Subscribe RSS

 Wahai saudaraku, sesungguhnya jikalau kita luput dari makanan dan minuman
maka itu hanya berakhir dengan kematian. Akan tetapi, jikalau luput dari ilmu
syar`I maka itu menyebabkan sengsara dunia dan akhirat.
 Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan melihat siapa yang mengatakan dan ambillah hikmah dimnapun engkau bisa temukan sebab hikmah adalah pusaka orang beriman yang hilang.
 Wahai saudara se-Dienku, ingatlah bahwa dengan ilmu, kita selamat dunia dan akhirat tapi ingat juga bahwa karena ilmu pun kita mendapat kesesatan, kesengsaraan, bahkan laknat dari Allah . Jika ilmu yang kita meliki tidak
kita amalkan maka itu akan menjadi kesesatan bagi kita dunia dan akhirat.
Ingatlah ilmu itu mesti diamalkan dengan perbuatan bukan hanya dengan
lisan dan untuk disimpan karena selama itu akan dimintai pertanggung jawabannnya. Janganlah mau dikalahkan dengan hawa nafsu syaiton laknatulloh, tidak ada yang mengetahui kapan tida ajal ikita ? Apakah kita sudah siap?


 Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali amalan.
Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali kedermawanan.
Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali kesetiaan.
Tidak ada kebaikan bagi sedekah kecuali niat yang ikhlas.
 Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar.
 Akal yang diagungkan di atas wahyu (Al-Qur`an dan Sunnah Nabi ) menjadikan manusia seperti robot. Fikiran tanpa sesuai dengan Sunnah Rasulullah .
 Orang yang berakal itu bukanlah orang yang pandai mencari-cari alasan untuk membenarkan kejelekannya setelah terjatuh ke dalamnya. Tetapi orang yang berakal ialah orang yang pandai menyiasati kejelekan agar tidak terjerumus ke dalamnya.
 Diam bukan berarti bodoh dan bicara bukan berarti pintar.
 Jauhilah ilmu tasawuf karena hal itu tidak sesuai dengan perintah Rasulullah
, percuma kita mencintai Rasulullah sementara Beliau tidak menyukainya (Tasawuf).
 Kebencian tidak pernah bisa diredam dengan kebencian. Hanya dengan cinta, kebencian akan mereda. Tapi ingat, tidak ada kecintaan kepada orang musyrikin dan ahli bid`ah (pembuat syariat baru dalam Islam).
 Sinar pagi hanya terlihat oleh orang yang terbuka mata inderanya dan cahaya kebenaran hanya terlihat oleh orang yang terbuka mata hatinya.
 Seseorang bisa menerima kebenaran bukan karena isinya tetapi cara menyampaikannnya.
 Orang yang sudah matang ilmunya, sedikit bicaranya.
 Menulis bukan untuk memberi TAHU, tetapi berusaha mencetus MAHU, agar bergerak menuju MAMPU. Pencerahan bukanlah pada mengumpul pengetahuan, tetapi keupayaan untuk membuka jalan... kembara insan mencari Tuhan (Abu Saif).
 Janganlah engkau mendebat orang fasih bicara dan orang yang bodoh. Orang yang pandai akan mengalahkanmu dan orang bodoh akan menyakitimu.(Qiblati)
 Semua orang mampu mempelajari Al-Qur`an tetapi tidak semua orang mampu memanfaatkan Al-Qur`an.
 Bila sesuatu tidak diperlakukan sebagaimana tujannya, pasti yang timbul adalah kerugian.
 Wahai penuntut ilmu! Luruskanlah niat dalam menuntt ilmu dan bersungguh- sungguhlah dalam mengamalkannya. Karena ilmu syar`i ibarat pohon dan amal itu merupakan buahnya. Dan seseorang tidak dianggap sebagai orang yang berilmu selama ia belum mengamalkan ilmunya. (Al-Khatib Al Baghdadi)
 Wahai pemuda ambillah sesuatu dari dunia untuk badanmu dalam hal yang memang engkau harus mengambilnya dan ambillah akhiratmu untuk hatimu.(Sufyan Ats Tsauri)
 Betapa indahnya iman dengan hiasan ilmu. Betapa indahnya ilmu bila dihiasi denga amal. Betapa indahnya amal bila dihiasi dengan kelembutan. Betapa indahnya kelembutan bila dihiasi dengan keikhlasan. Betapa agungnya keikhlasan bila dihiasi dengan senyuman. Betapa manisnya senyuman bila dihiasi dengan rasa kasih sayang. Betapa murninya kasih sayang bila dihiasi dengan cinta. Betapa manisnya cinta bila didasari dengan kejujuran karena Allah .
 Memperoleh buah amal di dunia adalah kabar gembira bagi orang yang beribadah akan bekal adanya pahala di akhirat.
 Ilmu itu laksana cahaya, namun cahaya itu akan redup ketika maksiat manghalanginya.
 Keseuksesan di dunia dan di akhirat, dirumuskan sbb :
sukses = be (niat ikhlas) x do (beramal sesuai tuntunan Rasulullah ) x pray(berdoa) = have (pahala)
 Orang cerdas adalah orang yang mempu menundukkan jiwanya dan beramal untuk kehidupan sesudah mati. Orang pandir adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah dengan angan-angan kosong.
 Sesungguhnya sepandai-pandai orang adalah yang menyiapkan diri untuk perjalanan yang tak pernah henti. Ia mengambil bekal dari dunianya untuk kehausan yang tak tersegerakan.
 Berpegang dengan Assunnah adalah keselamatan(ulama)
 “Berpeganglah dengan atsar Salafus Shalih meskipun seluruh manusia menolakmu dan jauhilah pendapat orang-orang (selain mereka) meskipun mereka menghiasi perkataannya terhadapmu”
 “Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah Shadaqah, menyerahkan kepada ahlinya adalah Taqarrub. Ilmu adalah teman dekat dalam kesendirian dan sahabat dalam kesunyian.(Muadz bin Jabal)
 Kelemahan orang berilmu, apabila dia mengetahui dirinya pintar, kelemahan
orang bodoh, apabila dia tidak mengetahui dirinya bodoh.
 Orang yang berilmu adalah laksana emas di dalam saku orang-orang yang
haus.
 Tidaklah dikatakan berilmu sebelum nampak nyata bekas ilmunya di kalangan
masyarakat.
 Seseorang dikatakan berilmu apabila dia dapat berusaha melenyapkan
kesulitan yang datangnya tiba-tiba.
 Berilmu adalah kemenangan paling besar dan paling sulit yang dapat
diperoleh bagi jiwa.
 Jangan mengatakan sesuatu tanpa ilmu, hal itu adalah kesalahan.
 Apapun yang dibawa tanpa ilmu, membawa kejahatan.
 Manusia dibinasakan oleh 2 sifat, yaitu kelebihan harta tanpa
menyedekahkannya dan berfatwa tanpa ilmu.
 Positif kepada sesuatu adalah lebih baik daripada ngatif tidak ada artinya.
 Ciri orang yang berilmu adalah rajin dan mau belajar.
 Ilmu tanpa syariat adalah lumpuh, syariat tanpa ittiba` adalah buta.
 Manusia tanpa ilmu syar`i adalah seperti kuda tanpa kendali.
 Tanpa bekal agama yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah , manusia
menjadi serigala-serigala yang memakan sesamanya.
 Kita sekolah bukan untuk mendapatkan ijazah, melainkan untuk mendapatkan
ilmu syar`i.
 Pelajarilah Ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah
khasyah, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya adalah Tasbih,
mencarinya adalah Jihad.
 Keindahan pribadi bukanlah lantaran busana yang menghiasinya akan tetapi
keindahan sejati adalah lantaran karena ilmu dan amalannya.
 Sesungguhnya ilmu adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil
agama kalian.(Ibnu Sirin)
 Sesungguhnya orang terdahulu (salafus shalih) itu berhenti di atas ilmu dan
dengan bashirah yang tajam, mereka menahan dirinya serta mereka lebih
mampu dalam membahas sesuatu jika mereka ingin membahasnya.

Photobucket

 Orang tua lebih berarti daripada seratus guru.
 Tidak ada perhiasan yang lebih besar bagi seorang anak, selain daripada
kemuliaan orang tuanya.
 Berbakti kepada kedua orang tua adala duta yang sempurna daripata
kegembiraan.
 Cinta orang tua tidak pernah lapuk.
 Hati orang tua bagaikan jurang yang didasarnya selalu ada maaf.
 Hati orang tua adalah ruang sekolah anak-anak.
 Menolak sesuatu karena kuno tidak berlaku pada mentari dan rembulan serta
cinta orang tua.


 Ibu adalah permpuan tercantik, tetapi perempuan tercantik belum tentu
seorang ibu.
 Yang perlu ditabung oleh orang tua adalah kesabaran.
 Air mata ibu melembutkan hati anaknya.
 Air mata orang tua mempunyai kekuatan seperti kata-kata.

Photobucket

 Semua orang merasakan lezatnya bergunjing tetapi tidak semua orang menyadari bergunjing akan menjauhkan pelakunya dari Surga.
 Jika kamu ingin memperbaiki hatimu maka jagalah lidahmu.
 Berita kejelekan orang lain bukanlah untuk disebarluaskan tetapi ini adalah bahan untuk introspeksi diri.
 Berprasangka buruk merupakan bahan dasar dari bergunjing, sedangkan bergunjing merupakan awal dari fitnah, sementara fitnah akan menguras tabungan pahala kita.
 Bergunjing dibolehkan apabila untuk kezoliman yang merajalela, merubah suatu kemungkaran dengan menyebut kejelekan kepada penguasa yang mampu mengubahnya, memberi peringatan kaum muslimin tentang kejahatan, cacat budi pekertinya, pelaku bid`ah (pembuat syariat baru).


 Jangan pernah merasa lebih mulia dari orang lain karena kemuliaan seseorang tidak ada yang tahu kecuali Allah .
 Sombong itu menghinakan hal yang benar dan meremehkan orang lain
Menganggap dirinya lebih mahal dari kebenaran sehingga harga dirinya akan di bela walaupun dengan cara menjatuhkan kebenaran dan meremehkan orang lain.
 Ada manusia yang hidup seperti lalat, yang tidak mau hinggap kecuali di atas luka orang lain.
 Harta seringkali menyebunyikan hal-hal yang berkilauan hingga dengan
demikian ia akan menjerumuskan apabila dipuja-puja.
 Lebih baik tidur tanpa makan terlebih dahulu, daripada bangun esok pagi
dengan banyak hujan.
 Hutang ibarat laut yang tidak terbatas.
 Hutan adalah kemiskinan terburuk.
 Hal terbaik yang dapat dilaksanakan pada suatu hutang adalah membayarnya.
 Dengki dan iri tidak pernah berbeda.
 Siapa yang berenang dalam dosa, maka dia tenggelam dalam kesusahan.
 Menghindari dosa adalah lebih ringan daripada sakitnya penyesalan.(Umar
bin Khattab)
 Seperti halnya kawat menggigit besi, demikian pula iri hati menggigit
manusia.
 Gibah adalah kejelekan dan kehancuran yang bergabung menjadi satu.
 Orang yang bergibah tidak menemui 1 pun jalan titik terang di dalam
hidupnya
 Janganlah kita berburuk sangka terhadap perbuatan orang lain, kecuali kita
mengetahui mengapa dia sampai berbuat demikian karena kemungkinannya
adalah kita sendiri akan berbuat yang sama apabila berada dalam keadaaan
yang demikian.
 Cara menghadapi fitnah adalah bersikap kokoh seperti pohon beringin, tetapi
tetap rendah diri.
 Tukang fitnah professional adalah sebagian besar tidak mempunyai cukup
bakat untuk menandingi orang-orang yang mereka fitnah.
 Mencela adalah perbuatan yang tidak bijaksana dan memfitnah adalah
perbuatan sia-sia.
 Berburuk sangka dengan perkataan yang kasar adalah pertanda sempitnya
perbendaharaaan kata yang dimiliki ataupun kurangnya kebijaksanaan dalam
menilai sesuatu, ataupun kedua-duanya.
 Tukang fitnah adalah orang yang tahu jalan tetapi tidak dapat menaiki
kendaraanya.
 Maksiat adalah sumber kesengsaraaan.
 Apabila kejahatan tidak dibasmi, tidak ada jaminan bagi kebaikan.
 Ejek-mengejek semuanya percuma, ini bagaikan kita melempar pasir melawan
angin dan angin melemparkannya kepada kita.
 Jangan sekali-kali mendendam kepada orang lian.
 Menyimpan dendam dan kebencian, menyebabkan orang lekas marah, suram
dan lekas tua.
 Kedengkian itu merusak iman, bagaikan jarum menusuk kulit.
 Iri dan balas dendam adalah kata-kata yang sangat jelek. Lebih jelek lagi
adalah sifat daripada orang yang menyimpan perasaan itu.
 Orang yang menanamkan kedengkian, tent memetik kedukaan.
 Orang yang dengki sesame manusia, berarti mulai menyusahkan dirinya
sendiri.
 Orang yang iri hati, makan hati sendiri.
 Rasa iri hati dan dengki adalah perasaan syaiton-syaiton berkeliaran yang
menyelubungi fikiran manusia.
 Dengki hanya membuang masa.
 Di dalam dunia yang ada kematian, seharusnya kita tidak punya waktu untuk
saling membenci.
 Apabila syariat sudah diasingkan, bergoncanglah nilai kemanusiaan menanti
kerobohan.
 Orang yang menyibukkan dirinya dengan mengumbar aib orang lain,
menyebabkan dia tidak pernah mempunyai waktu bagi mengetahui aibnya
sendiri.
 Amarah berakhir dengan kekejaman.
 Marah menghukum dirinya sendiri.
 Marah adalah kegialaan sesaat.
 Apabila seseorang dalam keadaan marah, dia tidak dapat berada dipihak yang
benar.
 Jagalah baik-baik amarah kita karena tidak seorang pun menginginkan hal itu.
 Jangan melakukan apapun pada saat kita marah karena semua yang kita
lakukan serba salah.
 Sangat sulit untuk seorang yang sedang marah bias menjaga hubungan baik
dengan teman-temannya.
 Cahaya cinta membunuh semua kuman iri hati dan kebencian.
 Jangan membenci siapapun, tetapi berbuatlah kebaikan kepada semua orang.
 Apabila kita menyalahkan orang lain, selidikilah diri sendiri, sebab sering kali
terjadi kesalahan itu dimulai dari pada kita sendiri.
 Kebinasaan itu disebabkan 2 hal, yaitu putus asa dan bangga.(Ibnu Mas`ud)
 Hai anakku! Sesungguhnya sebagian ucapan itu lebih tajam dari mata pedang,
lebih keras dari batu, lebih pahit dari kesabaran, serta lebih menusuk dari
ujung jarum. Sesungguhnya hati itu adalah tempat persemaian bagi perkataan
yang baik.
 Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya daripada kematian karena menyia-
nyiakan waktu itu memutuskan diri dari Allah dan dari akhirat , sedangkan
kematian hanya memutuskan dari dunia dan isinya.(Ibnu Qayyim)
 Meniggalkan amalan karena Allah maka dia riya, beramal karena manusia
maka berbuat syirik dan ikhlas adalah Allah menyelamatkan kamu dari 2
perkara ini. (Fudhail bin Iyadh)


