Subscribe RSS

Suatu hari ada
seorang ibu yang membawa anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun untuk
menghadiri sebuah acara temannya. Acaranya berlangsung sangat meriah, namun si
orang tua ini, ibunya terus saja mengkomplain anaknya yang katanya tidak berani
tampil dan pemalu. Yah begitulah, setiap diadakan perlombaan selalu dia
mendorong-dorong anaknya untuk ikutan, namun si anak tetap saja enggan untuk
ikut. Kalau pun terpaksa ikut, anak ini selalu kalah atau berada urutan
terakhir pada perlombaan. Si ibu yang penuh ambisi ini sepertinya merasa
kecewan dengan tingkah laku anaknya yang demikian.




Namun ia menceritakan betapa hebatnya ia waktu masih
seusia anaknya dulu. Ibunya bercerita bahwa dulu dirinya selalu berani
mengikuti lomba, ia juga selalu menang dalam setiap perlombaan. Dia terus saja
bercerita, dan terus membandingkan kehebatan dirinya dengan anaknya. Sampai
akhirnya acarapun selesai, pada saat hendak pulang tiba-tiba si tuan rumah
menghampirinya, “Hallo sayang,” katanya. “Makasih ya telah hadir di acara kami!
Oh iya, sebelum kamu pulang, kamu boleh ambil permen, ini ambil, silahkan
ambil, iya ambillah dengan kedua tanganmu agar kamu dapat banyak”Kata si tuan
rumah tadi. Namun si anak malah diam saja dan menatap permen itu dan kembali
lagi si orangtuanya mulai gusar dan minta anaknya untuk mengambil permen dengan
kedua tangannya. Namun, kembali si anak tetap diam sambil menatap permen-permen
itu, sampai akhirnya si tuan rumah mengambilkan permen dengan tangannya
sendiri. Sesampainya di rumah orang tua kecewa dan mengeluh, sambil mengomel
dia berkata begini, “Dasar kamu ini ya, Cuma diminta ambil permen begitu aja
kok tidak berani sih, mau jadi apa nanti?”



Di luar dugaan
tiba-tiba anaknya menjawab begini, “Mama aku bukannya tidak berani mengambil
permen, tapi aku ingin mendapatkan permennya lebih banyak, tanganku kan kecil,
sedangkan tangan tante tadi jauh lebih besar. Jadi aku tunggu saja biar dia
mengambilkan untukku.



Para orang tua dan guru yang berbahagia, begitulah kita
para orang tua sering kali menghakimi anak kita dengan asumsi dan
persepsi-persepsi kita yang sering kali sangat dangkal. Padahal dibalik semua
perilaku anak kita sering kali terdapat alasan-alasan yang luar biasa hebat dan
kreatifnya yang terkadang membuat kita berdecak kagum, kok bisa ya anak sekecil
ini berfikir sekritis itu. Mari, mari kita berhenti menghakimi anak-anak kita,
melainkan tanyalah mengapa mereka melakukan ini dan tidak mau melakukan itu.
Maka kelak Anda akan dibuatnya terkagum-kagum dengan jawaban si kecil kita.

Photobucket

0 comments to “Si Anak yang Cerdas”

Note: only a member of this blog may post a comment.