

Mari kita renungkan pesan-pesan berharga yang terkandung di dalamnya.

Sumber: Ayah Edy

Para orang tua yang berbahagia Suatu ketika saya berkunjung kerumah seorang teman, kebetulan profesinya adalah seorang Therapist berbasiskan pada Neuro Language Programming atau NLP.


Dia menceritakan seuatu yang sangat menarik, betapa ternyata potensi dan jalan hidup yang di tempuh seseorang dimasa datang, ternyata bisa di prediksikan dari sugesti atau hal-hal yang dia yakininya. Dan bahkan yang menarik adalah seluruh potensi dalam tubuh manusia sampai pada level terkecil itu akan mendukung apa yang diyakini oleh seseorang. Jadi keyakinan itu bisa menjadi segala-galanya yang menentukan hidup dan masa depan seseorang.


Hal ini juga sekaligus mematahkan pandangan-pandangan kuno tentang test-test yang katanya bisa mengukur potensi kecerdasan anak , dan sebagainya. kata kawan saya menambahkan.


Dia ternyata juga membuktikan bahwa telah banyak kliennya yang terdiri dari orang-orang yang test IQnya biasa-biasa saja namun setelah di berikan keyakinan-keyakinan postitif berubah menjadi orang yang luar biasa sesuai dengan keyakinan baru yang dimilkinya.


Kawan saya juga mengatakan bahwa sebagian besar keyakinan ini banyak di bentuk terutama dari kata-kata yang dia dengar sehari-hari tentang dirinya atau test-test yang mengukur tentang kemampuan dirinya . Jika kata-kata buruk yang sering dia terima tentang dirinya maka bisa dipastikan perlahan-lahan dia akan mulai berprilaku buruk, dan pada saat kata-kata yang berkesan dia bodoh, maka perlahan-lahan ia akan menjadi orang yang bodoh. Begitu juga jika hasil test yang dia terima di bahwa rata-rata maka prestasinya akan terus turun dibawah rata-rata. Jadi hati-hati dengan kata-kata dan test-test yang katanya bisa mengukur kemampuan seseorang karena hal itu akan berakibat sangat besar terhadap masa depan seorang anak. Kata kawan saya dengan nada sangat serius.


Cerita kawan saya ini jadi mengingatkan saya pada kisah Thomas Edison yang pada usia 7 tahun dinyatakan sebagai anak yang bodoh dan tidak mampu bersekolah. Namun ibunya Nancy Alliot meyakinkan Thomas bahwa dirinya adalah anak yang pandai dan luar biasa. Hingga akhirnya meskipun tidak pernah bersekolah Thomas mampu untuk menjadi salahs eorang Jenius Besar dunia dengan 1000 temuan yang di patenkan.


Taklama setelah itu tanpa sengaja saya membaca sebuah tulisan yang berjudul The Toxic Words – Kata-kata beracun, yakni sebuah hasil interview terhadap anak-anak yang di penjaara, yang isinya mengenai kata-kata apa saja yang sering mereka dengar tentang diri mereka dari lingkungannya dulu sebelum masuk penjara.


Lalu dari sana disusunlah kata-kata beracun yang telah menggiring mereka untuk mendapat tiket ke penjara.


Berikut adalah 10 kata paling sering didengar sebelum mereka masuk penjara:

  1. Mengapa kamu selalu saja menyusahkan orang tua...
  2. Dasar kamu anak pembawa sial.
  3. Kamu memang tidak pernah bisa menjadi lebih baik.
  4. Lihat saja nanti hidupmu akan berakhir di penjara.
  5. Kamu memang anak terkutuk.
  6. Aku menyesal melahirkan kamu..
  7. Pergilah kamu ke neraka.
  8. Dasar anak setan....
  9. Lihat saja nanti....hidupmu pasti akan hancur..
  10. Jangan pernah berharap hidupmu akan sukses...

Sungguh saya jadi merinding melihat fakta yang membuktikan betapa kuatnya hubungan antara kata-kata terhadap masa depan anak-anak kita. Segera saya jadi berpikir keras untuk mengingat-ingat kembali kata-kata yang selama ini pernah saya ucapkan pada istri dan anak-anak saya....


Ya......Robb.....Saya jadi menitikkan air mata...., seandainya saja bayak guru dan orang tua mengetahui hal ini... pasti mereka akan jauh lebih berhati-hati dengan kata-kata mereka.


Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada....Mari kita bangun masa depan anak-anak kita melalui kata-kata yang postitif...