Photobucket

 Hati adalah cerminan jiwa yang di dalamnya ada sekeping matahari. Jika ia soleh, soleh pulalah amalannya dan jika ia rusak, rusak pulalah amalannya.
 Kekuatan komunikasi yang paling tinggi adalah berbicara jujur dengan sepenuh hati.
 Sebab kerasnya hati adalah dosa, kemaksiatan, sering bergaul dengan orang- orang yang lalai serta orang-orang yang fasiq, sedangkan yang menyebabkan hati menjadi lunak, bersih dan tentram adalah men-tauhidkan Allah .
 Cinta membuat hati yang keras menjadi lembut.


 Orang yang percaya pada dirinya, tidaklah mengharap bantuan orang lain.
 Bukan kekerasan yang mengalahkan kejahatan, melainkan kebaikan hati.
 Mempunyai hati akan bahagia bila bersemi di atas kebaikan.
 Hati yang bahagia dapat membuat muka tersenyum dan suara jadi bersahabat.
 Benci tidak dapat dihilangkan dengan benci, tetapi hanya dengan cinta.
 Tidak apa kehilangan semua harta kita, asal bukan kehilangan hati kita.
 Cita-cita yang tinggi hanya bisa diraih dengan himmah aliyah (motivasi yang
tinggi) dan niyyah shahihah (niat yang benar).(Ibnu Qayyim)

Photobucket

 Azan adalah seruan cinta bagi para pecinta dari Maha Pemilik Cinta yang Suci nan Agung. Termasukkah kamu orang-orang yang mencintai-Nya ? Maka bersegeralah kamu membalas cinta-Nya.
 Barang siapa merasa senang orang melihat amalannya(sedekah) maka dia itu adalah orang yang riya.
 Sedekah yang kita keluarkan hendaklah yang berkualitas.
 Sedikit tapi sering = banyak, banyak tapi jarang = sedikit. Karenanya, bacalah Al-Qur`an sesering mungkin walau hanya beberapa ayat. Sesungguhnya Allah
akan mengingat hamba yang senantiasa mengingat-Nya.


 Suara yang paling lembut adalah orang yang melantunan ayat-ayat Alloh .
 Nikmat solat malam sungguh tiada tara. Bila malam semakin larut, segala
makhluk beranjak ke pembaringan, sebagian yang lain larut dalam gelapnya
dunia malam yang hangar. Di saat itulah para hamba yang solat berjingkat
dalam diam, hamba mengerahkan tubuh dengan tubuh dengan wudhu, lalu
tumpas dalam penghambaan yang sungguh dalam. Nikmatnya sungguh dalam.

Photobucket

 Bukan tiada maksud Allah menciptakan manusia dengan 2 telinga dan haya
1 mulut. Sesungguhnya hamba lebih banyak mendengar dari pada bicara tanpa ilmu. (Hidayatulloh)
 Jika kita ingin memerintah seseorang, butlah kebaikan terlebih dahulu kepadanya.
 Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka yang berseri-seri saat bertemu dan mengucapkan kata-kata dengan lemah lembut.(Umar bin Khattab)
 Jadilah pribadi yang ramah. Keramahan dalam bertutur kata menciptakan keikhlasan. Keramahan dalam berfikir menciptakan kebijakan. Keramahan dalam memberi menciptakan kasih sayang.
 Tolong-menolonglah, jangan sekali-kali merendahkan, apalagi menyakiti.


 Jangalah Kamu Sekali-kali
Membunuh Mahluk Ciptaan
Allah , Siapa Tahu Kamu Akan
Masuk Surga Sebagai Orang
Yang Menolong Mahluk Allah
 Keanehan dari orang yang mengucapkan perkataan tentang seseorang (menggunjing)adalah, jika perkataan itu dilaporkan kepada yang bersangkutan maka akan mendatangkan madharat baginya. Dan jika perkataan itu tidak disampaikan maka dia juga tidak memberikan manfa'at kepadanya.
 Barang siapa yang dibenci manusia karena mencari ridha Allah maka
manusia (yang lain) akan mencukupinya (membelanya). Barang siapa
yang mencari ridha manusia dengan murka Allah maka Allah akan serahkan
dia kepada munusia juga. (Ummul Mu’minin Aisyah RA)
 Hai anakku! Sesungguhnya sebagian ucapan itu lebih tajam dari mata pedang, lebih keras dari batu, lebih pahit dari kesabaran, serta lebih menusuk dari ujung jarum. Sesungguhnya hati itu adalah tempat persemaian bagi perkataan yang baik.
 Manusia ada dua macam, mukmin dan jahil (bodoh), adapaun orang mukmin maka jangan engkau sakiti, sedangkan yang bodoh jangan kau bodohi. (Ar Rabi’ bin Khaitsam)
 Hati dan ruh bisa mengambil pelajaran yang bermanfaat dari penderitaan dan
penyakit, kebersihan hati dan ruh itu tergantung sejauh mana penderitaan
jasmani dan kesulitannya.(Ibnu Qayyim)
 Kalau bukan karena cobaan dan musibah di dunia ini, niscaya manusia terkena
panyakit hati seperti: Al-Kibr (kesombongan), Al-Ujub (bangga diri)
dan Al-Qoswah (keras hati). Padahal sifat-sifat itulah yang menyebabkan
kehancuran bagi seseorang di dunia dan di akhirat. Di antara rahmat Allah ,
kadang-kadang manusia tertimpa musibah, sehingga dirinya terlindungi dari
berbagai penyakit hati dan terjaga kemurnian ubudiyyahnya (kepada
Allah ). Mahasuci Allah yang merahmati manusia dengan musibah dan
ujian.(Ibnu Qayyim)
 Wahai anak Adam, setan mendatangimu dari segala arah terkecuali dari arah atasmu, karena ia tidak dapat menghalangi antara dirimu dan rahmat Allah .(Abu Qatadah)
 Tidak ada satu bentuk keburukan pun yang sebanding dengan hasad, seorang yang hasad mampu membunuh orang lain sebelum dia sampai kepada sasarannya (orang yang dia dengki). (Muawiyah bin Abu Sufyan)
 Wahai anak Adam, juallah duniamu dengan akhiratmu maka engkau
mendapatkan keuntungan keduanya, dan janganlah engkau jual akhiratmu
dengan duniamu karena engkau akan rugi kedua-duanya.( Al-Hasan bin
al-Hasan Abu Said al Bashri)
 Barangsiapa yang dibenci manusia karena mencari ridha Allah maka
manusia (yang lain) akan mencukupinya (membelanya). Barang siapa
yang mencari ridha manusia dengan murka Allah maka Allah akan
serahkan dia kepada munusia juga. (Ummul Mu’minin Aisyah RA)
 Hati orang yang dungu berada di mulutnya, sedang mulut orang yang bijak berada di hatinya.
 Barangsiapa yang datang dengan membawa kebenaran maka terimalah meskipun ia orang jauh yang kau benci. Barang siapa datang membawa kebatilan maka tolaklah meskipun dia orang dekat yang kau cintai. (Abdullah ibnu Mas’ud)
 Wahai anak Adam, setan mendatangimu dari segala arah terkecuali dari arah atasmu, karena ia tidak dapat menghalangi antara dirimu dan rahmat Allah .(Abu Qatadah)
 Tidaklah aku melihat seseorang yang takabbur terhadap yang berada dibawahnya melainkan dia di timpakan oleh Allah kehinaan melalui orang
lain yang lebih tinggi darinya.(Abu Hatim al Basati)
 Seseorang tidak bisa dipegang amanahnya sehingga lurus lisannya dan dia tidak lurus lisannya sehingga lurus hatinya. (al Hasan al Bashri)
 Siapa yang hilang sifat-sifat kelembutannya, hilang pula sifat-sifat yang
terpuji.
 Dunia sebenarnya tidak sejelek seperti yang dilakukan orang padanya. Baik
buruknya, tergantung pada cara kita memperlakukannya sesuai dengan jalan
hidup Rosululloh memperlakukannya.
 Jangan memikirkan aib seseorang, tetapi katakanlah setiap perbuatannya yang
baik.
 Melaksanakan amanah adalah pintu rezeki.
 Jangan lupa diri kita sendiri pada waktu kita berkhutbah kepada orang
lain.(Umar bin Khattab)
 Semiskin-miskin orang adalah orang yang miskin akhlaknya.
 Sebuah tong yang penuh dengan pengetahuan, belum sama nilainya dengan
setitik akhlak.
 Orang yang menyimpan banyak harta untuk anak-anaknya tetapi tidak
memperbaiki akhlaknya, sama saja dengan memberi cukup makanan kepada
ternaknya tetapi terdapat racun di dalamnya.
 Barangsiapa yang jelek akhlaknya maka ternodai agamanya. (Fudhail bin
Iyadh)


Photobucket

 Sesungguhnya Alloh menjadikan dunia terdiri atas 3 bagian: sebagian bagi mukminin, sebagian bagi orang munafik, sebagian bagi orang kafir. Maka orang mukmin menyiapkan perbekalan, orang munafik menjadikannya perhiasan, dan orang kafir menjadikannya tempat bersenang-senang.(Abdulloh bin Abbas)
 Tak kenal maka tak sayang.
 Rasa dekat kepada Allah tidak dapat terwujud dengan seketika tetapi
melalui proses kesungguhan hati. Tidak ada proses kecuali dengan taat
kepada Allah dan Rasul-Nya.
 Karena amal yang soleh yang sedikit, kita tertipu dengan dosa dan maksiat yang terus bertambah, andai dosa itu nampak pada tubuh, apakah kita masih bangga dengan amalan yang sedikit itu? Duhai celakanya diri ini…….
 Ketika dunia diagungkan, ketika dosa diremehkan, adakah hatikan mengingat kematian? Ketika rasa malu dihilangkan, ketika agama ditinggalakan, adakah kita memiliki kehormatan?


