Subscribe RSS


“Dalam setiap perjumpaan, pasti ada perpisahan.”

Sebuah ungkapan mengharukan bagi manusia pada saat berhadapan suatu kondisi tertentu.

Baru-baru ini kita mendengarkan berita heboh. Memberikan dampak signifikan bagi masyarakat Indonesia yang notabene pecinta “sosialisasi.” Sebutlah kabar penutupan layanan Facebook pada tanggal 15 Maret 2011. Memang sejak munculnya layanan megah ini di dunia maya, semua perhatian terfokus padanya.

Facebook membuktikan jarak bumi makin bisa dilipat. Komunikasi semakin dekat. Oleh karena itu, mulai dari kalangan anak usia sekolah, mahasiswa, bahkan yang sudah berkeluarga mengaksesnya. Tetapi, kesemua khayalak itu memiliki pandangan lain dalam menyiasati situs ini. Ada menggunakannya sebatas mengisi waktu luang, ada juga untuk ajang bisnis, hendak mengikuti kuis, dan macam-macam tendensi mereka.

Sehingga siapa sangka, pada bulan September 2007 situs ini menjaring 50 juta user dari berbagai dunia. Dan dalam setiap pekan bertambah 1 juta pengguna, atau rincinya 200 ribu per hari.

Facebook lahir di bumi berkat “keringat” mantan mahasiswa Harvard bernama Mark Zuckerberg. Awalnya peredaran layanan ini hanya independen. Artinya peruntukan untuk mahasiswa Harvard saja. Akan tetapi setelah 2 pekan, terjadi peningkatan user di Boston. Maka mahasiswa beragama Yahudi ini kemudian dibantu oleh 2 koleganya bernama Dustin Moskowitz dan Chris Hughes untuk mensosialisasikan situs ini. Usaha merekapun semerbak bunga, dalam tempo 4 bulan semenjak pendiriannya sudah merambat ke 30 universitas di dunia.

Untuk Negara Indonesia, pengunjung situs Facebook pada tanggal 6 Maret 2009 lebih dari 1,4 juta orang. Gimana dengan sekarang? Apakah bertambah atau berkurang? Kita pasti sudah mengetahuinya.

Sehingga berkat prestasinya itu, maka mahasiswa berumur 26 tahun ini pun dilibatkan dalam majalah Forbes sebagai milyarder termuda. Dan berhasil mendapatkan penghargaan Young Global Leaders.

Prestasi menakjubkan. Akan tetapi bagaiman nasib anak Edward dan Karen Zuckerberg ini? Yang akan menutup sendiri “situs megahnya” disebabkan situs ini membuatnya sters?

“….Facebook telah di luar kendali dan stres pada pengelolaan perusahaan ini telah mengganggu hidupku. Aku harus mengakhiri semua kegilaan ini!” kata Mark Zuckerberg dalam konferensi pers di luar kantornya di Palo Alto.

Vice President of Technical Affairs Facebook sendiri menajamkan berita ini bahwa 15 Maret nanti (2011) semua pengguna FB tidak akan dapat lagi mengakses akun facebooknya. Bahkan para petinggi di Facebook menyarankan para pengguna untuk mulai menyelamatkan dokumen atau foto pribadi yang terpasang.

Menyangkut berita tersebut, muncul beragam sikap di kalangan masyarakat,

Ada yang menyesalkan bahkan marah karena akun facebook pribadinya akan di tutup. Mereka berpendapat bahwa Facebook telah menjadi salah satu bagian dalam hidupnya selama ini. Banyak sekali kegiatan maupun usaha bisnis online yang digerakkan via Facebook. Adapula menyesalkannya karena ia sudah memiliki ribuan bahkan jutaan teman yang harus putus komunikasi.

Namun ada juga masyarakat yang gembira dengan rencana penutupan Facebook. Mereka bersorak-ria adanya info itu. Mereka gembira lantaran anaknya akan terbebas dari aktifitas berkelanjutan di situs jaring pertemanan tersebut. Mereka yang notabene orang tua menyambut senang berita tersebut.

Belum lagi Facebook dapat menyebabkan PHK bagi karyawan, sebagai contoh seorang perempuan di Swiss yang dilansir BBC Minggu 26 April 2009 keluar dari pekerjaannya Nationale Suisse sebab mengalami migran akibat mengakses Facebook dari iPhone. Sehingga produktivitas dan kinerjanya menurun.

Selanjutnya dapat membawa kerugian bagi mahasiswa. Penelitian baru bahwa IPK mahasiswa menurun yang menjadi anggota Facebook menurun ketimbang yang tidak mengakses Facebook. Penelitian ini dipresentasekan oleh kandidat program doctoral dari Ohio State University, Aryn Karpinski dan rekannya Adam Duberstein dari Ohio Dominican University. Beliau setelah mengadakan survey pada 219 mahasiswa mahasiswa program sarjana dan diploma, ternyata mengambil benang merah IPK bagi mahasiswa yang tidak mengakses Facebook antara 3,5-4,0 sementara pengakses terjadi penurunan sekitar 3,0-3,5.

Terdapat pula kerugian bagi militer. Sebut saja militer Inggris baru-baru saja mengusulkan agar terdapat pelarangan tegas untuk tidak mengakses Facebook. Hal ini merusak keamanan Negara dan mengobrak-abrik stabilitas Negara. Karen semua anggota militer tersebut dapat membuka informasi rahasia negaranya.

Situs jejaringan sosial ini pula, membawa kerugian bagi kekokahan rumah tangga. Fenomena facebooking telah tercatat dalam sejarah memberikan kontribusi terjadinya kasus-kasus perselingkuhan. Apakah suami menjadi “buaya darat” atau istri menyamar “buaya laut.”

Ditambahkan lagi Mark Zuckerberg sendiri menyatakan bahwa dirinya tidak peduli dengan uang (untuk membubarkan situs ini-pen.) dan lebih baik memilih kehidupannya yang dahulu kembali.

Inilah yang menjadi alasan masyarakat dunia yang sangat senang jika Facebook akan konsisten ditutup.

Tetapi, respon tetap kembali kepada masyarakat. Semua memiliki pandangan berbeda. Apakah mereka sedih dengan kabar penutupan layanan sosial ini? Atau malah sebaliknya, riang-gembira menyambut “closing web” ini.

Lalu bagaimana dengan kita rakyat Indonesia. Apakah Anda “welcome” terhadap rencana Facebook di tutup 15 Maret nanti ?

Category: | 0 Comments

0 comments to “FACEBOOK DITUTUP, SEDIH ATAU GEMBIRA?”

Note: only a member of this blog may post a comment.