Sumber: Ayah Edy

Mau jadi Pilot ada sekolahnya, Mau jadi Dokter ada sekolahnya. Kita pasti akan dilarang menerbangkan pesawat jika Tidak Lulus Ujian sebagai seorang Pilot yang “LAYAK TERBANG”. Namun jika tetap di paksakan juga Pilot yang tidak layak tadi, untuk menerbangkan pesawat , coba tebak kira-kira resiko apa yang mungkin akan terjadi.?


Tapi sayangnya untuk menjadi Orang Tua yang “LAYAK” tidak ada sekolahnya ! kita tiba-tiba saja menjadi orang tua manakala istri kita melahirkan anak kita. Pertanyaan besar buat kita semua para orang tua, apakah kita sesungguhnya sudah LAYAK untuk menjadi orang tua bagi anak-anak kita..? Kita adalah orang tua tanpa sekolah, tanpa ujian dan tiba-tiba saja di paksa harus mengelola anak kita dengan pengetahuan yang seadanya. Coba tebak resiko-resiko apa yang mungkin di alami oleh anak kita yang di didik oleh orang tua yang tidak pernah belajar menjadi orang tua dan kemungkinan besar malah “Belum Layak” menjadi orang tua?


Ya..., tentu saja akan banyak sekali masalah. Namun sayangnya pada saat masalah tersebut timbul apakah kita lantas tersadar akan ketidakmampuan kita dan minimnya pengetahuan sebagai orang tua..? Atau malah sebaliknya, kita dengan bertubi-tubi mempersalahkan anak, seperti anak yang susah di atur, anak yang keras kepala, anak yang pemalas, begini dan begitu.. , dan sebagainya. Kita lupa bahwa kita adalah orang tua yang tidak pernah bersekolah untuk menjadi orang tua, Kita lupa jika kita percaya bahwa anak itu terlahir sempurna, fitrah, suci. Kita juga lupa jika sesungguhnya anak kita itu adalah Maha Karya dari Robbnya.


Jadi apa bila terjadi konflik antara kita dan anak kita, apa yang sebenarnya sedang terjadi..? Anak yang tidak bisa didik atau kita orang tuanya yang tidak bisa mendidik..?

Kalau begitu ayo segera belajar menjadi orang tua yang “Layak” bagi anak kita, agar kita bisa mengubah konflik yang terjadi dengan anak menjadi sebuah kerjasama yang harmonis.

Kami akan jabarkan secara berseri dalam CD untuk membantu orang tua belajar menjadi orang tua yang “LAYAK”. Kita bisa dengarkan CD ini kapanpun ada waktu luang, saat kita terjebak macet di mobil atau saat sedang santai diruang tidur , dan sebagainya. Segera miliki Cdnya dan segera dapatkan manfaatnya. Jadilah Orang tua yang “Layak Terbang” bagi anak-anaknya.

Sumber: Ayah Edy

Suatu hari saya di tanya apakah saya boleh mengajarkan anak saya membaca di usia dini...? Karena saat ini marak metode yang mengajarkan anak membaca di usia dini.

Agak sulit untuk menjawab pertanyaan ini, untuk itu mari kita tanya pada diri sendiri, Tujuan apa yang mendasari kita mengajari anak membaca. apakah kita ingin anak kita bisa membaca atau kita ingin anak kita menjadi gemar membaca..? Pertanyaan ini sangat penting, karena jelas sekali bedanya anak yang bisa membaca dengan anak yang suka/gemar membaca.

Kalau tujuan kita hanya agar anak kita bisa membaca, dan biasanya dengan salah satu tujuan lainya adalah untuk di pamerkan pada saudara, kerabat atau tetangga, sungguh ini sayang sekali dan tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi anak kita.

Namun kalau tujuan kita adalah agar anak kita suka/gemar membaca maka mungkin jauh lebih bermanfaat bagi mereka kelak. Tapi sayangnya mengajarkan anak membaca diusia yang terlalu dini justru tidak membuat anak menjadi gemar membaca.

Hasil penelitian menjukkan bukti bahwa anak-anak yang diajari baca setelah usia 7-8 tahun justru membaca buku dan menulis jauh lebih banyak daripada anak yang di ajari baca sejak usia 5 tahun.

Kemudian hasil lain adalah bahwa kemampuan baca anak yang di ajari baca sejak usia 5 tahun dengan anak yang di ajari baca di usia 7-8 tahun akan sama kemampuannya pada saat mereka sama-sama berusia 10 tahun. Namun Minat baca anak yang diajari sejak usia lima tahun jauh lebih rendah dibanding anak yang diajari baca di usia 7-8 tahun.

Mengapa hal ini bisa terjadi...? Mari kita simak bersama penjelasannya.....