 Beramallahseberapa banyak hajat (kebutuhan) diri kita kepada Allah . Bermaksiat dan berbuat dosalah seberapa kuat diri kita menahan azab dan siksaaan Allah .
 Janganlah kita merasa bangga dengan amal soleh yang sedikit tapi merasalah cemas dari azab Allah dan berharap ridho serta surga-Nya.
 Seandainya saja kita mengetahui jika dinampakkan pahala kita bagai pakaian yang dipakai, maka pakaian kita saat itu belum mampu menutupi lengan kita bahkan sangat minim.
 Jika cinta adalah ketertawanan, maka tawanlah cintaku hanya pada-Mu, agar tiada cinta lain yang menawanku. Jika rindu adalah rasa sakit, jadikanlah rasa itu untuk aku selalu merindukan-Mu hingga akhir nyawa meninggalkan raga di hatiku hanya untuk satu cinta.
 Siang belum sempurna tanpa kehadiran matahari, begitu pula kebijaksanaan diri belum sempurna tanpa ketaatanan pada Allah
 Bersua dengan Allah dalam hidup adalah anugerah terindah baginya. Membuatnya merasa nyaman dan tenang sebab telah berakhir semua pengembaraan. Mengistirahatkan semua ragu dan bimbang yang menggelisahkan sebab ia telah berjumpa dengan keyakinan. Hal yang akan membuatnya marasai hidup yang berbeda, sebab ia telah menemukan intisarinya. Menemukan esensinya. Kini saatnya mengabdi, bukan lagi mencari. Akhirnya, hidupnya pun akan berbeda dengan manusia-manusia ingkar tak beriman.
 Apa yang akan diperlihatkan kepada kita, lubang Neraka ataukah taman
Surga? Tiada yang bisa kita lakukan lagi di kehidupan penantian itu. Tiada
yang menjamin kita akan melihat anak tanah? Hanya menuggu malaikat
penanya datang. Lalu menanti amalan kita menghampiri kita. Tahukah kita
bagaimana rupa amalan yang akan mendatangi kita ? Apa telah berusaha?
Sungguh sedih saat kita belum menyiapkan bekal dengan baik lalu maut
menjemput kita. Apalagi yang mampu kita lakukan usai tubuh berkalang Maut
datang tanpa salam, tak menyapa.Maut tiba pada waktunya tanpa permisi.
Betulkah kita sudah berusaha menyiapkan bekal kita nanti? Seberapa benar
kita mempersiapkan itu. Tiada yang menjamin kita masih hidup esok pagi.
Maka….. mar kita persiapkan diri menghadapi hari yang pasti itu.
 Selalu, ada kegelisahan yang mengusik kalbu. Menjadi energi pencarian melelahkan sepanjang hidup hingga bersua dengan ketenangan dan kedamaian yang didamba. Meski jalan mendaki terjal dan lembah menurun yang tak ramah, ia terus mencari. Meski badai datang, kemarau kerontang, laut membentang, dan gunung menjulang menghalangi, ia tak peduli. Rasa itu meronta-ronta di dasar jiwa. Merasuk kedalam jiwa dan melantunkkan syair- syair taubat ……
 “Merenung” itu seperti cermin yang dapat menunjukkan kebaikanmu dan kejelekanmu. Dengan cermin itu pula manusia dapat melihat tanda-tanda yang diberkan Allah , baik yang jelas maupun yang samar, sehingga akhirnya ia dapat berlaku lurus di dalam pengabdian kepada Robbnya.(Hasan Al-Basri)
 Manusia yang mendapat nikmat, adalah hamba-hamba yang ikhlas menerima kebenaran. Kalbu mereka bersinar karena al-Qur'an, ilmu, dan petunjuk. Mereka berjalan di bumi menyusuri shirathal mustaqim. Mereka pun pernah menjadi mayoritas pada zamannya. Ketika langit menyentuh bumi, hingga ajaran Sang Pencipta langit tidak lagi diingkari.
 Sungguh cinta karena Allah merupakan bagian dari ikatan iman yang
paling kokoh dan pondasi-pondasinya yang mendasar. Cinta itu merupakan
jembatan yang dibentangkan oleh Robb kita antara sesama kaum
beriman. Dengan cinta ini pula hati mereka tersambung. (Dr. Aidh Al-
Qorni)
 Cinta karena Allah adalah mencintai sesuatu semata-mata untuk mengharapkan ridho Allah yang Maha Pemilik sinta yang suci nan
agung.
 Jika cintanya orang-orang yang dimabuk cinta kepada Laila dan Salma, hati akan menjadi sirna. Maka apa gerangan yang akan diperbuat orang yang dimabuk cinta, manakala hatinya sangat cinta kepada Dzat Yang Maha Mengetahui Lagi Mahatinggi ?
 Cintakan Bunga, Bunga Kan Layu
Cintakan Harta, Harta kan Binasa
Cintakan Manusia, Manusia Kan Pergi
Cintakan ALLAH Itu Yang Hakiki & Kekal ………
 Kasih Manusia Sering Bermusim
Sayang Manusia Allah Abadi
Kasih Allah Tiada Bertepi
Sayang Allah JanjiNya Pasti
 Andaikan jiwa ini memahami eksistensi Robb kita niscaya kita akan terkepas dari jasad karena jatuh cinta pada sang Pencipta.
 Seorang mukmin menanam pohon kurma dan takut bila berbuah duri. Sedangkan orang munafiq menanam pohon duri dan meminta buah kurma yan segar.(Al-Fudhail bin Iyadh)
 Mari mendekat kepada Allah ….lebih dekat dan lebih dekat lagi ……agar tunduk di saat yang lain angkuh agar teguh di kala yang lain runtuh agar tergar biarpun yang lain terlempar.
 Jaminlah diri kalian untuk mengamalkan 2 hal, niscaya itu menjadi jaminan mendapat surga yakni beramal dengan sesuatu yang dicintai Allah kendati engkau membencinya dan tinggalkan apa yang dibenci Allah kendati
engkau menyukainya. Maka barang siapa konsekuen dengan hal itu
maka surga baginya.(Abu Hazim)
 Buah keridhaan adalah kegembiraan dan kebahagiaan terhadap Allah .( Ibnu Qayyim)
 Jika kesadaran berpasangan dengan kesadaran,
cahaya akan bertambah dan jalan menjadi terang;
tapi jika binatang buas mendampingi sesamanya,
kegelapan akan bertambah dan jalan pun lenyap
 Seorang yang beriman ketika membayangkan dosanya, dia seolah-olah duduk di bawah gunung yang khawatir gunung itu akan jatuh menimpanya.
 Makin banyak dosa, makin jauh jarak kita dengan Allah ……
 Dunia ini laksana sebuah hutan, orang yang berada di dalamnya berasa
tersesat, kecuali yang Allah beri petunjuk.
 Kebahagiaan tidak terletak dengan memilih apa yang kita inginkan, melainkan
karena kita tidak menginginkan apa yang tidak dapat kita miliki yaitu harta.
 Kebahagiaan berakar dalam batin dan ia tumbuh di atas ketentraman jiwa
yakni cinta kepa Robb alam semesta.
 Bahagia itu adalah tunduk dan patuh mengikuti perintah Allah dan Rosul-
Nya.
 Pemerintahan yang paling baik adalah pemerintahan yang mengajak kita
menaati Allah dan Rosul-Nya.
 Seseorang dapat hidup dengan Ayah dan Ibu, tetapi tidak mungkin hidup tanpa
kasih saying Allah .
 Hidup tidak ada harganya bagi orang yang tidak mempunyai kawan sejati,
ialah Al-Quran dan As-Sunnah.
 Jangan sampai kita menyesal di saat penyesalan tak lagi berguna. Ketika ayah
dan bunda telah tiada. Saat itulah kita sungguh-sungguh menyesali mengapa
tidak pernah benar-benar serius untuk berbakti kepada mereka.
 Tiada tempat tinggal bagi seseorang yang akan dihuni setelah kematiannya
kecuali tempat tinggal yang telah ia bangun sebelum kematiannya. Jika ia
membangunnya dengan kebaikan maka indahlah tempat tinggalnya, namun
jika ia bangun dengan keburukan dosa-dosa niscaya merugilah pemiliknya,
maka tanamlah pokok ketakwaaan itu selama kamu mampu, ketahilah bahwa
kamu akan menjumpai-Nya setelah kematiaannya.
 Sesungguhnya sedikitnya perkara halal, di sisi Allah itu banyak. (Fudhail
bin Iyadh).
 Ketakutan seorang hamba dari Allah itu tergantung dari kadar
pengenalannya kepada Allah , semakin tinggi pengenalannya kepada Allah
maka semakin takut ia kepada Allah , begitupun sebaliknya semakin rendah
pengenalannya kepada Allah maka ia semakin tidak mengenal Robbnya.
(Fudhail bin Iyadh)
 Dengan kemunduran suatu teknologi, tapi semakin takwa maka inilah
kemajuan.
 Kebaikan itu adalah apa yang tenang kepadanya jiwa dan menentramkan hati,
sedang dosa adalah apa yang menimbulkan rasa sesak dan ragu-ragu dalam
jiwa dan kebimbangan dalam dada.


Photobucket

 Tidak ada yang lebih berbahaya daripada apabila akal itu di atas wahyu,
karena di asalnya dari syeiton.
 Kita tidak dapat menghancurkan akal dengan membunuh manusianya, tetapi
dapat diganti dengan wahyu yaitu A-Quran dan As-Sunnah.


 Suatu akal yang akan tumbuh lebih baik sekiranya ditanamkan di bawah
wahyu. Bukan akal diper-Tuhankan.
Photobucket

 Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu.
 Asal dari semua pembangkangan adalah karena rela menuruti hawa nafsu. Sedangkan asal dari ketaatan adalah karena ketidakrelaan jiwa menuruti nafsu.
 Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah berpikirlah sejenak tentang
dunia ini dan kehinaannya. Berpikirlah tentang penghuni dan pencintanya. Dunia telah menyiksa mereka dengan siksa yang beraneka ragam. Memberi minum dengan minuman yang paling pahit. Membuat mereka sedikit tertawa dan banyak berlinang air mata.
 Allah menjadikan mata sebagai cerminan hati. Jika seorang menahan pandangan matanya maka ia telah mempu menahan syahwat hatinya dan begitupun sebaliknya, jika mata tak mampu ditundukkan lagi maka yakinlah tidak ada pandangan keculi bersama syeiton.


 Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu.
 Asal dari semua pembangkangan adalah karena rela menuruti hawa nafsu. Sedangkan asal dari ketaatan adalah karena ketidakrelaan jiwa menuruti nafsu.
 Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah berpikirlah sejenak tentang
dunia ini dan kehinaannya. Berpikirlah tentang penghuni dan pencintanya. Dunia telah menyiksa mereka dengan siksa yang beraneka ragam. Memberi minum dengan minuman yang paling pahit. Membuat mereka sedikit tertawa dan banyak berlinang air mata.
 Allah menjadikan mata sebagai cerminan hati. Jika seorang menahan pandangan matanya maka ia telah mempu menahan syahwat hatinya dan begitupun sebaliknya, jika mata tak mampu ditundukkan lagi maka yakinlah tidak ada pandangan keculi bersama syeiton.
 Sesungguhnya orang yang berkurban di jalan Allah , memotong hewan
kurban, itu bermakna memotong sifat-sifat buruk pada diri kita. Sebagaimana
sifat buruk hewan yang dikurbankan.
 Siapakah yang kuat? Hamba yang dapat mengendalikan hawa nafsunya.
 Akal besar timbul daripada hawa nafsu.
 Orang yang hanya berfikir kepentingan perutnya saja, maka harga dirinya
serupa dengan apa yang keluar dari isi perutnya.(Ali bin Abi Tholib)
 Apabila ingin melihat sandiwara paling lucu, lihatlah permainan sepasang
insan yang sedang dimabuk cinta.
 Orang yang egois adalah orang yang berkawan dengan hanya dirinya sendiri.
 Siapa yang berenang dalam maksiat, dia tenggelam dalam kesengsaraan.
 Perkara yang paling sulit di dunia ini adala mendegar dan memahami ayat-
ayat Allah .
 Jika sepasang insana berada dalam lautan cinta, lalu ia bermain-main dengan
ombaknya. Kira-kira mereka lebih dekat kepada kematian atau kehidupan?
Maka jawabannya KEMATIAN.

Photobucket

 Keikhlasan harus ada dalam segala sesuatu yang kita kejar dan kemurnian
dalam perasaan kita.
 Yang penting adalah ikhlas, kemudian biarkanlah terjadi apa yang akan
terjadi.
 Tidak ada yang tidak mungkin bagi hati yang ikhlas.
 Berniat tanpa usaha adalah pekerjaan sia-sia.
 Kebaikan timbul karena niat yang ikhlas karena Alloh semata.
 Keikhlasan adalah obat bagi memberi dan menerima.


 Cinta yang bermandikan keikhlasan lebih syahdu dan lebih indah daripada
cinta bermandikan harta.
 Keikhlasan adalah perhubungan titik kecintaan dan pengharapan dalam hati.
 Keikhlasan itu dapat diibaratkan seperti sebuah gunung, kita mendaki dengan
senyum dan menuruninya dengan deraian air mata.
 Siapa yang ingin memetik padi, hendaklah menabur benih keikhlasan.
 Semua manusia adalah mati kecuali yang berilmu, semua yang berilmu
terlelap kecuali yang beramal, yang beramal tertipu kecuali yang ikhlas dalam
amalannya.(Imam Asy-Syafi`i)
 Seorang hamba yang ikhlas tidak akan pernah mengharapkan apapun dari
siapapun karena kenikmatan baginya bukan dari apa yang dia dapatkan, tetapi
dari apa yang dia bisa berikan, yaitu hidayah petunjuk kepada sirotol
mustaqim!

