Subscribe RSS


Pertanyaan yang menarik untuk kita ajukan kepada kita para orang tua dan pendidik. Mengapa ? karena selama ini kita orang tua dan guru tidak pernah merasa gagal mendidik, yang ada selalu anak yang gagal di didik. Begitulah isi salah satu pemaparan dari pemateri seminar tentang Fenomena anak yang gagal belajar.

Saya jadi berpikir-pikir...ia juga ya....., kenapa kita selalu berpikir anak yang gagal belajar...., jangan-jangan apa gak sesungguhnya justru kita guru dan orang tualah yang telah gagal mengajar....?




Lama sekali saya termenung, membolak-balik pertanyaan ini dikepala saya.....? Kalau anak yang gagal belajar....berartikan anak itu diciptakan untuk gagal.... lalu apa iya sang Pencipta Yang Maha Sempurna itu tidak mampu menciptakan semua anak untuk bisa berhasil..., iya juga ya kenapa selama ini kita tidak pernah terpikir pertanyaa itu ya....?

Padahal saya pernah membaca sebuah buku tentang paradigma ilmuan sejati. dimana di kenal dalam dunia ilmuan bahwa apa bila ada sebuah proses uji coba yang gagal atau hasilnya tidak sesuai yang dirapkan maka dia tidak pernah mengatakan materinya gagal, melainkan prosenyalah yang gagal. Untuk itu biasanya para ilmuan akan modifikasi atau melakukan perbaikan pada prosesnya. Lalu mengapa kita selama ini tidak berpikir seperti itu ya....., padahalkan sekolah itukan tempat untuk mencetak para ilmuwan-ilmuwan masa depan..?

Nah...secara kebetulan Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan sebuah buku hasil kerjasama penelitian tentang otak dari para Ahli Psikologi dan Neurosaintist.

Disana jelas sekali di gambarkan betapa hebatnya otak setiap anak.. Bahkan Komputer super canggih yang pernah di ciptakan manusiapun tidak pernah ada yang mampu menandingi komputer alam yaitu otak anak kita. Dan di sana juga di jelaskan bahwa kemampuan itu tidak hanya di miliki oleh sebagian anak saja, melainkan oleh semua anak.

Tapi mengapa ternyata pada akhirnya seolah-olah kemampuan super itu hanya di miliki oleh sebaian anak saja...., maka sang sarjana psikologi sosial menjelaskan bahwa berdasarkan penelitiannya menjukkan bahwa pada dasarnya kemampuan setiap otak anak hampir sama canggihnya; hanya itu semua masih bersifat kemampuan dasar yang siap di kembangkan (Potential Dorman Gen). Nah yang justru menjadi kunci utama adalah siapa yang mengembangkannya, dan apakah ia tahu persis bagaimana mengembangkan kemampuan otak masin-masing anak; yang meskipun memiliki kemampuan sama hebatnya namun memiliki karakteristik dan pusat-pusat keunggulan yang berbeda-beda.

Ya Tuhan.... jantung saya jadi berdebar-debar mendengarkan penjelasan ini.... jadi ternyata semua anak itu mestinya bisa menjadi anak yang luar biasa bila si pendidiknya mengetahui persis bagaimana cara melakukannya.... Sungguh penjelasan tersebut telah membuka mata saya bahwa anak-anak kita itu harusnya tidak ada yang gagal, yang ada adalah para pendidik yang gagal mengembangkan kemampuannya.

Ternyata jika kita kembali ke sejarah, kita bisa melihat betapa anak-anak jenius yang pernah tercata oleh sejarah itu selalu memiliki orang-orang yang hebat di belakangnya sebagai sang pendidik sejati.

Sebut saja Thomas Edison yang memiliki Nancy Alliot, ibu sekaligus motivator bagi anaknya yang berhasil menjadikan Edison dari anak yang gagal di sekolah dasar menjadi Ilmuan Terkemuka dunia dengan lebih dari 1000 temuan yang dipatenkan.

Begitu juga dengan Dr. Arun Gandhi yang miliki ayah dan kakeknya Mahatma Gandhi sebagai pendidik sejatinya, dan Plato memiliki Socrates dibelakangnya.

Mari bersama-sama kita jawab melalui hati nurani kita yang terdalam.....sesungguhnya anak yang gagal belajar atau kita yang gagal mengajar...?

Semoga kita masih bisa berfikir dengan logika dan hati nurani kita.

Photobucket

0 comments to “Sesungguhnya "Anak" yang Gagal Belajar atau "Kita" yang Gagal Mengajar..?”

Note: only a member of this blog may post a comment.