Otak anak pada usia dini itu bertumbuh sangat pesat, jika kita mengembangkan kemampuan kreatif mereka maka syaraf-syaraf kreatifnyslsh yang akan berkembang sangat pesat. Hal ini di tandai dengan rasa ingin tahu yang tinggi dari seorang anak. Namun jika tidak maka rasa ingin tahu atau syaraf-syaraf kreatifnya melemah, sehingga minat/rasa ingintahu anak pada berbagai hal juga melemah.

Oleh karena itu berdasarkan penelitian. Di ketahui bahwa jauh lebih penting mengajarkan anak kreatifitas sehingga syaraf-syaraf kreatifnya bertumbuh sempurna; syaraf kreatif yang tumbuh dgn sempurna ini akan akan membuat anak memiliki rasa ingin tahu yang besar akan berbagai hal, lalu setelah itu baru kemudian anak diajari bagaimana memenuhi rasa ingin tahunya tersebut melalu kemampuan membaca. Sehingga setelah dia bisa membaca maka dia akan gunakan kemampuan bacanya tersebut untuk mengeksplorasi segala informasi dari berbagai bahan bacaan untuk memenuhi rasa ingin tahunya tersebut. Begitulah penjelasan Kathy H Passeks, dalam bukunya yang berjudul Even Einstein did not learn a flash Card. atau Einstein ternyata tidak pernah belajar Flash Card.

Dari penjelasan tersebut ternyat di ketahui bahwa mengajari anak membaca di usaia dini justru kontra produktif terhadap pertumbuhan syaraf-syaraf kreatif yang dimilikinya. Sehingga pada saat anak sudah bisa membaca, dia tidak tahu untuk apa kemampuan itu dia gunakan, karena rasa ingin tahunya akan sesuatu tidak ada.

Oleh karena itu jika kita perhatikan pendidikan-pendidikan usia dini yang ada di negara-negara maju pada umumnya sebagian besar aktifitasnya di fokuskan untuk membangkitkan kreatifitas anak melalui berbagai macam permainan dan diskusi; mereka baru diperkenakan baca tulis hitung diusia kira-kira 7 atau 8 tahun.

Para orang tua dan guru yang saya cintai....

Coba perhatikan berapa banyak buku yang sudah kita baca dalam setahun...? apakah menurut anda minat membaca kita saat ini cukup besar...? Jika tidak, mungkin bisa jadi karena kita dulu sejak kecil sudah difokuskan untuk bisa membaca dan bukannya mengembangkan kreatifitas dan rasa ingin tahu kita.

Akan tetapi sekali lagi segalanya terpulang kembali pada masing-masing orang tua. Apakah kita ingin anak kita cepat bisa membaca saja atau kita ingin anak kita menjadi anak yang gemar membaca...

Sumber: Ayah Edy

Suatu hari ada seorang ibu yang selalu mengeluh tentang semut, ya setiap kali ia meletakan makanan beberapa lama kemudian sudah di kerumuni oleh semut. Kebetulan ibu ini memang senang dan ahli memasak, jadi selalu saja ia berusaha menyajikan masakan-masakan yang lezat bagi keluarga.


Apa lagi bulan ini adalah bulan Puasa, jadi ia lebih semangat lagi untuk menyajikan hidangan-hidangan istimewa bagi keluarganya. Namun ada satu hal yang kerap kali membuatnya kesal dan marah yakni manakala hendak menyantap hidangan puasa selalu saja semut mencicipinya terlebih dahulu.


Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengusir para semut pengganggu ini dari rumahnya, namun tak ayal semut itu tidak pernah mau beranjak dari rumahnya. Berbagai upaya keras dilakukan, semakin keras usahanya untuk mengusir semut sepertinya malah semakin keras juga semut-semut itu menunjukkan perlawannannya.

Saking bingunnya akhirnya ibu ini meminta nasihat dari seorang kerabat yang kebetulan paling di tuakan dalam keluarga karena memang orangnya begitu arif dan bijaksana.


Pada saat bertemu si ibu mulai menceritakan panjang lebar tentang prilaku semut dirumahnya dan berbagai upaya yang telah ditempuhnya untuk menghentikan prilaku semut di rumahnya. Namun semut juga tidak juga ada perubahan yang berarti, sehingga ia sering dibuat jengkel dan marah karenanya.


Setelah selesai dengan semua uneg-unegnya tentang semut akhirnya ia berkata “Jadi apa yang terbaik harus saya lakukan untuk bisa mengatasi masalah ini..?”