Photobucket

 Kualitas manusia di akhirat nanti, akan ditentukan setelah ia melalui proses ujian demi ujian terhadap ketaatannya pada Allah dan Sunnah Nabi selama hidupnya di dunia. Apakah mampu selalu taat mengikuti perintah-perintahnya atau membangkang seperti Iblis Laknatulloh.
 Bila mata dapat dikendalikan hanya untuk melihat kejadian dari sudut pandang positif saja, maka niscaya hati tidak akan memunculkan kesan negatif.
 Relakanlah hatimu dengan sesuatu yang Alloh berikan untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.
 Jadikanlah ujian-ujian Allah sebagai peluang-peluang untuk memperoleh pahala !
 Wahai saudaraku, simak dan renungkan untaian-untaian nasehat dan mutiara hikmah di balik penyakit, derita, nestapa dan musibah yang sedang menerpa anda saat ini.


 Seorang menemui kegagalan bisa jadi bukan dia tidak mampu. Seseorang yang gagal meraih kesuksesan dalam nyawanya sering disebabkan karena ia tidak pernah memelihara api semangat dalam berdakwah di jalan Allah .
 Kesalahan terbesar para dokter adalah mereka mengobati jasmani penderita
tanpa berusaha mengobati ruh keimanannya agar cinta kepada Alloh .
Padahal ruh dan jasmani tidak dapat diperlakukan secara terpisah.
 Keterhubungan diri dengan Allah membuat hamba menjadi yakin seyakin- yakinnya bahwa Allah tidak akan pernah ingkar janji. Langkahnya pasti karena dia mengerti, bahwa berpaling dari Allah adalah sumber segala penyakit jiwa, yang penawarnya adalah iman itu sendiri. Hal yang membuat jiwanya tenteram saat merindui, bahkan dalam sunyi, sepi, dan sendiri. Kemudian, mengingat Allah adalah kekuatan, santapan sekaligus kesenangan dirinya. Hatinya telah terikat, dengan takut dan harap yang juga menjadi nikmat. Berlalu semua ragu, serta hilang segala bimbang.
 “Kerusakan” manusia itu terjadi ketika mengganti perintah Allah dengan perintah hawa nafsunya !
 Tidak ada yang mustahil bagi orang yang yakin pada janji Allah .
 Kegagalan menghadapi ujian Allah , seringkali terjadi karena kelengahan
hati yaitu tidak menyadari bahwa masalah yang sedang dihadapinya adalah semata-mata ujian-Nya.
 Ujian-ujian Allah itu jawabannya telah tersedia dalam Al-Qur`an dan
Hadist Rasulullah yang shohih. Oleh karena itu, supaya kita dapat selalu
lulus dari ujian-Nya maka tidak ada jalan lain kecuali daripada
memahami Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah yang shohih dengan baik.
 Berbaik sangkalah kepada Allah karena Allah hanya menginginkan
yang baik untuk ummat-Nya. Yakinlah Allah tidak akan membebani
seseorang melebihi kemampunnya.
 Musibah yang menimpa bukanlah untuk ditangisi, tetapi merupakan isyarat dari-Nya agar kita berbenah diri.
 Allah mempunya rencana jangka panjang yang lebih baik.
 Ketika Allah memberimu nikmat, maka akan terasa olehmu kebaikan- kebaikan-Nya. Dan ketika Allah memberimu musibah, sebenarnya ada
hikmah di balik musibah itu.
 Jangan sekali-kali putus asa atau bersiap-siap berputus asa. Karena putus asa adalah kegagalan dan menyiapkan diri untuk putus asa adalah menyiapkan diri untuk gagal.
 Manusia hanya berusaha dan Allah -lah yang menentukan hasilnya.
 Bukan persoalan takdir Allah yang perlu difikirkan, tetapi yang perlu difikirkan bagaimana agar kita bisa tetap menjalankan perintah-Nya dan Sunnah Rasulullah .
 Ketidakbahagiaan itu sering kali terjadi lantaran kita mepunyai keinginan yang melebihi kemampuan dan kesombongan.
 Jangan liat masa lampau dengan penyesalan. Jangan pernah liat masa depan dengan ketakutan tapi lihatlah sekitarmu dengan kesadaran, istiqomahlah!
 Terimalah kenyataan hidup ini sebagai takdir Ilahi, agar Allah senantiasa memberikan jalan hidup yang terbaik untuk kita.(Lara).
 Sesungguhnya tidaklah Allah menciptakan sesuatu melainkan bermula dari kecil kemudian membesar kecuali musibah. Allah menciptakannya bermula dari besar kemudian mengecil.( Hudzaifah)
 Wahai saudaraku, andaikan kita tahu bahwa apa yang sedang menimpa diri kita sekarang adalah bagian dari suratan taqdir yang tidak bisa dielakkan, maka raihlah ribuan pahala yang telah Allah sediakan bagi kita jika kita menerima suratan taqdir ini dengan ridha dan kesabaran, sungguh luar biasa keberuntungan orang- orang yang sabar menerima taqdir-Nya tatkala ditimpa musibah.
 Jika seorang hamba benar-benar menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya maka dia akan terhibur tatkala tertimpa
musibah. Bahwa kesudahan dan tempat kembali seorang hamba adalah
kepada Allah Pemilik yang Haq.
 Keikhlasan menerima keadaan sekarang adalah tanda kebijaksanaan dan tetap berjuang untuk meraih masa depan adalah tanda kedewasaan.
 Jangan difikir derita akan berpanjangan
Kelak akan membawa putus asa pada Allah
Ingatlah biasanya kabut tak berpanjangan
Setelah kabut berlalu, pasti cerah kembali
Ujian adalah tarbiyah dari Allah
Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya
 Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang telah kita raih, tapi keberhasilan berarti ketika kegagalan yang kita hadapi, kita tetap berjuang melawannya dan
bersabar diatasnya.
 Jangan sekali-kali putus asa atau bersiap-siap berputus asa. Karena putus asa adalah kegagalan dan menyiapkan diri untuk putus asa adalah menyiapkan diri untuk gagal. Tetaplah berjalan di jalan Allah .
 Tidak ada yang bisa berbuat kecuali Allah semata, ilmu, kekuasaan dan rahmat-Nya sempurna, di belakang kekuasaan-Nya tidak ada kekuasaan lain, di belakang ilmu-Nya tidak ada ilmu lain, di belakang rahmat-Nya tidak ada rahmat lain.
 Bersifat ariflah kita dalam menyikapi penyakit ataupun musibah yang sedang kita alami, sebab semakin arif anda menyikapi musibah yang sedang menimpa kita, maka semakin banyak kita meraup nilai pahala yang sangat luar
biasa, bersikaplah kita sebagaimana sikap seorang mukmin yang beriman kepada Takdir Allah baik dan buruknya, niscaya musibah yang menimpa
kita ini akan terasa lebih ringan.
 Dalam keadaan sehat manusia itu sering melupakan Dzat yang memberinya nikmat kesehatan tersebut, sehingga kesehatannya itu terkadang mengundang dirinya untuk bersikap sombong, angkuh, bangga dan ujub, sebab dia merasa bisa melakukan apa saja yang dia inginkan tanpa ada yang menghalangi. Namun dengan adanya penyakit atau musibah yang Allah timpakan kepada
seseorang maka penyakit-penyakit hati seperti di atas bisa hilang dan bersih
dari jiwa atas berkat rahmat dan karunia Allah .
 Sesungguhnya Allah memberikan kesenangan dengan nikmat kepada siapa
saja yang Dia kehendaki, bila mereka tidak bersyukur, maka Dia akan
membalikkannya menjadi adzab.(Al-Hasan al-Bashri)
 Setiap nikmat yang tidak dapat mendekatkan diri kepada Allah , maka ia
adalah bencana.(Abu Hazim)
 Nikmat akan abadi bila disertai dengan rasa syukur dan keta'atan sedangkan ia akan hilang karena perbuatan-perbuatan maksiat, keji dan pembangkangan terhadap Allah .
 Kaitkanlah nikmat-nikmat Allah dengan ungkapan rasa syukur kepada-
Nya.( Umar bin Abdul Aziz)
 Bila diberi kesehatan dan afiat, maka kita harus memanfaatkannya untuk berdakwah dan berjihad. Demikian seterusnya, kita mengekspresikan rasa syukur atas setiap anggota badan kita semampu kita.
 Barang siapa yang rela dengan ketetapan Allah maka ketetapan itu berlaku padanya dan ia mendapatkan pahala. Dan barang siapa yang tidak rela dengan ketetapan Allah maka ketetapan itu juga tetap berlaku padanya, sedangkan
ia terputus amalnya. (Ali bin Abi Thalib)
 Tidaklah aku melihat seseorang yang takabbur terhadap yang berada dibawahnya melainkan dia di timpakan oleh Allah kehinaan melalui orang lain yang lebih tinggi darinya.(Abu Hatim al Basati)
 Orang-orang beriman akan diuji dengan musuh-musuhnya dari kalangan
orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Hal itu untuk menampakkan
siapa yang benar-benar kokoh imannya serta siapa yang lemah imannya atau
bahkan menyembunyikan kekafiran did alam hatiya.
 Kebatilan meskipun didukung kekuatan sebesar apapun, tidak akan bisa
mengalahkan kebenaran. Allah pasti akan menampakkan kebenaran dan
akan menghancurkan kebatilan. Maka orang-orang yang mengetahui dirinya di
atas kebenaran harus yakin bahwa Allah akan menjaga serta
memenangkannya. Barangsiapa sabar dan kokoh di atas agama Allah ,
niscaya akan mendapat pertolongan dan kemenangan dari Allah .
 Kemenangan akan datang bersama kesabaran dan bahwa bersama kesulitan
akan datang jalan keluar.
 Seseorang tidak mengeluh akan kehidupan yang mendukacitakan, apabila
hikmah dibentangkan di hadapan matanya dan dia berfikir takdir baik dan
takdir buruk Allah adalah 2 segi dari pada sumber keimanan.
 Ujian Allah selalu menuju jalan terang. Sekiranya tidak demikian, maka
kita mesti berada dalam kemaksiatan kepada Allah .
 Ujian adalah pelajaran.
 Dokter yang paling mahir pun tidak dapat menyembuhkan semua penyakit
kecuali Allah .

Photobucket

 Ikutilah jalan-jalan petunjuk dan tidak akan merugikanmu, meskipun sedikit
orang yang menempuhnya. Sebaliknya, jauhilah jalan-jalan kesesatan dan
jangan tertipu dengan banyaknya orang-orang yang celaka didalamnya.(Al-
Fudhail bin Iyadh)
 Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia atau dunia meninggalkanmu ?
 Buah yang kita nikmati hari esok adalah benih yang kita tabur kemarin dan pohon yang kita rawat hari ini. Taburkanlah benih kebaikan dimana kita berpijak di dunia ini, rawat dengan sabar dan ikhlas, nikmati buahnya di surga. Insya Aloh…
 Tujuan hidup manusia di dunia pada hakikatnya adalah untuk mencari/mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya bagi kehidupan akhirat.
 Kehidupan di alam dunia ini adalah arena untuk mengumpulkan pahala bagi kehidupan akhirat.


