Subscribe RSS


Sekolah merupakan lahan pendidikan yang sudah banyak diketahui oleh manusia. Manusi tidak henti-hentinya menyekolahkan ke lembaga pendidikan ini. Banyak orang tua menganggap bahwa disinilah “lahan” keberhasilan bagi anak-anaknya. Apakah betul demikian? Anak-anak akan sukses di persekolahan? Apakah lembaga pendidikan sebagai tempat menggali potensi anak-anak?

Seorang penulis handal dan motivator, Gede Prama mengatakan, “Manusia hidupnya tidak diselamatkan oleh pendidikan, tapi diselamatkan oleh keterampilan. ”

Wow, cukup kontroversial bagi kita dari kutipan di atas. Tapi mari kita lihap sejauh apa interpretasi hal di atas. Pendidikan sekarang ini sebenarnya sudah jauh dari tujuan awalnya, yakni pendidikan adalah menjadikan yang tidak tahu menjadi tahu. Yang semestinya adalahmenjadikan yang tidak mau menjadi mau. Ada beberapa perbedaan dari hal itu. Yang pertama, adalah sasarannya adalah ilmu. Sementara yang kedua adalah ”moral dan karakter”. Karena itulah sebenarnya maksud dari Gede Prama dari kutipan diatas adalah, pendidikan sebenarnya tidak menciptakan hanya pada jalur ilmu, akan tetapi yang dibentuk semestinya adalah “karakter.”

Sebagaimana jauh-jauh hari ditekankan oleh “Bapak” Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantoro, bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya karakter. Juga ditegaskan dalam Undang-undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan tegas juga menggariskan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa...”.Namun, apa yang terjadi selama ini? Pendidikan hanya sebatas hapalan belaka, ketika anak-anak ditanya “mengapa demikian”? Mereka hanya menjawab, “Begitu pula dikatakan buku!” Hal ini disebabkan oleh “mind set” kita tidak pernah berubah. Kita hanya larut dalam gelombang “pendidikan klasik” yang tidak sesuai dengan kaidah sebenarnya. Sehingga dampak tragis dari hal ini adalah siswa tidak lagi diajar untuk berkarakter, jadinya adalah siswa tidak memiliki sopan santun kepada gurunya! Memberontak kepada guru! Ilmu “padi” tidak berlaku lagi, yang katanya semkin berilmu semakin merunduk! Sungguh sangat tragis.

Mari kita simak bagaimana sebenarnya pendidika di luar negeri. Salah satu contoh adalah Negara Australia. Guru-guru Australia jauh lebih khawatir jika anak-anak murid mereka tidak menyebrang jalan dengan benar, mengelola sampah dengan tidak baik, berbicara dengan tidak santun, tidak berempati, tidak peduli terhadap teman dan lingkungan serta tidak berpikir kritis terhadap hal-hal yang merusak/menggangu, ketimbang jika murid mereka tidak menguasai matematika dan pelajaran Akademis lainnya.

Karena mereka mengatakan bahwa kita hanya perlu waktu 3 bulan untuk melatih seorang anak bisa metematika, namun diperlukan waktu lebih dari 15 tahun untuk bisa membuat seorang anak mampu berempati, peduli teman dan lingkungan serta memiliki karakter yang mulia untuk bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Dan ternyata waktu mendidik Karakter itu tidak bisa dilakukan kapan saja, melainkan memiliki rentang waktu yang sangat terbatas sekali yakni sejak mereka Balita hingga Remaja. Sementara kita bisa mengajarkan materi akademis kapan saja diperlukan tanpa ada batas waktunya.

Jadi, wajarlah jika mereka lebih menaruh perhatian pada pembentukan karakter anak ketimbang kemampuan akademis.

Karena itulah, perlu kiranya adanya semacam evaluasi bagi dunia pendidikan kita, yaitu “pencinptaan karakter.” Kalau kita bisa mendorong ke arah karakter ini, maka kesuksesan akan segera datang.

Jelas sekali perkataan seorang nomor 1 di dunia, Bill Gates mengatakan bahwa, “Sebenarnya yang dibutuhkan untuk sukses diperlukan integrity (akhlak/karakter).”

Kita semua yakin, bahwa ketika dunia pendidikan saat ini sudah “diamandemenkan”, maka tidak ada lagi pencitraan negatif terhadap generasi kita. Mari kita bersama-sama membentuk itu, kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi!

0 comments to “SIAPA BILANG MANUSIA SUKSES KARENA PENDIDIKAN?”

Note: only a member of this blog may post a comment.