Diluar dugaanya sang bijak berkata, begini jika kamu tidak menyukai semut dan hal itu telah membuat kamu jengkel dan marah, nah mengapa kamu sekarang tidak belajar untuk menyukainya. Ya yang kamu butuhkan adalah menerima semut itu apa adanya dan berusaha untuk menyukainya, jadikan semut itu adalah bagian dari pada kehidupan kita. Karena memang dimanapun kita berada dimuka bumi ini kita akan selalu menemukan semut bersama kita.


Lalu kemudian si Ibu itu bertanya lagi; bagaimana mungkin aku bisa menyukai semut yang terus menggangguku..? Lalu saudaranya yang bijak itu kembali berkata: Orang yang membenci sesuatu selalu akan merasa terganggu danga apapun yang dilakukan oleh orang yang dibencinya tersebut, tapi orang yang menyukai sesuatu dia tidak akan pernah merasa terganngu, karena memang perasaan mengganggu itu terlahir dari tidak adanya rasa cinta.


Coba perhatikan, seorang ibu yang bagitu mencintai bayinya, karena bayi tersebut telah lama dinanti-nantikannya, ibu ini sama sekali tidak merasa terganggu jika bayinya menangis di tengah malam karena pipis atau lapar ingin menyusu meskipun ia sedang terlelap tidur karena lelah telah mengurusnya selama seharian penuh, mengapa karena dia begitu mencintai bayinya, tapi bagi seorang baby sitter yang tidak mencintai bayi tersebut, dengan kejadian yang sama mungkin ia akan merasa terganggu sekali.


Jadi bukan sesuatu yang membuat kita terganggu melainkan tidak adanya rasa suka dan cintalah yang telah mengganggu perasaan kita. Maka agar kita tidak merasa terganggu sukailah apa yang sebelumnya kamu benci dan bangunlah rasa cinta antar sesama mahluk, maka jika kita berhasil melakukannya kita tidak akan pernah merasa terganggu lagi selamanya.


Para orang tua dan guru yang saya cintai dimanapun anda berada, jika selama ini ada yang merasa terganggu oleh prilaku anak atau anak murid-murid kita di sekolah maka mulailah menyukai dan mencintainya dengan sepenuh hati, percayalah setelah itu perlahan-lahan kita tidak akan merasa terganggu lagi oleh prilaku mereka.

Sumber: Ayah Edy

Orang tua dan sekolah paling khawatir jika anakyna tidak pintar. Kita tidak pernah khawatir jika anak kita tidak jujur dan berkarakter. Tidak ada tempat bagi raport anak disekolah untuk masalah karakter melainkan hanya sebatas kolom Alpha-Ijin dan Sakit. Ukuran karakter bagi anak kita adalah sebatas seberapa banyak dia Alpha dan Ijin.


Kita gencar melakukan Remedial bagi nilai-nilai anak kita yang merosot dibawah standar, namun kita tidak pernah sibuk melakukan REMEDIAL bagi Karakter anak yang dibawah tandar. Kita sibuk mengirim anak kita ke kursus dan les agar nilai kepintaran anak kita meningkat, tapi kita santai-santai saja melihat nilai akhlak anak kita yang merosot jauh dibawah standar.


Padahal kita sudah punya contoh yang "terang benderang", gamblang segamblang-gamblangnya tentang sebuah negeri, yang orang2nya pintar tapi tidak jujur dan berkarakter. Namun sayangnya kita masih tidak juga sadar. Raport zaman kita dulu bersekolah dan Raport zaman anak kita bersekolah sekarang masih sama saja, nilai karakter yang tercermin di raportnya masih sebatas kolom Alpha-Ijin & Sakit.


Dalam kehidupan nyata kita mendapati bahwa untuk bisa menjadi seorang pembantu rumah tangga saja agar bisa bisa di cintai oleh majikannya, yang dibutuhkan bukanlah KEPINTARANNYA melainkan karena ia JuJur dan Rajin. Jujur dan rajin adalah sebagian kecil saja dari unsur karakter. Jika anda Bos, saya yakin dan bisa di jamin pasti lebih suka memilih Assisten yang jujur ketimbang yang pintar tapi tidak jujur.


Tapi sayangnya mengapa kita belum juga sadar, bahwa dgn Karakter atau Ahlak orang bisa menjadi Besar, Terkenal & Panutan manusia sepanjang Zaman. Kita memuja dan memuji org yang berkarakter mulia ini disetiap doa kita, namun setelahnya kembali lagi fokus pertanyaan kita pada anak adalah berapa nilai ujian kamu dan bukan berapa banyak kebaikan yang telah kamu lakukan hari ini?