 Tidak ada bekal yang lebih utama daripada takwa, tidak ada musuh yang bakal menjatuhkan kecuali kebodohan, tidak ada penyakit yang lebih parah daripada bohong.
 Jadilah kematian sebagai nasehat karena kita tidak mengetahui kapan tamu mulia mengetuk pintu nyawa ini ! Apakah kita sudah siap ? Sementara ucapan dan perbutan kita, tidak pernah sadari sudah bertentangan dengan risalah dari Allah .
 Sesungguhnya dunia telah berlalu jauh kebelakang. Sementara akhirat datang menjelang dan masing-masing memiliki anak. Maka jadilah anak-anak akhirat jangan menjadi anak-anak dunia karena yang ada hanya amal dan belum ada hisab.
 Walaupun malam terasa panjang, namun sang fajar pasti akan terbit jua. Walaupun umur kita panjang, liang kubur pasti akan kita masuki juga.
 Sebelum engkau bermaksiat kepada Allah bepikirlah tentang kehidupan
akhirat dan kekekalannya. Ia adalah kehidupan yang sebenarnya. Ia adalah
tempat kembali. Ia adalah penghujung perjalanan.
 Beribadah kepada Allah adalah nikmat terindah. Ia akan menenggelamkan semua kesesatan dunia yang ada. Hingga bersamanya
tanpa secuilpun nikmat dunia sudah cukup menjadi ganjaran bagi jiwa. Dan kehilangannya dalam limpahan nikmat dunia, sudah cukup menjadi azab dan siksa baginya. Maka, merugilah hamba yang tidak sempat merasai hidangan terlezat ini sampai mati. Meninggalkan dunia dan masih saja terus mencari. Tapi, kemana lagi?
 Tampak santai dalam kesibukan, senyum dalam kesedihan, optimis di depan
tantangan dan gembira di segala situasi. Itulah ciri muslim sejati yang mampu
berjuang di bawah kesulitan hidup.
 Wahai engkau yang sedang bermaksiat kepada Allah !! Kembalilah kepada Tuhanmu dan takutlah akan api neraka. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang berbagai kesulitan. Sesungguhnya di hadapanmu terbentang dua pilihan, kehidupan penuh nikmat atau lingkungan hidup penuh siksa. Sesungguhnya di hadapanmu terhampar kalajengking-kalajengking, ular-ular dan masalah-masalah sukar dan pelik. Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia, tawa tidak dapat memberi manfaat kepadamu. Nyanyian-nyanyian, film-film, dan perkara-perkara hina tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Aneka surat kabar dan majalah-majalah tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Isteri, anak-anak, teman dan sahabat tidak dapat memberi manfaaat kepadamu. Harta yang melimpah tidak bisa memberi manfaat kepadamu. Tidak ada yang bisa memberi manfaat kepadamu kecuali kebaikan-kebaikan dan amal-amal shalih yang engkau kerjakan selama hidupmu di dunia.
 Orang yang benar-benar gila adalah orang yang pikirannya masih waras, ia mengaku hamba Allah dan mengharapkan Surga-Nya sementara ia malas mematuhi aturan-aturan-Nya dan mengikuti petunjuk Rasulullah .
 Hitungllah dirimu sebelum dihitung dan ditimbanglah dirimu sebelum ditimbang ! (Umar bin Khattab)
 Hidup manusia di dunia sebenarnya adalah “babak prakualifikasi” untuk menentukan tempat tinggalnya nanti di akhirat.
 Orang yang sukses dalam hidup di dunia, bukanlah orang yang berhasil mengumpulkan harta yang banyak ataupun meraih pangkat yang tinggi, tetapi orang yang sukses hidupnya adalah orang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak.
 Banyak yang belum kita kita kerjakan di dunia ini. Banyak yang belum kita bahagiakan selama hidup kita. Banyak impian-impian hidup yang masih terbengkalai. Banyak keindahan di alam semesta ini yang belum kita lihat. Masih begitu banyak kebahagiaan terbentang di hadapan kita yang belum kita rasakan.
 Yakinlah dengan keyakinan yang sebenar-benarnya, bahwasanya Malaikat Maut yang telah mengunjungi orang lain, sesungguhnya ia sedang menuju ke arahmu. Hanya dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari, bahkan hitungan menit dan detik ia akan meghampirimu. Lalu engkau hidup seorang diri di alam kubur. Tiada lagi harta, keluarga dan sahabat-sahabat tercinta. Camkanlah dan renungkanlan gelapnya kubur dan kesendirianmu di dalamnya, sempitnya ruangannya, sengatan binatang-bintang berbisa, ketakutan yang mencekam dan kedahsyatan pukulan Malaikat Adzab.
 Dan bila masa itu tiba sempatkah kita bertaubat dijalan-Nya?
akankah kita tergolong dijalan-Nya?
ataukah sebelum saat itu sempatkah kita berjuang di jalan-Nya?
sungguh disetiap langkah kita adalah perjuangan yang dengannya akan menentukan langakah selanjutnya.
 Saudaraku tercinta! Ingatlah hari Kiamat. Hari di mana kehormatan di tangan Allah . Ketika rasa takut mengisi hati. Ketika engkau berlepas diri dari anakmu, ibumu, ayahmu, istrimu, dan juga saudaramu. Ingatlah kondisi dan keadaan-keadaan saat itu. Ingatlah hari di mana neraca diletakkan dan lembaran-lembaran amal manusia beterbangan. Berapa banyak amal kebaikan di dalam bukumu? Berapa banyak celah-celah kosong dalam amalmu?
Ingatlah tatkala engkau berdiri di hadapan Al-Malikul Haqqul Mubin zat Yang engkau berlari dari-Nya. Dzat Yang memanggilmu namun engkau berpaling dari-Nya.Engkau berdiri dihadapan-Nya di tanganmu lembaran catatan amal yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.
 Maka lisan manakah yang engkau gunakan untuk menjawab pertanyaan Allah , ketika Ia bertanya kepadamu tentang umurmu, masa mudamu,
perbuatanmu, dan juga hartamu. Maka kaki manakah yang engkau gunakan
untuk berdiri di hadapan Allah subhanahu wata'ala? Dengan mata yang mana
engkau memandang-Nya? Dan dengan lisan manakah engkau menjawab-
Nya ketika Ia berkata kepadamu, "Hamba-Ku, engkau menganggap remeh pengawasan-Ku padamu, Engkau anggap sebagai orang yang paling hina dari orang-orang yang memperhatikanmu. Bukankah Aku telah berbuat baik kepadamu? Bukankah Aku telah memberi nikmat kepadamu? Lalu mengapa engkau mendurhakai-Ku padahal aku telah memberi nikmat kepadamu."
 Menjalin mimpi tanpa gerak maju,
Takkan tercapai cita-citamu tanpa keja nyata
Dan tercengang jeratan angan hampa, bertakwalah!
 Demi Allah tidaklah aku menulis perkataan ini melainkan karena kekhawatiranku kepadamu. Aku khawatir wajah putihmu ini berubah menjadi hitam pada hari Kiamat. Aku khawatir wajah bercahayamu ini akan berubah menjadi gelap. Aku khawatir tubuh yang sehat ini akan dilalap oleh api neraka. Maka bersegeralah -semoga Allah memberi taufik kepadamu- untuk membebaskan dirimu dari api neraka. Umumkanlah ia sebagai bentuk taubat yang sebenarnya dari sekarang. Yakinlah bahwasanya selamanya engkau tidak akan menyesal melakukan itu. Bahkan sebalikya - dengan izin Allah subhanahu wata'ala- engkau akan merasakan kebahagiaan. Hindarilah keraguan atau mengakhirkan semua itu. Sesungguhnya aku -demi Allah- menjadi penasihat bagimu.
 Orang yang sukses hidupnya itu adalah orang yang dapat menggunakan fasilitas yang dimilikinya untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya.
 Sesungguhnya seorang hamba Allah jika zuhud terhadap dunia, bersinarlah hatinya dengan hikmah dan anggota tubuhnya tolong-menolong untuk mengerjakan ibadah.
 Keberhasilan selaku orang tua diukur dari seberapa baik kualitas ketakwaan anak-anaknya !
 Jangan terlalu bermanja dengan masa lalu. Impikan, pikiran, dan rencanakan bagaimana masa depan kita. Orientasikan langkah ke depan dengan ikhlas
semata-mata karena Alah . Orientasikan masa depan.
 Sadarlah wahai orang yang tertipu
Engkau giat untuk sesuatu yang buruk
Sedangkan engkau tidur dari kebaikan
Dan engkau bermalasan saat dibutuhkan keseriusan.( Hasan Bahsri)
 Tidur telah membunuh usiamu. Malas telah melalaikan kewajibanmu. Lamunan telah mengikis pikiranmu. Dan khayalan telah menyi-nyiakan hidupmu. Hiasialah hidup dengan ibadah dan semangat kerja. Jauhkan diri dari hal-hal yang syubhat(meragukan) dan melalaikan. Semoga Alloh senantiasa memberikan pertolongan dan kemudahan bagi kita.(Zainuddin)
 Hidup mulia atau mati syahid, kebenaran itu benar adanya, dia hanya milik orang beriman. Janganlah matamu berpaling dari-Nya.
 Ridha lebih afdhal daripada zuhud terhadap dunia. Karena orang yang ridha tidak berangan-angan sesuatu yang melebihi kedudukannya.( Al Fudhail bin Iyadh)
 Sesungguhnya seluruh makhluk yang Allah ciptakan menundukkan
kepalanya, merendahkan diri kepada-Nya dan mengakui keutamaan-Nya.
Akan tetapi, tinggal di alam semesta ini makhluk kecil yang rendah dan
hina. Diciptakan dari setetes air hina (mani) tiba-tiba saja ia menjadi
penentang yang nyata. Dia berada di suatu lembah dan seluruh alam
semesta di lembah yang lain. Ia meninggalkan ketaatan, tidak mau
tunduk dan bertasbih kepada-Nya, meskipun segala sesuatu yang ada di sekelilingnya tekun berdzikir dan bertasbih kepada Allah . Makhluk kecil
ini ialah manusia yang bermaksiat kepada Allah . Alangkah dahsyatnya
kebatilan ini! Alangkah besarnya kedunguan ini! Dan Alangkah rendah dan
hinanya ketika ia menjadi penyakit di alam yang teratur ini.
 Aku tahu rezki ku tidak akan diambil orang lain karena itu qolbu ku selalu tenang. Aku tahu amal perbuatanku tidak akan dapat ditunaikan orang lain karena itulah aku sibuk mengerjakannya. Aku tahu Allah mengawasi aku, sebab itu lah aku harus malu bila Dia melihatku dalam keadaan maksiat. Aku tahu kematian itu sudah menunggu ku karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku……..
 Sehari dalam kehidupan akhirat adalah lima puluh ribu tahun kehidupan di dunia. Maka kita bisa lihat betapa pendeknya kehidupan manusia yang tidak ada sepersekian puluh ribu dari hari kehidupan akhirat. Berapa umur manusia yang terpanjang dan berapa yang sudah kita jalani? Itu pun kalau kita anggap umur yang terpanjang, sedangkan ajal kita tidak tahu, mungkin esok atau lusa.
 Dalam hidup ini, kita dituntut agar saling memberi hadiah, dan hadiah terbaik adalah nasihat.
 Waktu tidak bisa diulangi. Hidup bukan VCD yang memiliki banyak tombol, tombol stop, forward, back, dan play. Kita tidak dapat kembali ke masa lampau, atau pasti hidup di masa akan datang, akan tetapi hidup hanya ada 2 tombol, yakni tombol stop dan play. Tombol play telah ditekan, tinggal tombol stop…..
 Dalam kehidupan dunia, janganlah engkau melihat ke atas, melainkan liatlah ke bawah agar engkau mensyukuri nikmat Allah , akan tetapi dalam urusan agama, liatlah ke atas, jangan liat ke bawah agar engkau giat beribadah kepada-Nya,
 Dunia laksana bayangan. Jika kita berpaling, maka ia membuntuti kita. Jika kita kejar, maka dunia menghindar dari kita. Orang zuhud tak menoleh pada bayangan.
 Dunia berjalan ke belakang semakin jauh, sedangkan akhirat berjalan ke depan semakin dekat. Hari ini adalah amal tanpa hisab. Hari esok adalah hisab tanpa amal. Hidup adalah pilihan. Mati adalah kepastian.
 Mulailah dari diri sendiri, mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil.
 Jangan pernah kau dengar hembusan angin yang berjalan, karena “riuhnya” membawamu dalam kebimbangan, namun dengarkanlah hembusan Sunnah Rasulullah karena itu yang akan membawamu menuju keberhasilan.
 Ketika mata yang memandang dunia mulai memudar
Buram menuju hitam
Hanya dengan cahaya iman
Menoreh luka tak terobati
Tetap berada dalam Sunnah Rasulullah
 Jadikanlah hidup ini penuh makna. Sadarilah! Kita tidak tahu kapan, dimana, dan kondisi seperti apa ketika maut menjemput kita. Maknai hidup ini dengan mulai dari yang awal perubahan kita.
 Sesungguhnya seorang mukmin itu ibarat padi, semakin berisi maka dia semakin merunduk.
 Ambillah hikmah dari padi. Ia tumbuh di tengah hening. Sebelum berbuah, ia tegak. Mendongak ke atas. Begitu berbuah, ia menunduk ke bawah. Begitu meniggal, ia merndah. Subhanalloh.
 Jadilah seperti pohon. Semakin tambah usianya, semakin banyak menfaatnya dan semakin baik buahnya. Begitu juga orang mukmin, apabila semakin panjang usianya, kebaikannya bertambah dan amalnnya meningkat. Itulah sebuah kedewasaan hakiki.
 Sebaik-baik bekal hidup kita adalah iman dan taqwa. Karena kaki tidak selamanya bisa berdiri. Lidah tdak selamanya bisa berkata. Mata tidak selamanya bisa memandang. Jantung tidak selamnya bisa berdetak. Tapi memiliki iman dalam hat, dan amal dalam sikap adalah abadi
 Dunia laksana pelabuhan tempa mengumpulkan bekal ke surga atau bekal ke neraka. Orang cerdas mampu mengumulkan banyak muatan kebaikan dalam bahtera dirinya.
 Apabila kita menyadari kelemahan kita, maka kita dapat merubah pada
kelemahan itu dengan amalan soleh.
 Siapa yang tidak pernah merasa cukup dengan nikmat Allah , maka
merugilah dia.
 Dunia ini jangan dianggap sebagai sebuah tempat yang kekal, tetapi dunia ini
sebenarnya adalah sebuah tempat untuk mati.
 Bahagianya hidup hanya dapat dirasakan sesudah mengenal arti cinta kepada-
Nya.
 Siapa yang memiliki kecintaan kepada Robbnya, akan malu berbuat kejahatan.
 Cinta, takut, dan berharap kepada Alloh adalah 3 perkara yang paling tinggi
nilainya.
 Menghadapi hidup tanpa tujuan berarti hidup tanpa arah.
 Manusia terlalu banyak berhadap, tetapi berbuat terlalu sedikit.
 Orang yang hidup tanpa tujuan, kehilangan segala-galanya.
 Cinta sebenarnya adalah cinta kepada Allah .
 Apakah artinya hidup tanpa cinta kepada Allah .
 Cinta kepada Allah ibarat pohon, tiap-tiap harinya perlu disiram dan diberi
pupuk yang berupa ketaatan melaksanakn ibadah.
 Bahagialah orang yang menyibukkan introspeksi pada aib dirinya sendiri dan
tidak mementingkan aib orang lain.
 Cukuplah kematian sebagai peringatan, keyakinan sebagai kekayaan, dan
ibadah sebagai kesibukan.
 Tapi untuk mendapatkannya tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh
usaha untuk selalu taat dan menjauhi maksiat. Fase baru kehidupan akhirat,
kampong nan abadi. Tiap manusia dibalas sesuai amalannya. Hari yang tiada
guna harta dan anak-anak, hanya ada 2 jalan baginya : Surga atau Neraka.
Akhir kehidupan yang buruk biasa terjadi pada orang yang rusak batin dan
amalannya, maka sudah sepantasnya bagi orang yang berakal untuk waspada
dari segala keharaman Allah . Membiasakan hati, lisan, dan seluruh anggota
badannya untuk mengingat Zat Penguasa alam semesta. Waspada dari
ketergelinciran saat menjelang ajal yang berakibat binasa selama-lamanya.
Akhir kehidupan yang baik adalah idaman tiap manusia karena itu sebagai
tanda ia memasuki fase baru yang menyenangkan.

