Subscribe RSS


Suatu hari ada
seorang ibu yang datang pada saya mengadukan perihal anaknya yang sudah berusia
14 tahun. Katanya anak ini sangat tidak mandiri, segalanya harus serba
disiapkan, segalanya harus serba dibantu, kemana-mana harus selalu diantar dan
ditemani....Saya jadi bingung nanti besarnya bagaimana anak saya ini...?



Begitulah banyak sekali orang tua yang mengeluhkan anaknya yang tidak mandiri.
Sebenarnya siapakah yang menciptakan anak jadi tidak mandiri. Nenny Deborah
salah satu tim yang ada di Nanny 911 mengatakan bahwa prilaku bermasalah pada
anak bukanlah bawaan lahir melainkan bentukan dari orang tua.



Apa benar ucapan Nanny Deb ini...? mari kita telusuri bersama....



Pada saat seorang bayi dilahirkan ia hanya bisa terlentang, namun seiring
pertumbuhannya, bayi tersebut pada akhirnya bisa tengkurap. Siapa yang
mengajarinya....? apakah ia perlu bantuan untuk melakukan hal itu...., jelas
tidak, apa buktinya ya, kita terbiasa mendengar ucapan seorang ibu yang melihat
bayinya tengkurap berkata seperti ini, eh...anakku sekarang sudah bisa
tengkurap. Lalu dengan bertambahnya usia, sang bayi mulai mampu merangkak,
merambat dan akhirnya berjalan....kembali lagi orang tua akan berucap
eh...anakku sekarang sudah bisa berjalan ya....Luar Biasa...! kembali lagi
apakah si anak perlu bantuan/pelatihan sampai ia bisa berjalan...? Jelas tidak
! dia berusaha sendiri, jatuh bangun jatuh dan bangun lagi, sampai ia bisa
berdiri dan berjalan sendiri.




Jadi jelas anak kita terlahir dengan kemampuan untuk jadi anak yang mandiri.
Lantas siapa yang telah membuatnya jadi tidak mandiri.



Coba perhatikan ketika anak kita mulai di usia balita, mulailah terjadi proses
intervensi dari orang dewasa terutama orang tuanya yang melatih si anak untuk
jadi TIDAK MANDIRI.



Lihatlah waktu anak kita belajar untuk menyuapkan makanan sendiri, harusnya
masuk ke mulut tapi ternyata harus mampir dulu ke pipi, kemudian tumpah ke sana
sini, apa yang kita lakukan..., apakah kita menyemangati anak kita untuk terus
mencoba hingga berhasil mendaratkan sendoknya dimulut atau malah ucapan seperti
ini yang keluar dari kita.... ya...sudah sini mama suapin aja dech, biar gak tumpah-tumpah....akhirnya
kita keterusan menyuapi hingga si anak besar.



Kemudian pada saat si anak berusaha untuk minum dengan gelas, kemudian jatuh
lalu dia ambil lagi, dan tumpah ke sana sini...apa yang kita lakukan, apakah
kita menyemangati anak dengan berkata seperti ini, "tidak apa-apa nak, ayo
coba lagi, hati-hati ya licin ada air di lantai", atau malah kita berucap
seperti ini “ sudah sini airnya biar mama ambilin dan gelasnya mama pegangin,
biar gak tumpah.



Kemudian pada saat si anak bertambah besar, dan berusaha untuk minum dari gelas
air mineral, dia berusaha untuk menusukkan sedotan dan berkali-kali dicoba
namun belum berhasil juga... apa yang kita lakukan? apakah kita memotivasinya
untuk terus melakukan sampai bisa atau “Susah ya..? sini sayang biar mama bantu
ya....”



Yes..! akhirnya andalah yang menusukkan sedotan tsb ke gelas air mineral. Semua
intervensi inilah yang ditangkap anak bahwa ia tidak boleh melakukannya
sendiri(mandiri) melainkan harus selalu dibantu karena kamu tidak mampu melakukannya.




Begitu selanjutnya kemudian orang tua meminta pengasuh anak kita untuk menjadi
pelayan bagi mereka, mau makan diambilkan, mau minum diambilkan, pakai sepatu
di pakaikan, pakai baju dipakaikan padahal mereka sudah sampai pada usia yang
mestinya sudah bisa melakukannya sendiri. Menurut anda proses apa ini
namannya...? Pemandirian anak atau pemandulan kemandirian anak...? Jadi
wajarlah jika seorang anak pada akhirnya jadi tidak mandiri. Orang tualah yang
ternyata telah mengajarkannya tanpa sadar.



Perhatikanlah dengan mudahnya kita memberi uang parkir setiap kali mobil kita
berhenti di depan toko. Dan perhatikanlah akibatnya begitu menjamurnya tukan
parkir liar di mana-mana mulai dari remaja pengangguran bahkan sekarang sudah
merambah pada anak-anak. Mereka semua hidupnya tidak mandiri karena kitalah
yang telah mendidiknya tanpa sadar. Terlepas dari itu semua...



Begitulah tradisi kita yang sudah diwariskan secara turun-temurun untuk membuat
segalanya serba mudah bagi anak kita, untuk membuat segalanya serba tersedia,
segalanya diperoleh tanpa usaha, mau pakai ada, mau apa saja tinggal minta.



Tapi aneh bin ajaib kenapa akhirnya kita mengeluh sendiri....mana kala kita
menemukan anak kita begitu tergantung pada orang tuanya. Mengapa anak saya kok
tidak mandiri...?



Oke kalo begitu mulai hari ini ajari mereka untuk ikut terlibat melakukan
prosesnya sebelum bisa melakukan sesuatu. Kalau mau makan harus ambil piring
sendiri, menyendokan nasi sendiri, makan sendiri tanpa disuapi. Mulai diajak
terlibat dalam berbagai aktivitas rumah tangga. Jangan lagi mendapatkan segala
sesuatu dengan mudah melainkan harus melalui usaha. Mau dapat mainan harus
beli, agar bisa beli harus punya uang, untuk bisa punya uang harus menabung dan
bekerja membantu ibu, atau membuat sesuatu yang dijual kepada orang tua.



Bapak dan ibu yang saya cintai, begitulah yang saya pelajari dari teman saya
yang anaknya terlihat begitu mandiri. Dia betul-betul memberikan kesempatan
sejak kecil pada anaknya untuk bisa melakukan dan mencoba sendiri berbagai hal
sampai bisa, tidak perduli rumahnya kotor dan berantakan. Dan saat ini saya
sedang menerapkan model pendidikan yang sama pada anak-anak saya dirumah.




Betul sekali memang tidak mudah...., karena mungkin kita dulupun lebih kurang
di didik dengan pola yang tidak memandirikan kita oleh orang tua kita. Ya
tentunya dengan berbagai alasan seperti, kasihan masih kecil, tega bener
sich sama anak kok kecil-kecil sudah di minta cuci mobil papa untuk bisa dapat
uang
, dan beribu alasan lainnya.




Sekali lagi pilihan sepenuhnya ada di tangan kita masing-masing, tapi
setidaknya kita telah mengetahui sebab dari seorang anak menjadi tidak mandiri.



 



Sumber: Ayah Edy


Photobucket

0 comments to “Mengapa anak saya jadi TIDAK MANDIRI ya..?”

Note: only a member of this blog may post a comment.