Kita rindu pemimpin bangsa yang berkarakter seperti Bapak Pendiri Bangsa ini, tapi bagaimana mungkin pemimpin yang seperti ini akan datang di negeri ini jika anak-anak kita terus di didik untuk mendapatkan nilai yang tinggi dan bukan karakter yang mulia?? bagaimana mungkin ia akan hadir jika target2 sekolah dan Pengambil Kebijakan di Negeri 1001 masalah ini masih pada hasil ujian & nilai yang tinggi bukan akhlak yang tinggi dan mulia?


Semoga kita segera tersadarkan atas kekeliruan kita selama ini dalam mendidik putra-putri kita tercinta dirumah dan disekolah. Agar negeri ini bisa segera keluar dari 1001 masalah yang setiap hari terus mendera silih berganti tanpa jelas kapan akan berakhir.

Sumber: Ayah Edy

………….


5:39am
ayah mau nanya ya?


5:40am
Silahkan bunda


5:43am
anak saya itu disekolah masuk program kelas akselarasi klas 4..yang saya kawatirkan dia usianya masih 9th berarti tahun depan dia udah klas 6 dan naik ke smp apa itu bagus buat perkembangan anak ya ayah trus hampir setiap hari dia ada ulangan ayah saya takutnya dia stres


5:44am
Kami sebenarnya krg sepaham dgn program akselerasi, karena perkembangan anak itu mestinya berjalan alami disesuaikan dengan kecepatan dan keunikan masing-masing. Program ini hanya ada di Indonesia sepertinya...?

Meskipun ada beberapa anak yang bisa mengikuti program aksel, namun kebanyakan dari mereka tertekan.


5:49am
betul ayah saya setuju,tapi anak saya malah ga mau saya pindah kekelas biasa...dan untuk semester ini semua narasi dari gurunya bahwa anak saya kalau dikelas dalam menerima pelajaran dia terkesan cuek dan suka bercanda tapi dia bisa mengerjakan semua tugas sekolah dgn peringkat ke tiga...kalau sudah terlanjur masuk seperti itu apa yang harus saya lakukan ya ayah?

5:54am
Biasanya guru dan sistem sekolah mengesankan anak2 yang tidak di kelas aksel adalah anak tidak pintar atau buangan. Fenomena ini persis terjadi spt zaman kita dulu, bila kita ada di jurusan yang bukan A1 atau A2 adalah pinggiran atau kurang pintar. Sy dulu A3 sosial, apalagi jurusan A5 agama, jauh dari pintar. Itulah sebabanya agama di negeri ini berantakan karena kita dulu pernah punya pandangan jurusan A5 yakni agama itu rendah dan bodoh dibanding jurusan A1 atau IPA. Sekarang hal itu diulangi lagi dalam bentuk yang berbeda yakni program Aksel. Jadi kebanyakan anak tidak mau dipindah karena faktor takut di olok-olok dan di anggap tidak pintar lagi.


6:00am
oooo pantesan anak saya ga mau pindah kelas...trus gimana saya harus menangani kasus ini ayah..apa perlu pindah sekolah ya?karena mengingat saya tinggal dibekasi timur dan disini sekolah yang menurut saya bagus belum ada..akhirnya saya memutuskan cari sekolah yang terdekat dengan rumah yaitu XXX


6:08am
Sy dulu pernah di undang oleh salah satu sekolah yang sepertinya cukup memahami anak,(sy lupa nama sekolahnya) letaknya di satu perumahan (sy agak lupa) yang sy ingat untuk masuk ke sana ada pintu Toll yang lgsung terhubung oleh jembatan fly over (jembatannya bagus dan cukup artistik) setelah pintu toll Bekasi Timur..?

Pimpinan sekolahnya jika tidak salah adalah Mantan dari XXX yang memiliki visi yang agak berbeda dan lebih terbuka mungkin patut untuk di jajaki ?


6:12am
00 itu pak XXX itu yang dulu pas seminar di grand wisata yang jadi moderatornya ya ayah,saya juga kenal karena dia orgnya sangat komonikatif....

tapi kalau untuk sekolahnya saya kurang sreknya karena itu masih baru jadi fasilitas kurang lengkap..apa itu juga penting ya ayah?


6:16am
Orang-orang sukses dan hebat di dunia kebanyakan mereka tumbuh menjadi hebat dan besar bukan karena diberikan banyak fasilitas melainkan memiliki akhlak yang bagus dan mental yang kuat dan pantang menyerah. Justru anak2 yang banyak di beri banyak kemudahan dan fasilitas oleh orang tuanya banyak yang menjadi anak manja dan tidak mandiri. How do you think bunda..?