Photobucket

Malam itu, saya tidur agak lebih cepat. Dalam rangka dapat menonton final Piala Dunia 2010. Tiba-tiba terdengar suara dering telepon pada saat tertidur nyenyak, dering itu tidak bisa mengalahkan rasa kantuk saya. Kemudian terdengar kembali suara dering telepon. Suara inilah yang terakhir, lalu dapat membuat saya terbangun. Ternyata saya teringat bahwa kemarin itu, paman sudah berjanji akan membangunkan dari lelap tidur untuk nonton bareng piala dunia di rumahnya. Rumahnya tepat berada di belakang rumah saya.
Televisi yang berukuran 35 x 30 cm menjadi mediator untuk menonton final Piala Dunia waktu itu. Televisi ini milik Paman yang sudah cukup lama bertahan alias kassa’ (bahasa makassar yang artinya kuat). Saya kemudian menyaksikan pertandingan menegangkan itu hingga selesai, yang berujung pada kekalahan Belanda 1-0 terhadap Spanyol. Walhasil, Belanda –mantan penjajah Indonesia ini- menelan pil pahit, pulang ke negeri asal dengan merangkaul juara 2 pada Piala Dunia 2010.


Keberhasilan Spanyol dan Kekalahan Belanda memberikan dampak yang cukup signifikan bagi banyak orang. Piala Dunia telah memberikan kontribusi luar biasa bagi semua bangsa/negara.
Terlihat gemerlap semangat dan ambisi bermain bola mulai dari kalangan bocah sampai kalangan tua. Juga perabotan rumah pun dihiasi dengan aksesoris “Bola”, ada yang berupa bantal, hiasan rumah, dll. Ini menunjukkan bahwa damapak dari pestapora “World Cup 2010” begitu membekas.
Tapi, ada satu pertandingan lagi yang bagi kita belum mencapai finish dan pertandingan itu merupakan pertandingan spektakuler, kenapa bisa? Karena meskipun kita tidak mendaftar, ternyata nama-nama kita sudah menjadi bagian dari pemain. Bukan hanya negara yang terseleksi dari benua masing-masing yang bisa ikut, akan tetapi juga semua yang gagal maupun lulus bisa ikut dalam pertandingan ini. Pertandingan yang tidak ditentukan waktu dan tempatnya. Personil dari pertandingan ini bukan berbentuk grup, melainkah perorangan. Setiap orang berlaga memperebutkan juara, baik pemainnya pria maupun wanita juga bisa. Tetapi juara apa yang akan diperoleh bagi sang pemenang? Apakah berbentuk piala berbahan emas, perak, atau perunggu? Oh,… ternyata bukan. Piala Akhirat adalah berbentuk tempat tinggal dan tempat tinggal itu dinamai “Surga” dan bagi orang yang kalah dari pertandingan ini juga mendapatkan fasilitas tempat yang dinamai “Neraka”.
Pemain yang menang berhak membuka pintu “Surga” itu. Tapi ingat, semua pintu harus memiliki kunci dulu untuk membukanya. Apa kunci itu?
Bagi yang merindukan kemenangan untuk mendapatkan “surga”, tentu kita akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa.
Tetapi kita tak perlu gelisah, Nabi Muhammad -Shollallohu 'Alaihi Wasallam-telah membeikan petunjuk bagi para pemain apa kunci surga itu. Sebagaimana hal ini diterangkan dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda (yang artinya): “Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga. “ (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shohih). Ini adalah kunci bagi pemenang Piala Akhirat.
Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illalloh, kalimat Tauhid yang begitu kerapkali kita ucapkan dan yakini. Namun, semudah itukah pintu surga kita buka? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh, tetapi mereka masih meminta-minta (berdo’a dan beribadah) kepada selain Alloh, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya ? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga? Tidak mungkin !
Ketahuilah yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illalloh itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh pemain yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al-Iman Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya (3/109) bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al-Imam Wahab bin Munabbih (seorang Tabi’in terpercaya dari Shon’a yang hidup pada tahun 34-110 H) : “Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga ? “Wahab menjawab : “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan di bukakan untukmu !”.
Lalu apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illalloh itu? Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illalloh itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illalloh!
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qoshim Al-Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illalloh itu ada delapan, yaitu :
Pertama :
Al-‘Ilmu (mengetahui), maksudnya adalah kita harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illalloh secara benar. Adapun artinya adalah : “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh”. Rosululloh -Shollallohu ‘Alaihi Wasallam-bersabda (yang artinya):
“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh, niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).
Seandainya kita mengucapkan kalimat tersebut, tetapi kita tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.
Kedua :
Al-Yaqiinu (meyakini), maksudnya adalah kita harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illalloh tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rosululloh -Shollallohu ‘Alaihi Wasallam-bersabda (yang artinya): “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Alloh dan aku adalah utusan Alloh. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Alloh sembari membawa dua kalimat syhadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.
(HR. Muslim).
Ketiga :
Al-Qobulu (manerima), maksudnya kita harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illalloh dengan senang hati, lisan dan perbuatan, tanpa menolak sedikitpun. Kita tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang di gambarkan oleh Alloh dalam Al-Qur’an (yang artinya):
“Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka : (ucapkanlah) Laa ilaaha illalloh, mereka menyombongkan diri seraya berkata : Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini ? “(QS. As-Shoffat : 35-36).
Keempat :
Al-Inqiyaadu (tunduk atau patuh), maksudnya kita harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illalloh dalam amal-amal nyata. Alloh subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):
“Kembalilah ke jalan Tuhanmua, dan tunduklah kepada-Nya. “(QS. Az-Zumar : 54).
Alloh Ta’ala juga berfirman (yang artinya):
“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul (ikatan) tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh). “(QS. Luqman : 22). Makna “menyerahkan dirinya kepada Alloh” yaitu tunduk, patuh dan pasrah kepada-Nya.
Kelima :
Ash-Shidqu (jujur atau benar), maksudnya kita harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illalloh, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa di sertai kebohongan sedikitpun. Nabi SholAllohu ‘alahi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Alloh dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Alloh mengharamkan neraka atasnya. “(HR. Imam Bukhori dan Muslim).
Keenam :
Al-Ikhlas (ikhlas atau murni), maksudnya kita harus membersihkan amalan kita dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya. Nabi -Shollallohu ‘Alaihi Wasallam-bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya Alloh mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Alloh Azza wa Jalla. “(HR. Imam Bukhori dan Muslim).
Ketujuh :
Al-Mahabbah (mencintai), maksudnya kita harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di antara manusia ada yang menbuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Alloh yang di cintai layaknya mencintai Alloh. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Alloh diatas segala-galanya). “(QS. Al-Baqarah : 165).
Dari sini kita tahu, Ahlut Tauhid mencintai Alloh dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan Ahlus Syirik mencintai Alloh dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illalloh.
Kedelapan :
Al-Kufru bimaa siwaahu (mengingkari sesembahan yang lainnya), maksudnya kita harus mengingkari segala sesembahan selain Alloh, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga kita harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Alloh itu batil dan tidak pantas disembah-sembah. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan (yang artinya): “Maka barang siapa mengingkari thoghut (sesembahan selain Alloh) dan hanya beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illalloh), yang tidak akan putus….”(QS. Al-Baqoroh : 256).
Saudaraku para pemain “Piala Akhirat”, dari sini dapatlah kita ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta banyaknya. Karena itu perhatikanlah wahai pemain!
Akhir kalimat, demikianlah kriteria Piala Akhirat yang akan kita perebutkan. Dengan sebuah harapan dapat mendorong kita untuk selalu berpacu dalam beramal shalih. Tuk meraih tamasya “Surga” yang hakiki yang penuh dengan kenikmatan yang abadi.
Nyata bagi kita, semoga kita tidak menjadi peserta yang kalah dalam liga “Piala Akhirat”. Sebab bagi mereka yang kalah tempatnya di Neraka. Naudzubillah. Berikut kami kutip do'a memohon dimasukkan ke Surga dan dijauhkan dari Neraka:
Diriwayatkan dari Ummul Mukminin 'Aisyah, bahwasanya Rosululloh -Shollallohu 'Alaihi Wasallam- berdo'a (yang artinya): "Ya Alloh sesungguhnya aku memohon kepada-Mu al jannah (surga) beserta segala sesuatu yang bisa mendekatkan kepadanya dari perkataan dan perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari an nar (neraka) beserta segala sesuatu yang bisa mendekatkan kepadanya dari perkataan dan perbuatan". (HR. Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.1542)
Amien, Ya Robbal 'alamin.
Photobucket

Category: | 0 Comments

“Hidup dengan muara yang tak terhingga.”
Itulah ungkapan yang indah bagi figur yang satu ini, motivator dakwak, motivator sunnah, dan motivator tauhid. Memiliki sejuta pengalaman dalam menuntut ilmu.
Dialah Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.
Disapa dengan kunyah adalah Abu Muhammad.
Beliau lahir di Kota Makassar pada tanggal 12 Agustus 1976 M, Propinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

Pengalaman Menuntut Ilmu
Karena beliau memiliki nilai edukasi yang tinggi, maka bermula dari tahun 1994 beliau belajar bahasa Arab dan beberapa cabang ilmu syari’at lainnya di Pulau Jawa.
Hal ini sesuai dengan sebuah syair:
“Jadilah pemuda yang kakinya menapak di bumi, tetapi semangatnya tergantung di langit.”
Ungkapan ini sering dilansir beliau ketika membawakan untaian nasihat bagi penuntut ilmu.


Kemudian mendekati pertengahan tahun 1995, beliau diberi anugrah oleh Alloh -Subhanahu Wa Ta’ala- sehingga mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu ke Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman.

Dan beliau terus-menerus belajar di desa terpencil itu hingga pertengahan tahun 1999. Di Ma’had Darul Hadits beliau hafal Al Qur’an 30 juz dan memperlajari berbagai bidang ilmu syari’at.

Semenjak kembali dari Yaman pada tahun 1999, beliau banyak sibuk dengan mengajar dan menulis. Dan beliau masih saja sibuk meneliti, membahas, dan belajar hingga hari ini.

Kemudian pada tahun 2004, Alloh -Subhanahu Wa Ta’ala- memudahkan untuk menyelami ilmu ke Saudi Arabia dan talaqqi dari sejumlah figur ulama besar yang menjadi rujukan manusia di masa ini.

Dan hingga hari ini, Alloh -Subhanahu Wa Ta’ala- masih memudahkan beliau untuk bolak-balik ke Saudi Arabia dengan maksud memperdalam ilmu agama dan mempererat hubungan dengan ulama. Selama masa tersebut, beliau mengkhatam Al Qur`an dua kali dari hafalan dengan membaca riwayat Hafsh dari Ashim melalui jalan Asy Syathibiyyah dan Thayyibah An Nasyar, talaqqi dari dua orang guru ahli Qira’at dan beliau mendapat ijazah tertulis dalam hal tersebut. Selain dari itu, beliau lebih memperdalam berbagai cabang ilmu agama kepada ulama-ulama terkemuka dan mengadopsi sanad-sanad periwayatan buku-buku Salaf.

Para Ulama Guru-guru Beliau
Definisi seorang guru—menurut Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad—adalah siapa yang kita pernah belajar kepadanya sebuah bab dari buku-buku agama.

Insya Alloh apa yang beliau sebutkan adalah ukuran yang pertengahan dalam kelayakan seorang berkata kepada seorang Syaikh beliau adalah Syaikhuna (guru kami). Walaupun sebagian ulama seperti Imam Adz Dzahabi—bagi siapa yang mencermati buku himpunan guru-guru beliau—kadang menghitung seorang alim sebagai gurunya hanya dengan mengadopsi satu faedah darinya.

