Subscribe RSS

Berikut adalah ulasan Ayah Edy terhadap pertanyaan orang tua mengenai mengali kecerdasan anaknya, yang di cuplik dari Rubrik Ayah Edy Menjawab pada Majalah Mother & Baby.


Mari kita simak bersama,

Nama saya Mia, baru memiliki anak pertama, laki-laki Aldo berusia 22 bulan. Saya tertarik dengan uraian Ayah pada Edisi bulan lalu mengenai menggali kecerdasan anak. Apakah saya sudah bisa melakukannya pada anak saya dan bagaimana caranya..?

Bu Mia yang baik, memang benar bahwa kita bisa menggali kecerdasan anak sejak usia anak dini. Adapun rentang penggalian itu bisa dimulai sejak usia 1 tahun dan paling lambat usia 12 tahun. Semakin awal kita mengetahuinya akan semakin baik bagi kita untuk mengambil keputusan dan mengarahkan anak kita pada bidang/profesi yang kelak akan membawa sukses bagi dirinya.

Namun demikian sebelum saya menjelaskan caranya; kita perlu pahami bersama bahwa yang dimaksud dengan “Kecerdasan” dalam konteks Multiple Intelligence adalah bukan kemampuan yang bagus hanya pada bidang-bidang yang bersifat Akademis saja, melainkan pada semua bidang kehidupan. Karena pada dasarnya setiap anak di rancang oleh Robbnya untuk mengisi berbagai bidang kehidupan yang berbeda dan spesifik yang menjadi keunggulannya, tidak terbatas hanya pada bidang/profesi yang sebagian besar kita kenal selama ini, yakni Dokter, Insinyur, Pilot, Presiden , dan sebagainya, melainkan jauh lebih luas lagi. Itulah sebabnya mengapa dalam satu keluarga kita memiliki anak yang cendrung berbeda-beda dalam banyak hal, termasuk bidang-bidang yang diminatinya.

Pada saat konsep ini mulai di perkenalkan di Amerika pada tahun 90-an, maka efeknya telah di rasakan bahwa banyak anak-anak di negara maju yang pada akhirnya memilih bidang yang sangat bervariasi dan spesifik, yang menjadi keunggulannya, sehingga mereka menjadi orang yang sangat ahli dan bisa berkiprah di negara mana saja, karena kualifikasinya sudah berada pada standar Internasional. Lihatlah betapa orang-orang di negara maju begitu unggul mulai dari bidang oleh raga, sains, sosial, ekonomi, seni dan sebagainya. Sementara tanpa kosep Multiple Intelligence biasanya kita para orang tua cenderung mengarahkan anak kita pada bidang-bidang tertentu yang kita anggap bisa memberi kecukupan finansial.

Konsep Multiple Intelligence memandang bahwa Kecukupan Financial bukanlah Tujuan, melainkan Efek dari profesi yang tepat dari keahlian terbaik yang dimiliki seorang anak. Siapapun dengan profesi apapun apa bila dia menjadi orang yang terbaik di bidangnya maka secara otomatis akan mendapatkan efek finansial yang sangat baik bagi diri dan profesinya. Jadi konsepsi Multiple Intelligence adalah membantu anak menemukan bidang yang sangat diminatinya serta mendukungnya untuk menjadi yang terbaik pada bidang tersebut.

Oleh karena itu proses penggalian akan dimulai dengan mengetahui bidang-bidang apa yang menjadi minat terbesar anak kita. Memang benar dalam usia dini seorang anak cenderung berpindah dan berganti-ganti minat, namun jika kita sabar dan telaten untuk mencatat dan membimbingnya maka lambat laun akan kita temukan minat yang benar-benar konsisten yang ditunjukan anak kita.

Penemuan Minat terbesar ini merupakan titik kunci dan akan kita uji dengan bakat yang dimikinya, artinya apabila anak kita meminati suatu bidang, apakah ia juga cepat sekali menguasai bidang yang diminatinya tersebut. Jika kedua hal tersebut saling melengkapi, maka itulah yang dimaksud sebagai potensi dasar anak yang siap di kembangkan untuk menjadi profesinya kelak. Baru setelah itu orang tua bisa menentukan langkah strategis, jalur pendidikan apakah yang paling cocok ditempuh untuk menjadikan anaknya yang terbaik dibidang tersebut.

Proses pencarian ini akan sangat berbeda antara satu anak dengan lainnya, bisa memakan waktu mulai 1 tahun hingga 12 tahun. Tergantung pada banyaknya Stimulasi yang diberikan orang tuanya. Tapi jika kita sudah menemukannya, maka segeralah kita memutuskan untuk mengambil jalur pendidikan yang tepat.

Demikian juga yang terjadi pada Maria Sharapova, petenis puteri dunia. Maria yang pada waktu itu masih berusia 6 tahun dan tinggal di Rusia, tanpa sengaja suatu ketika Martina Navratilova (mantan petenis dunia) berkunjung ke sekolahnya, melihat bakat yang luar biasa pada anak ini ketika ia bersekolah dasar. Kemudian Martina menawarkan orang tuanya untuk di ijinkan membawa Maria Sharapova melanjutkan sekolahnya di sekolah Tenis Bollitary di Amerika Serikat. Singgkat cerita Maria Sharapova bersekolah di AS, dan pada usia 15 tahun Maria Sharapova sudah menjadi juara Tennis Japan Open dan pada usia 17 tahun berhasil menjadi juara Tennis Wimbledon.

Ini adalah sebagian kecil dari contoh aplikasi konsep penggalian “Kecerdasan” anak dengan berbasiskan Multiple Intelligence. Mungkin bagi kita para orang tua Indonesia masih terasa asing dengan konsep ini, akan tetapi di belahan dunia lain dan khususnya di negara-negara maju, para orang tua disana mulai mengarahkan masa depan anaknya dengan menggunakan pola dan konsep ini. Dan yang sangat menarik adalah, pada saat saya berbicara pada salah satu sekolah Singapore yang berada di Indonesia, merekapun mengatakan mulai menerapkan konsep Multiple Intelligence dalam sistem pendidikannya.

Untuk memetakan potensi unggul anak yakni dengan menggunakan Mapping Multiple Intelligence.

Sumber: Ayah Edy

0 comments to “MEMETAKAN POTENSI UNGGUL ANAK SEJAK DINI, APA BISA..?”

Note: only a member of this blog may post a comment.