6:22am
Negara2 maju sepeti Jepang, Korea, Belanda , dan sebagainya bukanlah negara2 yang memiliki banyak fasilitas dari Alloh -subhanahu wa ta’ala- yang berupa kelimpahan kekayaan alam, melainkan memiliki penduduk yang bagus akhlaknya dan pekerja keras yang pantang menyerah. Negera yang memiliki iklim yang baik, tanah yang subur, mineral yang banyak, pulau, hutan, hasil laut yang melimpah malah menjadi negara yang tertinggal. How do you think bunda..?


6:26am
waduh bener banget ayah saya baru nyadar...hehehe...ok terimakasih ayah..selama ini saya selalu ikutin seminar2 ayah yang ada di sekitar daerah saya..juga dengerin ayah diradio dan sun tv...buku2 ayah juga sangat bagus buat mendidik ayah...saya sangat membutuhkan hal tersebut buat mendidik anak saya yang ada 5 banyaknya...karena saya merasa bahwa didikan orang tua saya dulu tidak ingin saya ulang untuk anak2 saya....semoga anak2 saya bisa berkarakter dan bisa mengubah bangsa ini bisa menjadi baik kelima2 nya ya ayah....apalagi ALLAH sudah kasih modal dasar IQ yang tinggi...semoga saya tidak salah mendidik anak2 saya...terimakasih ya ayah....nasehat ayah sangat berarti buat saya...seorang ibu yang ndeso dan ga ngerti apa2


6:31am
Mari Kita Bangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga ; Bukankah itu juga yang diminta Alloh -subhanahu wa ta’ala- pada kita : Selamatkanlah diri dan keluargamu dari Api Neraka..? Jadi tidak perlu pusing dengan "porak porandanya" bangsa ini, Jika setiap keluarga berhasil mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya Insya Allah seluruh penyakit bangsa ini akan segera sembuh dan kembali menjadi negara yang sehat, seperti cita-cita Bapak Pendidiri Bangsa kita dulu. Sekali lagi senang bisa berbincang dengan bunda. Mohon pamit dan salam hangat untuk keluarga dirumah.

Sumber: Ayah Edy

Kepada para orang tua yang memiliki Putra-Putri yang gemar bermain "Game" dan membaca Komik agar berhati-hati, karena disinyalir banyak beredar game dan komik yang diselingi gambar-gambar Porno Vulgar yang kurang patut di lihat oleh anak-anak kita yang berada di bawah umur.


Minggu ini kami baru menerima laporan testimoni dari seorang ibu di Aceh yang menyatakan bahwa tanpa sengaja ia telah menemukan pada game GTA ( Grand Theft Auto )dalam salah satu misinya terdapat adegan senggama selama sekian menit yang sangat Vulgar! Hal ini telah membuat mereka sebagai orang tua saat ini mengalami Shock Berat !


Saya sering menemani anak saya untuk menyaksikan film-film kartun Jepang/China Seperti Naruto, Mushasi, Avatar, , dan sebagainya, saya mendapati bahwa ceritanya ternyata bukan untuk di konsumsi anak-anak, malainkan untuk orang dewasa, karena dari kata-katanya banyak yang sangat negatif seperti "Bodoh", "Curang" "Licik" "Kurang Ajar", "Sialan" dan sejenisnya, yang dengan mudah ditiru anak-anak. Meskipun kemasannya adalah kartun anak tapi didalamnya mengajari tentang "Kencan" terkadang ada adegan berciuman dengan konteks cerita ala orang dewasa, sama sekali tidak menceritakan dan mencerminkan dunia anak-anak.


SEKALI LAGI HATI-HATI ! FILM KARTUN YANG PADA AWALNYA SAYA ANGGAP AMAN, TERNYATA JUSTRU SANGAT BERBAHAYA KARENA SISIPAN-SISIPAN YANG TIDAK BANYAK DIKETAHUI OLEH PARA ORANG TUA.


Salah satu masukan dari pembaca blog ini:

alam-takambang berkata...


games di Playstation, kalau tidak di awasi sangat merusak. Saya mempunyai ponakan 7 thn, diasuka sekali games balapan, tapi yang sangat tak mendidik dalam games sang tokoh berada sebagai orang yang tidak taat hukum, balapannya di jalan raya, keluar masuk tol melawan arah, dan yang mereka perankan adalah lawan dari polisi, menurut saya ini sangat tidak mendidik membuat anak tidak mengerti pentingnya aturan

Semoga Informasi ini bisa disikapi dengan bijaksana dan semoga hal ini bisa menambah kehati-hatian kita para orang tua dan guru terhadap upaya-upaya yang merusak moral anak-anak kita di usia dini.