Daftar para ulama yang beliau pernah menimba ilmu kepadanya antara lain:
1. Mujaddid dan Ahli Hadits Negeri Yaman, Al Imam Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah (Wafat 29 Rabi’ul Akhir 1422 H/21 Juli 2001)
Dari Syaikh Muqbil, beliau menghadiri pelajaran Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Mustadrak Al Hakim, Tafsir Ibnu Katsir, Ash Shahih Al Musnad Mimma Laisa Fii Ash Shahihain, Al Jami’ Ash Shahih Mimma Laisa Fii Ash Shahihain, Al Jami’ Ash Shahih Min Dalâ`il An Nubuwwah, Al Jami’ Ash Shahih fii Al Qadar, Ash Shahih Al Musnad Min Asbabin Nuzul, Gharatul Fishal ‘alal Mu’tadin ‘ala Kutubil ‘Ilal, Dzammul Mas`alah, dan Ahadits Mu’Alloh Zhahiruha Ash Shihhah.

2. Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Al Muhaddits Al ‘Allamah Asy Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad An Najmi rahimahullah (Wafat 19 Rajab 1429 H/23 Juli 2008)
Dari Syaikh Ahmad, beliau membaca langsung dari Syaikh kitab Wasiyat Abu ‘Utsman Ash Shabuni dan beberapa bab dari Maurid Al Adzbi Al Zilal. Selain dari itu juga beliau menghadiri pelajaran Qurrah ‘Uyun Al Muwahhidin, bab Buyu’ dari Bulughul Maram, Shahih Al Bukhari, Nuzhatun Nazhor dan lain-lainnya. Dan Syaikh Ahmad memberi ijazah kepada beliau meriwayatkan Kutub As Sittah.

3. Al Faqih An Nihrir Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan hafizhahullah (anggota Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al I’lmiyyah wal Ifta’ [Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Fatwa], anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama [Badan Ulama Besar] Saudi Arabia dan anggota Majma’ Al Fiqh)
Dari Syaikh Al Fauzan, beliau menghadiri pelajaran Kitabut Tauhid, Al Furqan, At Tawassul Wal Wasilah, Tafsir Surah-surah Al Mufashshol, Al Arba’in An Nawawiyah, Ar Raudh Al Murbi’, Akhshor Al Mukhtashot, Bulughul Maram dan ‘Umdah Al Ahkam.

4. Hamil Liwa` Al Jarh wat Ta’dil, Al ‘Allamah Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali hafizhahullah
Dari Syaikh Rabi’, beliau menghadiri pelajaran Kitabul Iman dari Shahih Al Bukhari, Asy Syari’ah karya Al Ajurri dan sejumlah pelajaran sore dari tafsir, manhaj, akhlaq, nasihat dan selainnya.

5. ‘Alim Negeri Shomithoh, Al ‘Allamah Asy Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah
Dari Syaikh Zaid, beliau membaca langsung kitab Syarh As Sunnah karya Imam Al Muzani. Dan menghadiri ringkasan Ushulul Fiqih karya As Si’di, Sunan An Nasa`i, Tafsir Surah Maryam dari Adhwa` Al Bayan, Ushul As-Sunnah karya Ibnu Abi Zamanin dan lain-lainnya.

6. Al ‘Allamah Al Ushuly Asy Syaikh ‘Abdullah bin Abdurrahman Al Ghudayyan hafizhahullah (anggota Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al I’lmiyyah wal Ifta’ [Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Fatwa] dan anggota Hai’ah Kibarul ‘Ulama [Badan Ulama Besar] Saudi Arabia)
Dari Syaikh Al Ghudayyan, beliau menghadiri pelajaran Al Muwafaqat, Qawa’id Al Ahkam karya Al ‘Izz bin ‘Abdussalam, Al Furuq karya Al Qarafi dan Al Inshaf.

7. Ahli Hadits Kota Madinah, Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad Al Badr hafizhahullah
Dari Syaikh Al ‘Abbad, beliau menghadiri Kitab Ash Shiyam hingga Kitab Al I’tikaf dari ‘Umdah Al Ahkam dan beberapa halaqah dari Sunan An Nasa’i (musim haji tahun 1419 H/1998 M), Sunan At Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah.

8. ‘Alim kota Madinah, Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Ubaid bin ‘Abdillah bin Sulaiman Al Jabiri hafizhahullah
Dari Syaikh ‘Ubaid, beliau menghadiri Tartib Syarh As Sunnah karya Al Barbahari, Kitab Ash Shiyam dari ’Umdah Al Ahkam, dan beberapa ceramah ilmiyah.

9. Al Muhaddits Al ‘Allamah Asy Syaikh Dr. Abdul Karim bin Abdillah Al Khudhir.
Dari Syaikh Abdul Karim, beliau menghadiri Syarah Alfiyah Al ‘Iraqi dan Mimiyah fil Adab karya Al Hafizh Al Hakami.

Dan banyak lagi dari masyaikh dan ulama yang agak panjang untuk diuraikan seluruhnya, seperti Mufti Saudi Arabia saat ini, Abdul ‘Aziz Alu Asy Syaikh, Syaikh Abdul ‘Aziz Ar Rajihi, Syaikh Shalih As Suhami, Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali, Syaikh ‘Abdullah Al Bukhari, Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili, Syaikh Abdurrazzaq Al ‘Abbad Al Badr, dan lain-lainnya.

Selain dari itu, beliau juga menghadiri beberapa majelis Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahumullah pada musim haji tahun 1419 H.


Karya Tulis dalam Bentuk Buku
“Ilmu itu diikat dengan tulisan.”
Untuk menyempurnakan amalan Islam, maka dibutuhkan dakwah setelahnya. Baik secara lisan maupun secara pasif, yaitu dengan tulisan. Sehingga dengan jerih payah beliau lahirlah beberapa buku, diantaranya:

1. Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al Qur’an dan As Sunnah, diterbitkan pertama kali pada Sya’ban 1421 H/November 2000 oleh Pustaka Al Haura’ Yogyakarta (ukuran 11,5 X 18,5 cm; tebal 72 halaman), kemudian edisi revisi diterbitkan pada Sya’ban 1426/September 2005 oleh Pustaka As Sunnah Makassar (ukuran 12 X 18,5 cm; tebal 104 halaman).

2. Indahnya Sholat Malam; Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih, cetakan pertama Sya’ban 1427 H/September 2006, ukuran 12 X 18 cm, tebal 116 halaman, penerbit Pustaka As Sunnah Makassar.

3. Meraih Kemuliaan Melalui Jihad… Bukan Kenistaan, cetakan pertama Sya’ban 1427 H/Agustus 2006, ukuran 16,5 X 24,5 cm, tebal 440 halaman, penerbit Pustaka As Sunnah Makassar.


Karya Tulis dalam Bentuk Artikel Majalah

Karya tulis Al Ustadz Dzulqarnain dalam bentuk artikel di majalah (hierarki (urutan) menurut tanggal terbit) antara lain:

1. Mukjizat Terbelahnya Bulan, dimuat di majalah SALAFY edisi XXIV/1418/1998 halaman 32-36. (Pada catatan kaki artikel ini tertulis: “Penulis adalah thalibul ‘ilmi (orang yang sedang menuntut ilmu) asal Ujung Pandang. Kini sedang belajar pada Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i di Ma’had Darul Hadits, Dammaj, Yaman. Tulisan aslinya berbahasa Arab dan dialihbahasakan oleh Azhari Asri”)

2. Jihad Menurut Timbangan Ahlussunnah wal Jama’ah, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 11-14.

3. Ahkamul Jihad, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 15-24.

4. Qunut Nazilah Senjata Orang Beriman, dimuat di majalah SALAFY edisi 34/1421 H/2000 M halaman 39-44.

5. Ahkamul Jihad: Mengangkat Pemimpin dalam Jihad, dimuat di majalah SALAFY edisi 35/1421 H/2000 M halaman 36-42.

6. Hukum Terhadap Intelijen, dimuat di majalah SALAFY edisi 37/1421 H/2000 M halaman 11-14.

7. Posisi Masbuk dan Hukum Sholat di Belakang Ahlul Bid’ah, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 2-7.

8. Doa Sujud Tilawah dan Sujud Sahwi, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 7-9.

9. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Siapakah Mereka?, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 10-18.

10. Menggerakkan Jari Telunjuk ketika Tasyahud, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 27-39.

11. Siapakah Mahrammu?, dimuat di majalah An Nashihah volume 01 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 51-56.

12. Tinja dan Kencing, Najiskah?, dimuat di majalah An Nashihah volume 02 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 2-4.

13. Hakikat Dakwah Salafiyah, dimuat di majalah An Nashihah volume 02 Tahun 1/1422 H/2001 M halaman 5-14.

14. Fatwa Para Ulama Besar Menyikapi Terorisme, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 2-20. (Artikel ini disusun sebagai bantahan ilmiah terhadap Ja’far Umar Thalib selaku Panglima Laskar Jihad saat itu yang mendukung peledakan gedung WTC di Amerika Serikat)

15. Pijakan Seorang Muslim di Tengah Gelombang Fitnah, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 21-34.

16. Hukum Qunut Subuh, dimuat di majalah An Nashihah volume 03 Tahun 1/1422 H/2002 M halaman 59-64.

17. Haruskah Orang yang Khutbah yang Menjadi Imam?, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 4-5.

18. Hadits Bithoqoh (Kartu), dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 6-8.

19. Seputar Air Madzi, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 9.

20. Dokter Praktek, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 10.

21. Ikhtilath ketika Bekerja, dimuat di majalah An Nashihah volume 04 Tahun 1/1423 H/2002 M halaman 11-12.

22. Hukum Nikah dalam Keadaan Hamil, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 2-6.

23. Bacaan Dzikir Setelah Sholat, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 10-12.

24. Seputar Sholat Tarawih, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 13.

25. Lutut atau Tangankah yang Lebh Dulu Menyentuh Bumi ketika Sujud?, dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 49-52.

26. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Pertama), dimuat di majalah An Nashihah volume 05 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 53-57.

27. Melihat Alloh dalam Mimpi, Mungkinkah?, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 2-4.

28. Cara Sholat Taubat, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 5-6.

29. Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 35-48.

30. Hadits-hadits Seputar Keutamaan Surat Yasin, dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 49-59.

31. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Kedua), dimuat di majalah An Nashihah volume 06 Tahun 1/1424 H/2004 M halaman 60-67.

32. Mengambil Manfaat dari Sawah yang Digadaikan, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 2-3.

33. Beberapa Masalah Berkaitan dengan Sholat Berjama’ah, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 3-5.

34. Derajat Hadits Jihad Paling Besar adalah Melawan Hawa Nafsu, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 5.

35. Kiat-kiat Menyambut Bulan Ramadhan yang Sarat Keutamaan, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 13-18.

36. Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan Al Qur’an dan As Sunnah, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 24-37.

37. Tuntunan Qiyamul Lail dan Sholat Tarawih, dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 38-53.

38. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Ketiga), dimuat di majalah An Nashihah volume 07 Tahun 1/1425 H/2004 M halaman 59-64.

39. Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian: Jual Beli dengan Cara Kredit, dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 40-49.

40. Hukum Menjaharkan Basmalah dalam Sholat Jahriyah, dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 50-52.

41. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Keempat), dimuat di majalah An Nashihah volume 08 Tahun 1/1425 H/2005 M halaman 53-57.

42. Studi Syar’i tentang Beberapa Muamalat Kekinian: Beberapa Hukum Berkaitan dengan Undian, dimuat di majalah An Nashihah volume 09 Tahun 1/1426 H/2005 M halaman 39-40.

43. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Kelima), dimuat di majalah An Nashihah volume 09 Tahun 1/1426 H/2005 M halaman 54-59.

44. Terorisme, Bahaya dan Solusinya, dimuat di majalah An Nashihah volume 10 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 17-33.

45. Mengenal Kesyirikan, Bahaya dan Bentuk-bentuknya (Bagian Pertama), dimuat di majalah An Nashihah volume 10 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 34-42.

46. Mengenal Kesyirikan, Bahaya dan Bentuk-bentuknya (Bagian Kedua), dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 33-35.

47. Hadits-hadits Seputar Bulan Sya’ban, dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 46-52.

48. Syarah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam (Bagian Keenam), dimuat di majalah An Nashihah volume 11 Tahun 1/1427 H/2006 M halaman 53-58.

49. Hadits Doa di Padang Arafah, dimuat di majalah As Salaam No. IV Tahun II 2006 M/1426 H halaman 37-40.

50. Etika Syar’i bagi Perempuan dalam Menuntut Ilmu, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 39-44.

51. Pentingnya Mengenal Al Asma’ Al Husna, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 45-50.

52. Anjuran untuk Berdzikir dan Keutamaannya, dimuat di majalah An Nashihah volume 12 Tahun 1428 H/2007 M halaman 57-61.

53. Beberapa Kaidah Mengenal Al Asma’ Al Husna, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 33-38.

54. Beberapa Hukum Seputar Ihdad, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 55-62.

55. Hukum Multi Level Marketing, dimuat di majalah An Nashihah volume 13 Tahun 1429 H/2008 M halaman 12-14.

56. Tuntunan Praktis dalam Berqurban, dimuat di majalah An Nashihah volume 14 Tahun 1429 H/2008 M halaman 27-34.

57. Beberapa Hadits Berkaitan dengan Sepuluh hari Dzulhijjah dan Hari-hari Tasyriq, dimuat di majalah An Nashihah volume 14 Tahun 1429 H/2008 M halaman 35-44.

58. Agar Anda Terhindari dari Musibah, dimuat di majalah An Nashihah volume 14 Tahun 1429 H/2008 M halaman 45-48.


Satu hal yang Aku mau ungkapkan,
Suatu ketika Ustadz Dzulqarnain berjalan menuju meja untuk duduk mengisi ta’lim, bersamaan dengan itu, beliau berjalan semakin dekat sehingga nampak dengan jelas beliau tersenyum kepadaku. Sungguh, inilah akhlak salaf.



Photobucket

Category: | 0 Comments

Pagi itu, sekitar pukul 07.20, Aku tiba di Kampus Hijau (ortom Unismuh) alias SMK Panca Marga. Masih terasa sejuk dan rindang pemandangan yang indah berupa pepohonan dan ruangan yang masih kosong. Kemudian Aku memarkir motor di tempat parkiran yang tidak memiliki penjaga. Terasa begitu cemas setelah manaruh motor di situ. Akan tetapi, keyakinan bahwa Alloh akan senantiasa menjaga benda yang kita miliki selalu tertanam pada diri Aku. Sehingga kecemasan itu melahirkan kekukuhan dan keoptimisan.
Lalu Aku berjalan menuju kelas, menanti pertemuan pertama mata kuliah PPL I atau disebut MKPB IV yang dibawakan oleh seorang dosen senior. Aku menaiki tangga dalam rangka mencari ruangan kuliah baru.
Tiba-tiba belum lama berjalan di tangga, Aku sudah melihat teman-teman berebut masuk ke dalam sebuah ruangan berpintu hijau dan di belakang teman-teman ada seorang yang mengonsumsi baju rapih dan berwarna putih, sisiran rambut yang menawan, rim berwarna hitam, sepatu yang mengilap bagaikan emas murni, dan berwajah sabar. Siapakah itu?
Dia adalah Bapak Drs. Abdurrahman.


Aku teringat dengan kejadian ini, sama dengan adab Malaikat Jibril ketika mengajar Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang Islam. Mari kita simak kisahnya yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab RadhiyAllohu ‘anhu.
“Artinya : Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam pekat rambutnya (rapih), tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, dengan menyandarkan kelututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata :
“Ya Muhammad, beritahulah Aku tentang Islam”,
maka beliau menjawab :
“Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Alloh serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melAkukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah jika kamu mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana.”
Lelaki itu pun berkata :
“Benarlah engkau.”
Kata Umar:
“Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau.”
Lalu ia berkata :
“Beritahulah Aku tentang Iman?”
Beliau menjawab :
“Yaitu : Beriman kepada Alloh, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan hari Akhirat, serta beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk.”
Ia pun berkata :
“Benarlah engkau.”
Kemudian ia berkata :
“Beritahullah Aku tentang Ihsan.”
Beliau menjawab :
“Yaitu : Beribadah kepada Alloh dalam keadaan seakan-akan kamumelihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ia berkata lagi.
“Beritahulah Aku tentang hari Kiamat?”
Beliau menjawab :
“Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya.”
Walhasil ia berkata :
“Beritahulah Aku sebagian dari tanda-tanda Kiamat itu.”
Beliau menjawab :
“Yaitu : Apabila ada hamba sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna melarat lagi, pengembala domba saling membangga-banggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi.”
Kata Umar : Lalu pergilah orang laki-laki itu, semantara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya :
“Hai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?”
Aku menjawab :
“Alloh dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Beliau pun bersabda :
“Dia adalah Jibril, telah datang kepada kalian untuk mengajarkan urusan agama kalian”.
(Hadits Riwayat Muslim dalam Shahihnya, kitab Al-Iman, bab 1, hadits ke 1. Dan diriwayatkan juga hadits dengan lafadz seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke 1.)
Mirip ya dengan aktivitas Beliau dengan pelajaran hadits di atas!
Bapak Drs. Abudurrahman senantiasa disipin waktu, buktinya beliau lebih dahulu masuk ke ruangan ketimbang mahasiswanya yang lain, seperti Aku yang datang terlambat tuh.
Teman-teman kerapkali menyingkat nama beliau dengan Pak Rahman. Akan tetapi, Aku tidak sepakat dan menentang penyebutan ini. Sebab itu tidak sesuai nama asli bapak yang memiliki makna “Hamba Maha Penyayang.” Jadi, jika teman-teman menjuluki bapak dengan nama Pak Rahman, seolah-olah nama bermakna “Maha Penyanyang” berarti kita menandingi nama Alloh. Karena itulah, Aku tidak sependapat!
Kuliah pun berlangsung pada saat itu, Bapak Abdurrahman -dengan A besar- sebagai figur yang sensasional membawakan materi “MKPB IV” yaitu mata kuliah yang cukup sulit dilulusi karena ini bertahap, mulai dari MKPB I, II, III, dan ini yang terakhir. Rata-rata mahasiswa, sukar pada mata pelajaran ini. Bayangkan saja, kita diajar mengajar di depan papan tulis sembari teman-teman menyaksikan dan beliau menilai. Tapi, memberikan dampak tersendirilah bagi kita semua, ada yang tidak senang dengan pelajaran ini dan ada juga kontroversi alias tidak enjoy.
Mungkin saja mereka tidak enjoy karena mereka dipaksa masuk jurusan fisika, atau coba-coba. Karena itulah, sebaiknya teman-teman belajar memotivasi diri dari dalam, berkomitmen dari dalam. Dehgan hal itu, mudah-mudahan menambah semangat dan tidak kendor dalam mengarungi lautan fisika.
Kita lanjut ya ...
Aku dan teman-teman kerapkali menggelari Pak Abdurrahman dengan ikon “professor”, meskipun beliau tidak memiliki ikon itu. Ketika Aku di masjid, bersama Lulusan Hukum Unhan dikatakan bahwa ikon professor bukanlah prestasi akademik, melainkan hanyalah sebuah penghargaan dari sebuah penelitian, mungking bisa dikatakan jurnal.
Akan tetapi, jika ditanyakan kepada Pak Abdurrahman tentang mengapa tidak lanjut ke S2, maka beliau hanya menjawab dengan senyuman manis bahwa yang penting ilmunya lah, kata seorang junior semester II Pend. Fisika.
Aku sangat setuju dengan untaian kata dari dosen “yang tidak pernah mengonsumsi sendal dalam mengajar” ini (sebab sebagaian dosen Aku, ada juga yang ngajar asal-asalan dengan hanya memakai sendal), mengenai ilmu yang berperan dan memiliki kendali dalam menyikapi intelektualitas seseorang. Bukan dari gelar, bukan dari banyaknya S (ngertilah), melainkan dari sisi berbobotnya kepala dengan pengetahuan dan ilmu.

Bapak Abdurrahman pernah bertutur kata bahwa ia dulu ketika masih kuliah, memiliki dosen yang gagah dan high intelektual (cerdas). Makanya tidak naifkan, lahirlah kecondongan yang sama antara dosen dengan murid.
Beliau menambahkan juga bahwa jika seseorang semakin bertambah ilmunya, maka semakin bodohlah ia. Apa ya maksudnya? Bapak Abdurrahma mengatakan kaliamat ini tidak asal bunyi, melainkan dengan penuh interpretasi yang mendalam. Juga bisa diambil kesimpulan bahwa jika ingin cerdas, maka belajar juga kepada guru yang cerdas.
Maksudnya ialah semakin banyak informasi yang diketahui oleh seseorang, maka akan semakin menggunung rasa penasarannya, alias bodoh.
Dosen yang senang ‘bergandengan tangan’ dengan para mahasiswanya ini, memiliki keantusiasan dalam menyebarkan ilmu. Lihatlah ketika jadwal perkuliahan sudah dimulai, maka nampak beliaulah dosen yang paling tepat waktu. Disebabkan waktu itu jangan sampai sia-sia, kata orang:
“Time is KNOWLEDGE”
Good luck Pak!
Photobucket

Category: | 0 Comments

Hewan ini, merupakan simbolitas dari beberapa buku diantaranya buku yang menghujat pemerintahan Indonesia, “Gurita Cikeas”. Buku yang sangat menyedihkan dan isinya hanya sekedar sampah, kenapa? Disebabkan banyaknya hujatan kepada Pemerintahan kita, yaitu Bapak SBY.


Sementara barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak (baik dari kritikan buku, Koran, dll) kepada penguasanya (SBY) maka matinya mati jahiliyyah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Alloh seperti keadaan orang-orang jahiliyyah.(Lihat ucapan Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim)
Tapi, dalam pembahasan kita kali ini kita tidak membahas buku tersebut. Melainkan hanya berkisar “SI Gurita Jerman.” Siapakah dia?
Gurita, sebuah hewan moluska dari kelas Cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala), ordo Octopoda dengan terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki) yang sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus.
Gurita memiliki 8 lengan (bukan tentakel) dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa.
Dia memiliki banyak kekurangan, diantaranya dalam keadaan stress akan memakan lengan-lengannya sendiri.
Paul “Si Gurita” telah menjadi artis hot yang paling populer di Oberhausen, kota, yang menurut Wikipedia, berpenduduk 214.000 jiwa dan luasnya 77 kilometer persegi.
Konon kabarnya, dia memberikan kontribusi yang besar dalam memprediksi pertandingan-pertandingan di piala dunia 2010. Hasil prediksinya sangat akurat, bahkan 100%. Betulkan demikian?
Ternyata tidak, ternyata ketika prediksi PIALA EROPA, dia memiliki kesalahan, ketika memprediksi pertandingan antara Jerman vs Spanyol. Ini membuktikan bahwa hewan itu bukan TUHAN. Tidak dapat mengetahui perkara goib. Tidak ada yang mengetahui melainkan Alloh subhanahu wa ta’ala.
Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu” (QS. Al Jin : 26)
Kali ini Paul memprediksi final World Cup 2010 atas kemenangan Spanyol. Perlu diketahui tulisan ini bukan berarti kami mendukung Belanda, tapi disebabkan banyaknya kerusakan yang ditimbulkan akibat prediksinya, yaitu merusak aqidah.
Kami hanya menyukai Aljazair, tapi Aljazair juga membawa dampak buruk, yaitu mereka memperlihatkan AURATnya.
Berita Paul Si Gurita tentu berita dari Syaiton, maka tidak boleh dipercaya. Karena dampaknya besar.
Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan meminta untuk mengabarkan sesuatu, kemudian ia membenarkan perkataannya maka tidak diterima shalatnya 40 hari”[ HR. Muslim [2230] tanpa lafadz “..kemudian ia membenarkan perkataannya..” Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala menjelaskan makna “tidak diterima shalatnya” dengan “tidak diberi pahala shalatnya”. Sehingga shalat tetap wajib bagi orang tersebut. Wallohu a’lam. (lihat Al Mulakhash fi Syarh Kitab At Tauhid hal. 213 cet. Darul Ashimah)]
Hukum Mendatangi Si Paul
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala berkata barangsiapa yang bertanya kepada tukang ramal (Si Paul), maka shalatnya tidak akan diterima 40 hari.
Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Alloh” (QS. An Naml : 65).
[Al Qoulul Mufid Syarh Kitab At Tauhid, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, I/332, cet. Darul Aqidah]
Bukan Paul Si Gurita yang Mengetahui, Tapi Hanya Alloh yang Mengetahui Perkara Ghaib
Alloh Ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu” (QS. Al Jin : 26)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rahimahullahu ta’ala menjelaskan, “Sesungguhnya hanya Alloh Ta’ala saja yang mengetahui perkara ghaib, maka barangsiapa yang mengaku mengetahui perkara ghaib maka ia telah menjadi sekutu bagi Alloh, baik berupa perdukunan, ramalan, dan sejenisnya. Atau barangsiapa yang membenarkan perkataan tersebut maka ia telah menjadikan sekutu bagi Alloh dalam kekhususan-Nya, dan ia telah mendustakan Alloh dan Rasul-Nya.[ Al Qoulus Sadiid fi Maqashid At Tauhid hal. 80, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy, cet. Darul Aqidah]
Nasehat Bagi Penggemar Paul “Si Gurita”
Ketahuilah wahai saudaraku bahwa mempercayai hal ini merupakan wasilah kekafiran. Dan kekafiran adalah dosa yang Alloh tidak ampuni karena itu adalah sinonim dari SYIRIK dan Alloh ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia berkenan mengampuni dosa lain di bawah tingkatan syirik bagi orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. an-Nisaa’ : 116).
Tentu saja hal ini menunjukkan kepada kita bahwa praktik syrik atas prediksi hewan atau dukun merupakan penyakit masyarakat yang sangat ganas dan mematikan. Gara-gara ulah mereka aqidah masyarakat menjadi rusak, tatanan agama menjadi tidak lagi dihiraukan, muncul permusuhan, pengambilan harta tanpa hak, dan pertumpahan darah di atas muka bumi. Lebih parah lagi jika orang-orang itu -dukun/paranormal- telah dilabeli dengan gelar kyai atau pakar pengobatan alternatif. Pada hakikatnya ini adalah penyesatan yang dipoles dengan kata-kata yang indah.
Photobucket

Category: | 0 Comments