Sumber: Ayah Edy

Apakah kita sering bermain saat sedang bekerja..? Mungkin karena dulu kita termasuk anak-anak yang kurang bermain karena terpaksa/dipaksa harus belajar, belajar tiada henti dan mengerjakan PR yang bertumpuk tiada habisnya. Padahal saat itu Alloh -subhanahu wa ta’ala- merancang kita sebagai mahluk kecil yang tugasnya bermain.


Mengapa kita alergi melihat anak kita bermain. Yang pertama karena dulu orang tua kita juga alergi melihat kita bermain (faktor warisan orang tua). Yang kedua perngaruh lingkungan yang mengatakan bahwa jika anak rajin belajar maka jd orang sukses dan jika anak terlalu banyak bermain jadi orang gagal. Kita lupa pada fakta sejarah, seolah-olah orang-orang yang sukses saat ini dulu waktu kecilnya tidak pernah bermain dan selalu belajar.


Fakta sejarah justru menunjukkan sebaliknya; Leonardo da Vinci sang Jenius Dunia di segala bidang, dulu waktu kecilnya selalu bermain keliling kota Vinci bersama kakeknya. Thomas Edison selalu bermain di Garasinya yang dia katakan sebagai Laboratorium, Albert Einstein selalu bermain di danau bersama perahunya, saat ia tidak menyukai pelajaran di sekolahnya, dan banyak lagi tokoh sukses lainnya yang pada masa kecilnya justru sangat puas bermain. Davinci, Edison dan Einstein kecil ini tidak menyadari bahwa malalui bermain itulah justru sebenarnya mereka banyak belajar.


Itulah mengapa AS Neil mendirikan sebuah sekolah di Inggris “THE SUMMER HILL” School, yang membolehkan setiap anak untuk bermain dan memilih aktivitas harian yang ingin dipelajarinya, dan bahkan belajarpun dilakukan sambil bermain. Itulah sekolah yang sangat di sukai anak dan di cintai oleh para alumnusnya namun sekaligus di benci oleh Dewan Pendidikan Kota.



Begitu pula dengan Sosaku Kobayashi di Jepang dengan sekolah Tomoegakuen, sekolah yang berhasil membuat semua dan seluruh siswanya menjadi orang sukses di dalam dan di luar negeri, menjadi Duta Kemanusiaan di PBB, menjadi Ahli Nuklir di AS, Menjadi Ahli Ruang angkasa di Nasa. Sekolah yang selalu mengajak anaknya bermain dan bermain, dan mereka menyebutnya itu adalah belajar.


Oleh karena itu jika anak anda berusia balita hingga SD ijinkanlah ia untuk bermain, karena bermain adalah bagian dari fitrah alami seorang anak. Belajarlah sambil bermain, dan mengerjakan Tugas sambil bermain. Pilihkanlah permainan yang sehat bagi mereka.


Tahukah anda bahwa mayoritas permainan tradisional Indonesia sangat sehat dan mendidik seperti Congklak (strategi, kejujuran, kesabaran, hitungan), “Yeye” Karet lompat atau Karet Putar (Motorik, konsentrasi, prestasi, euritmik), Mobil-mobilan kulit jeruk (kreativitas, inovasi, non toxic, pemanfaatan limbah, , dan sebagainya.


Michel Jackson adalah contoh Tragis dari seorang anak yang “di renggut” masa kanak-kanaknya oleh sebuah ambisi sukses orang tua. Anak kecil ini telah di paksa dengan kekerasan untuk melalukan latihan serius ala orang dewasa dan tidak di ijinkan untuk menikmati masa kanak-kanaknya secara alami.


Betul memang MJ secara kasat mata kelihatan sebagai orang yang sangat “SUKSES” bergelimang harta dan ketenaran, namun tahukah anda bahwa jiwanya begitu rapuh dan selalu rindu akan masa kanak-kanaknya yang hilang terampas dan tidak pernah bisa kembali lagi. Itulah mengapa dirinya juga sekaligus bergelimang masalah.

Ya...!! masalah yang berawal dari ambisi orang tua dengan alasan agar kelak anaknya menjadi orang sukses. Mari kita renungkan bersama...

Suatu hari saya pernah bertemu dengan Pimpinan Radio Smart FM Jakarta dan menggoda beliau dengan sebuah pertanyaan jahil namun sekaligus serius, malah mungkin teramat serius.

Begini kira-kira dialognya waktu itu:

Pak seandainya hari ini Alloh -subhanahu wa ta’ala- berada disini bersama kita dan kemudian berkata pada Bapak, bahwa “Mulai hari ini Aku berikan segala kekuatan padamu untuk memperbaiki Indonesia untuk bisa menjadi jauh lebih baik lagi, begitu kira-kira Alloh -subhanahu wa ta’ala- berkata pada Bapak. Nah... pertanyaan saya adalah, “Kira-kira Bapak akan memulainya dari mana..?”


Diluar dugaan saya, seorang yang hebat sekaliber beliaupun ternyata tertegun dengan pertanyaan tersebut. Ya tentu saja hal ini sangat wajar karena untuk menjawab pertanyaan yang sama, saya sendirpun perlu waktu hingga 7 tahun untuk merenungkanya.

Lalu untuk memecah keheningan suasanya akhirnya sayapun menyela, “Jika saya yang di tanya oleh Alloh -subhanahu wa ta’ala-, saya sudah punya jawabannya Pak !”

“Apa itu..?!”, tanya beliau dengan sangat terkejut sekaligus antusias. “Saya akan memulainya dari keluarga..!” jawab saya, “ya..! saya akan memulainya dari keluarga sendiri..! Jawab saya dengan penuh keyakinan. Saya merasa begitu yakin sekali bahwa kita bisa Membangun Indonesia yang kuat mulai dari membenahi keluarga kita sendiri.


Itulah cikal bakal awal diangkatnya Program Indonesian Strong from Home di Radio Smart FM.

Dan ternyata karena kami berdua memiliki visi yang sama tentang bangsa ini, maka program Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluargapun mulai di gelar di Radio Smart FM pada Minggu Pertama, Januari 2006. Dimulai dengan hanya 1 jam kemudian ditambah menjadi 2 jam, dan sejak Juli 2008 Live talkshow Indonesian Strong from Home di tayang ulang pada Minggu malamnya.


Program ini pada dasarnya memiliki cita-cita untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya membangun keluarga inti sebagai fondasi dasar bangunan bangsa ini. Tak akan ada bangunan menjulang tinggi yang Kokoh di atas Fondasi yang Rapuh.


Sungguh sebuah berkat yang besar dari Alloh -subhanahu wa ta’ala- Yang Maha Kuasa bahwa dalam waktu hanya 2 tahun saja program ini ternyata telah medapatkan sambutan dan dukungan yang sangat luar biasa dari para orang tua dan guru diseluruh pelosok tanah air, mulai dari perkotaan, pedesaan sampai daerah perkebunan kelapa sawit nun jauh dipelosok, program ini juga telah menggugah dan diminati oleh berbagai kalangan mulai dari akar rumput sampai akar beringin.


Program yang awalnya hanya untuk Membangun Kesadaran para orang tua, namun kini telah berkembang menjadi sebuah GERAKAN MEMBANGUN BANGSA yang menjadi milik para orang tua dan guru diseluruh pelosok tanah air. Sekali lagi ini sebuah berkat yang tiada terhingga dari Alloh -subhanahu wa ta’ala- Semesta Alam.

Progaram ini pada intinya adalah memberikan pencerahan dan bimbingan pada para orang tua untuk bisa membimbing anak-anaknya secara tepat agar anak-anak mereka kelak menjadi anak yang sukses. Dilakukan dengan berbagai cara dan media baik radio maupun televisi melalui program Live Talkshow, Pelatihan & Parenting Workshop, Penulisan Artikel di Majalah Keluarga, Penerbitan buku-buku dan CD parenting bagi orang tua serta para guru.


Program inipun terus bergerak maju tanpa henti, dan dalam waktu dekat ini kami telah berencana untuk membangun sekolah yang berfokus pada fitrah penciptaan anak berbasiskan Multiple Intelligence, Holistic Learning dan Character Building yang mengedepankan kerjasama guru dan orang tua dalam mendidik anak bersama-sama secara tepat.

Kelak apa bila program sekolah ini telah berhasil mencetak generasi unggul bangsa, maka akan kami jadikan sebagai pusat pembelajaran bagi para guru di seluruh tanah air tercinta. yang Insya Allah akan kami beri nama The Teacher Institute of Learning Center.

Semoga Alloh -subhanahu wa ta’ala- selalu bersama dan memberkati setiap langkah dan gerakan kita dalam Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga.


Hari ini juga, Mari kita pastikan diri kita telah menjadi bagian dari Gerakan Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga..!


Kalau bukan kita yang peduli lantas siapa lagi? Kalau bukan sekarang waktunya, lantas mau kapan lagi ?


Let’s Make Indonesian Strong from Home !

Sumber: Ayah Edy